Meruntuhkan Nalar Demi Kemanusiaan

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Meruntuhkan Nalar Demi Kemanusiaan

Orang tak perlu belajar ekonomi kapitalis bila dengannya malah menghilangkan empati untuk membantu sesama. Orang tak perlu menunggu kaya untuk bisa sesegera mungkin membantu oranglain yang membutuhkan. Setidaknya, karena mereka adalah seorang manusia, merupakan alasan yang lebih dari cukup mengapa kita harus membantu dan menolongnya. Lebih dari sekedar mengangkat dan menjunjung tinggi kemanusiaan yang ada dalam diri kita, sehingga secara naluri kita mempunyai kecenderungan untuk menyukai kebaikan, untuk peduli kepada orang lain yang perlu untuk dipertahankan, untuk disebarkan, untuk menjangkau sebanyak mungkin orang baik lainnya. Membentuk rantai kebaikan kepada sebanyak mungkin orang. Rantai kebaikan itulah yang memungkinkan kita masih bisa hidup dan bergerak diatas bumi ini.

Setidaknya, bumi pun akan pikir-pikir lagi bila hendak memberikan bencana alam atau musibah bila penghuninya ini merupakan manusia-manusia yang baik dan yang peduli pada sesamanya. Manusia memang diberi kewajiban untuk memakmurkan bumi ini, kan?

Kemudian bila dengan belajar bisnis mengharuskan kita hanya sekedar membeli karena butuh. Maka setidaknya kita harus berpikir ulang ketika melihat penjual tua yang mengais rezeki dengan gerobak reyotnya. Yang meskipun secara tampilan dan kemasan tidak menarik, bahkan kebanyakan barang dagangannya tidak terbungkus layak, menggeletak begitu saja, sayuran, buah-buahan yang sudah tidak segar lagi, kerupuk yang menggantung tak terjamah dan yang lainnya. Masihkah kita berpikir bahwa kita hanya akan membeli apa yang benar-benar kita butuhkan dan inginkan?

Bila untuk mengatur cashflow kita, boleh jadi tips itu ; belilah yang benar-benar kau butuhkan. Itu benar. Karena bila kita membeli yang tidak dibutuhkan cenderung merupakan gejala pemborosan dan hedonisme atau perilaku konsumtif yang tercela. Tetapi untuk penjual miskin-tua-lusuh semacam itu, masihkan layak bagimu untuk memikirkan tips tersebut? Kau menghukumi sesuatu dengan salah! Kau terlalu menggeneralisirnya. Dan itu tak baik untuk kesehatan hatimu, bung.

  • view 125