Ketidakpastian yang Tidak Pasti

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Psikologi
dipublikasikan 28 Mei 2016
Ketidakpastian yang Tidak Pasti

Saya tidak suka kepastian, seperti halnya seseorang yang membenci untuk menjadi sempurna. kenapa? *Tanyakenapaaaa?* karena itu tidak mungkin, karena ada batas yang jelas yang tak bisa kita lampaui, yang akhirnya berakhir dengan sebuah kekecewaan, lalu menyesal kenapa harus kecewa, sedini itu.

Pada angin yang tak kunjung berhembus, kau sampaikan sebuah bisikan yang pada menit berikutnya kau lupa, lalu terus saja kau menyiksa diri dengan bayangan-bayangan tak jelas, yang kau pun bingung sendiri bagaimana mengenyahkannya. Bila saya tidak suka kepastian, itu artinya saya suka dengan ketidakpastian, tetapi itu bukanlah sebuah kepastian (bertele-tele ya? ) karena begini, ketidakpastian itu memberikan kita opsi, tapi kepastian? tidak akan pernah benar-benar membuat kita yakin akan adanya pilihan2 dan kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Kepastian itu adalah cara kita agar tidak tertipu oleh kenyataan yang tidak pasti. atau oleh persepsi diri kita sendiri. meskipun pada beragam hal, manusia ternyata suka sekali ditipu oleh prasangkanya. membiarkan ia terbawa oleh perasaan sesaat, yang pada detik selanjutnya, dengan seenaknya, perasaan itu sudah tidak ada ditempatnya semula, dan kau pun akhirnya mencak-mencak gak karuan, seperti saat ini, misalnya. (Haha)

Saya tidak suka kepastian, karena yang pasti itu, benar-benar keluar dari kita untuk mengendalikannya. dibiarkannya kita berada dalam kondisi tak berdaya, karena, pada satu titik, kepastian itu bisa jadi berisi ketidakpastian yang banyak. kumpulan ketidakpastian itulah, yang karena banyaknya, sulit untuk kau bedakan, sehingga ia tampak seperti suatu kepastian, dan kau dipaksa untuk mengakuinya. baru belakangan kau sadar, bahwa kau telah dibohongi, lalu kau pun tak bisa berbuat apa-apa.

Bila berbicara tentang kepastian mendadak saya teringat Perempuan, katanya perempuan itu suka kepastian karena dengan begitu ia bisa memanipulasi perasaannya untuk jangan sering menangis dan kecewa. meskipun pada akhirnya bisa saja ia tetap akan menjadi kecewa. tapi setidaknya, ia berhasil, meski beberapa saat menghindari kekecewaan itu. Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiran mereka. tapi membuatnya tetap seperti itu adalah caraku untuk menghormatinya. Aku tidak memaksakan diri, dan tidak memaksakan kenyataan. selebihnya, kita hidup dengan dunia kita sendiri.

Kata seseorang, perempuan itu paling suka es krim dan coklat, tapi lebih suka lagi dengan kepastian. bayangkan, mereka akan berusaha untuk bertanya berulang-ulang kepadamu dengan pertanyaan yang mungkin akan terdengar sama, untuk tetap berada dalam kondisi dimana, dia ingin tetap mengkonfirmasi kepastian itu. tapi kebanyakan mereka tidak pernah benar-benar mengerti dengan kepastian yang mereka harapkan. atau terlalu picik untuk menyadari sebuah kekeliruan yang tersembunyi? kepastian adalah tanda bodoh dari akal yang tak berfungsi. di dunia ini, kepastian apa yang benar-benar pasti? selain fakta bahwa yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Kau mungkin boleh bilang bahwa kematian itu pasti. tapi sejauh apa kepastian kematian hingga ia tidak lagi menjadi pasti karena ketika kita sodorkan pertanyaan lanjutan, kapan saya meninggal? dimana saya mati? dan dalam kondisi yang seperti apa? itu pertanyaan2 yang berisi ketidakpastian (yang paling pekat). Karena kepastian jenis apapun, akan selalu mengandung ketidakpastian, entah dalam kadar yang berapa persen tapi pasti akan seperti itu. menjadi sesuatu serupa ciki, yang didalamnya ada kue, tetapi selebihnya, hanya angin yang mengisinya. payah betul saya ini, masih saja punya pikira negatif. *Maafin aku ya Tuhan!

(Catatan bonus) : Sudah berapa juta sakit hati yang telah kau terima? sudah berapa kali kau merasa merana? tapi, toh sampai detik ini kau masih bisa tertawa. Malah, kau sendiri yang bilang, bila dunia tidak terlalu bersahabat denganmu, tertawa saja. maksudnya, tertawakan saja dunia yang seperti itu. kita sudah sering menertawakan keadaan, dan tak pernah takluk pada apapun yang diberikan oleh dunia. kita masih bisa tertawa, ungkapan bahwa “Mau bagaimanapun, kita tidak pernah lupa caranya menikmati hidup”. ya kan?

  • view 146