Tinjauan tentang wacana harga rokok yg remeh temeh

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Budaya
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Tinjauan tentang wacana harga rokok yg remeh temeh

Saya percaya bahwa Inspirasi.co memang tempat bersemai dan tumbuh suburnya gagasan, ide atau wacana. Semua hal, mulai dari hal yg remeh temeh hingga yg canggih2 seperti politik, budaya, teknologi, sains dan filsapat telah habis diperbincangkan di forum ini. semua orang dari penjuru kalangan tumplek blek disini. mula dari anak sekolahan, mahasiswa, sastrawan, karyawan, penggangguran hingga siapapun bisa berbicara dan berkomentar. termasuk saya ini yg siapalah. btw, ini intronya kepanjangan ya. Haha. *skip 
 
Sudah beberapa bilangan minggu atau bahkan bulan saya tdk menengok forum ini, dan ada kerinduan tersendiri. khususnya untuk menyapa para fans yg sudah menunggu2 tulisan baru dari saya. Haha. (PLAAAKKK. *Keterlaluan narsisnya). Dan entah ada hujan badai atau apa tiba2 dg modal kuota alakadarnya saya seolah diarahkan oleh the invisible hand utk membuka kembali web ini dan langsung mendapati tema besar2 yg dipajang di headline. Kebetulan saya juga sudah gatal ingin rasanya menulis tentang tema ini. Mungkin inilah yg disebut pucuk dicinta ulam pun tiba. Meski saya gak ngerti2 amat sebenarnya peribahasa itu apa artinya. *gubraaak.
 
Mudah-mudahan belum basi atau belum terlalu lama, yg jelas hingga beberapa hari ini tema pembicaraan di jalanan, di emperan masjid, di angkot hingga di warung2 masih berkutat seputar rencana pemerintah yg mau menaikan harga rokok sebungkus Rp 50.000. masyaAllaah betapa riuh gemuruhnya. Kalo sampai jadi, entah akan seperti apa rusuhnya rakyat Indonesia. Kemungkinannya dua;  bisa pergi demo, bisa mencari akal. Kita tahu, rakyat Indonesia terkenal kreatif dan banyak akal hingga ke status mengakali peraturan dan hukum. 

Setelah saya baca2 dibeberapa media, ternyata semua ini berawal dari penelitian Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. yang disebut-sebut, jika harga rokok dan cukai naik, bisa jadi sumber dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kok logikanya aneh ya? bila merokok tidak baik utk kesehatan, ngapain Negara naikkin harganya yg uangnya itu digunakan utk layanan kesehatan masyarakatnya (yg sebagiannya merokok itu)? atau kalo dg harganya naik jumlah perokok berkurang, artinya dana JKN dan Bpjs jadi sedikit. tapi apa iya perokok akan benaran berkurang? saya agak sangsi.
 
Kalopun mahal, mungkin rakyat yg sudah terlanjur kecanduan rokok tidak akan sebegitu mudahnya utk berhenti, tapi perlu waktu. cuman kebanyakan sepertinya lebih memilih utk mengganti rokoknya dibanding harus berhenti merokok full, entah diganti dg alternatif rokok lintingan, rokok bako-pahpir, atau yg lainnya.

Dari pantauan situs Numbeo.com, Indonesia di urutan ke-113 daftar negara penjual rokok berdasar harga jual. Numbeo mengambil Marlboro sebagai sampel perbandingan. Di urutan pertama ada Australia, dengan harga sebungkus Marlboro Rp 251 ribu. Sedang di Indonesia, Marlboro dihargai Rp 19 ribu. Rokok Marlboro dijual paling murah di Nigeria, yaitu Rp 8.000.

Lima peringkat teratas ditempati Australia, Selandia Baru, Norwegia, Bermuda, dan Inggris, yang didominasi negara maju. Sedang lima pertingkat terbawah ada Nigeria, Kazakhstan, Ukraina, Moldova, Vietnam, yang notabene bukan negara maju. Dari sini terlihat, harga rokok sangat disesuaikan dengan daya beli rakyat suatu negara. data-data semacam ini berseliweran banyak di media atau jagat dunia Maya.

