Andaikan Nama Bisa Diubah-ubah Setiap Waktu

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Ekonomi
dipublikasikan 10 Februari 2016
Andaikan Nama Bisa Diubah-ubah Setiap Waktu

Ekonomi ternyata lebih luas dari apa yang dipelajari di bangku sekolah. lebih luas dari sekedar jual-beli, dan lebih besar dari sekedar uang. uang sendiri hanyalah alat bantu dalam kegiatan ekonomi. Tidak lebih dari itu. Sementara ekonomi itu sendiri, cenderung merupakan soal kelangkaan (dan nilai). itulah yang membuat dunia ini menjadi riuh bergemuruh. karena masalah kelangkaan itu. dan oleh sebab perkara ini, dunia jadi ramai dan rame. selagi masih ada kelangkaan, ketakutan itu niscaya. orang berusaha untuk menghindari atau mencukupi hal-hal yang langka ini dalam hidupnya, yaitu dengan kegiatan ekonomi.

Di buku Freakonomics, atau juga di Drunk Tank Pink misalnya, kita bisa mengetahui bahwa ekonomi bahkan bisa hingga urusan soal nama anak yang sedang beken. Aspek nama anak favorit yang selalu berubah-ubah sepanjang waktu adalah aspek ?nilai? dari kegiatan dan cara berpikir ekonomis. Disebut aspek nilai karena apa yang dianggap penting dan berkesan pada suatu waktu tertentu, sehingga orang tua memilih nama itu dibanding nama lain.

Karena orang tua (normalnya) hanya sekali memberi nama anaknya, maka pilihan itu menjadi penting. Beda kalau nama bisa kita ganti tiap waktu. Karena proses pemberian nama cuma sekali, maka ada aspek kelangkaan. sehingga nama yang dipilih menjadi ?benda ekonomi?. Ada faktor pilihan. Disebut langka karena untuk setiap nama ?Ujang? (misalnya) yang dipilih oleh orang tua bagi anaknya, ada jutaan nama lain yang terpaksa tidak diambil.

Lalu karena nilai tidak berdiri sendiri, melainkan ada faktor lingkungan, maka nama yang dipilih juga sangat mempertimbangkan hal itu. Itu sebabnya di era 1970-an misalnya, banyak anak laki-laki Indonesia diberi nama Rudi. Karena ada hal penting dan menarik di masa itu. Sehingga, nama itu juga mampu untuk menyampaikan banyak sekali informasi yang ironisnya, justeru mudah untuk di lupakan bahwa nama itu tidak benar-benar mempunyai makna yang alamiah, seperti, katakanlah nama untuk bilangan.

Apa nama yang dipilih orang tua untuk sesuatu yang akan dipakai seumur hidup oleh anaknya, memiliki aspek ekonomi, yaitu pilihan. Bagi para ekonom, soal nama itu jadi menarik, padahal tak melibatkan uang sama sekali. Karena fokusnya nama sebagai ?benda ekonomi?. Ada kegiatan pemberian nilai pada proses kreatif. Memilih ini ketimbang itu. Atas alasan ini bukan itu. Semua merujuk pada ?benda ekonomi?.

Nama itu mempunyai kekuatan. kemudian, hanya ketika mereka di satukan dengan yang lain, menjadi konsep yang lebih bermakna. Para orang tua dari beberapa kultur memasukan ide ini ketika menamai anaknya. Menurut proverb dari nigeria, dikatakan bahwa, ?When a person is given a name, his gods accept it?, (Ketika seseorang diberi nama, maka Tuhannya telah menerimanya), yang menjelaskan mengapa sangat melelahkan sekali bagi orang tua yang suatu waktu menamai anak mereka dengan Dumaka (secara literal), yang berarti ? Tolong aku dengan tangan? atau Obiageli (?seseorang yang datang untuk makan?).

Kebanyakan Orang tribes (The Mossi tribespeople) dari Burkina Faso bahkan mengambil langkah yang jauh lebih ekstrem dari kasus nominative determinism, yaitu dengan memberikan nama yang tidak wajar (abnormal) untuk anak-anaknya karena menawarkan hal yang sangat menyedihkan untuk berdamai dengan nasib. Orang tua yang telah kehilangan lebih dari satu anak (karena kasus laju kematian bayi sangat tinggi) jadi tau nama apa yang harus diberikan kepada anak selanjutnya semisal Kida (?Dia akan mati?), Kunedi (?kematian sesuatu?), atau Jinaku (?Lahir untuk mati?).

Ketika orang tua menamai anaknya, mereka juga dihadapkan dengan beberapa pilihan yang berimplikasi : yang sederhana, halus, nama yang serupa, atau yang kompleks tapi merupakan nama yang unik. dan pilihan-pilihan itu tidak mudah, karena kebijaksanaan adat setempatnya (tradisi atau budaya) merupakan pendekatan lainnya.? Ada dugaan, bahwa pada beberapa era dan kebudayaan nama anak bisa dibuat asal-asalan, karena tingkat kematian balita tinggi. Jadi ketimbang harapan sedemikian tinggi dan punya nama dengan pilihan terbaik, sementara anaknya berumur pendek, maka akhirnya orang tua memilih nama yang ?generik? dan biasa.

Menurut Bang Hotradero, Hal ini jadi makin seru saat, seperti misalnya di Perancis dulu, dilarang untuk menamai anak dengan nama ?Nutella?. Padahal nama itu sedang ngetren. karena soal nama di Prancis ini, ada aspek sejarah sisa masa Revolusi Prancis yang anti bangsawan. Di Prancis orang tua hanya boleh memberikan nama untuk anaknya dengan memilih dari daftar. karena bila ingin memberi nama anak, orang tua di Prancis hanya boleh memilih dari persediaan nama yang dirilis oleh Pemerintah Prancis. kasus serupa terjadi di jepang, di pulau Shiraishi, 20% namanya Amano meskipun ga ada hubungan darah, karena dulu nama harus dibeli dan kebetulan nama Amano itu gratis.

  • view 164