Angkot yang Kusayang

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Februari 2016
Angkot yang Kusayang

Belakangan, saya sebagai penikmat angkot (?) merasa risih atas permasalahan ini. selain karena urusan ini tidak diatur oleh SK walikota atau pemerintah, urusan ini pun kadang menyiksa pengguna lain dan bisa mengurangi omset para supir angkot.

Permasalahan ini pun sedianya merupakan suatu hal yang wajar tapi dianggap tidak wajar, walaupun sebenarnya wajar-wajar sih kalo mau dianggap wajar, tapi saya tidak menganggapnya wajar (?). Ya begitulah. intinya berat badan penumpang seharusnya berbanding lurus dengan harga yang mereka keluarkan untuk setiap perjalanan dengan menyesuiakan pada jarak tempuhnya (loh?). Euu, .. intro-nya berbelit-belit ya? Haha.

Urusannya sih seperti ini, jadi dengan kursi yang tersedia (supply) di angkot, itu ada sekira cukup untuk menampung 11 orang penumpang, 4 disisi sebelah kiri, 6 disebelah kanan dan 1 di pinggir depan (?), plus 2 orang yang mendampingi supir, jadi total semuanya ada 13 orang. tetapi, asumsi ?penuh? dengan muatan seperti itu, hanya berlaku untuk orang-orang yang tidak kelebihan berat badan, alias berbadan normal (seperti saya? Hmm, ..) dan memenuhi berat badan ideal. sementara bila ada seseorang (biasanya ibu-ibu) yang memiliki kelebihan deposit berat badan (demand), maka asumsi ?penuh?nya tadi jadi kacau. yang harusnya cukup untuk 11 penumpang di bagian belakang, karena ada orang yang ?super? tersebut (saya tidak berani menyebut abnormal) jadi hanya cukup untuk 10 orang. jadi 1 ibu tersebut menggasak 2 kursi untuk penumpang biasanya.

Dan permasalahan semakin meruncing manakala asumsi ?penuh?nya tadi kukuh dipertahankan oleh supir, sementara penumpang ada yang kelebihan berat badan. walhasil supir terus memasukan para penumpang yang ditemukan di jalanan (rancu ya kata-katanya, hehe) dan bilang dengan seenaknya, "Ayoo bu, masih bisa. itu di kiri baru 3?. karena supir ini beranggapan mau seperti apapun penumpangnya di kiri itu penuhnya harus 4, jadi ketika baru 3 masih ada 1 orang lagi yang harusnya masih bisa ditampung. jadi dalam hal ini supir tidak melihat realitas bagaimana penumpangnya itu sendiri.

Bila harus dimasukkan kedalam hubungan persamaan, maka jadi begini: "Semakin kurus penumpang, semakin banyak orang yang bisa dimasukan kedalam angkot. dan semakin tinggi berat badan penumpang (baca : gemuk), maka semakin sedikit penumpang yang bisa ditampung di angkot".

Dan dari persamaan hubungan (yang gak ilimiah) tersebut, perlu ada sebuah solusi yang bisa menjembatani antara omset supir dan kebutuhan penumpang. solusi yang real sih dengan kompensasi dari penumpang gemuk agar ketika turun dari angkot harus membayar 2 kali lipat (disesuaikan dengan kursi yang didudukinya) sebagai ganti kompensasi atas kursi yang ia gunakan duduk yang seharusnya untuk 2 orang penumpang.

  • view 129