Bisa jadi perbedaan pendapatan perkapita setiap negara ikut mempengaruhi perbedaan kebijakannya juga. Atau lebih jauhnya bila kita perhatikan dg seksama, di Indonesia rokok sudah menjadi semacam budaya. seperti kata Dr. Dirga sakti yg mengatakan bahwa, "Menyuruh orang berhenti merokok hampir sama dengan menyuruh orang pindah agama,". Artinya perdebatan antara para perokok fanatik dengan kalangan anti rokok yg selalu dikaitkan dengan isu ekonomi, kesehatan, hingga nasionalisme. Tidak akan pernah ada habisnya. Malah bisa dikait-kaitkan dengan hal lain yg tidak rasional seperti kreatifitas, atau keteladanan (mereka mengambil sampel para tokoh besar yg merokok seperti Pram, Chairil Anwar, Soekarno, dll).

Persoalan rokok menjadi semakin menarik karena faktor2 itu. pertama, asumsi kebijakan penaikan harga ternyata berdasarkan eksperimen di Australia yg negara tersebut sukses menekan jumlah perokok aktif dg kebijakan kenaikan harga. tapi jangan lupa dan jangan kesampingkan fakta bahwa orang Australia secara pendapatan perkapita jauh lebih besar daripada orang Indonesia. kemudian kedua, seperti kata Dr. Dirga tersebut, di Indonesia rokok sudah menjadi budaya, bahkan tingkat fanatisme perokok sudah setara fanatiknya dg anak-anak muda yg fanatik ke agamanya. Ketiga, berdasar data dari dirjen beacukai bahwa sumbangan devisa dari rokok mencapai 139,5 triliun pada tahun 2015. Ini pemasukan yg teramat besar cuy, dari freeport aja cuma sekira 16 triliunan. Kalo jadi dinaikan dan ternyata jumlah perokok berkurang, darimana Negara bisa dapat pemasukan yg sebesar itu? belum lagi bila kita masukan faktor petani tembakau, pekerja di industri rokok, tukang kelontongan, penjual asbak, de el el. (meskipun kata teman bahwa bisa jadi strategi dari empunya pabrik rokok utk tetap mempekerjakan ribuan pegawai rokok dibanding menggunakan mesin, karena kuantitas pegawai itu dengan sendirinya bisa mempertahankan bisnis rokok).

Sementara dilain pihak ada juga yg mengangkat wacana kenaikan harga rokok sebagai salahsatu solusi untuk menekan jumlah perokok aktif di Indonesia yg sudah semakin gila dan menjadi-jadi. Bayangkan, setiap pagi atau selepas bubaran sekolah para siswa dengan enteng dan tanpa dosa merokok dg santainya. Tanpa ada beban dan tak takut ancaman. Data 2013 saja dari Riset Kesehatan Dasar menyebutkan bahwa perokok aktif di Indonesia berjumlah lebih dari 58 juta orang, tak terkecuali termasuk anak berusia 10 tahun atau juga wanita. Setiap hari lebih 600 juta batang rokok dibakar. Fakta yang mengerikan bung! *Apaaa kata dunia?

Kenyataan-kenyataan itu mau tidak mau menggiring kita pada suatu kesimpulan (yang belum tentu valid, hehe) bahwa permasalahan rokok di Negara ini sudah pada tingkatan njelimet dan rumit. Serumit mengurai benang merah ditumpukan jerami (Itumah jarum ya?). Pemerintah harus hati-hati terhadap kebijakan-kebijakan yang mudah digoreng semacam ini. Teman-teman saya yang berhenti ngerokok cenderung bertahap, tak bisa sekaligus. Begitu pula sebaiknya kebijakan pemerintah dalam menekan konsumsi rokok di sini. Padahal selain tentang rokok, masih banyak masalah2 lain di negara ini yg tak kalah pentingnya untuk segera dituntaskan dengan solusi yg selesai.
 
Untuk menutup perbincangan ini, saya mau mengutip pernyataan dari mas Sayyed Fadel yang bilang, "Perlu diingat, yang paling penting dicamkan bahwa “yang membunuhmu” bukan hanya rokok, tapi juga korupsi, macet, banjir, dan semacamnya. Jangan lembek soal itu!". 
 
Wallahu 'alam.


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    kangen water?
    kangen bandung juga boleh kok Pak...

    *pindah tempat komen
    masih aja OOT. malu sama judul tulisan

  • Kilau Tegar Mahajuna
    Kilau Tegar Mahajuna
    1 tahun yang lalu.
    Masya Allaaaah Teh anis perhatian banget, saya ajak gak sadar tanggal. Tapi bagus ya. Haha

    • Lihat 28 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Bagus pembahasannya..

    • Lihat 20 Respon