Sains Gosip

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Sains Gosip

Karena sekarang saya sedang kedinginan oleh sebab kehujanan, maka tiba-tiba jadi kepikiran tentang gosip (lah? apa hubungannya -_-?). begini loh, bahwa ternyata menggosip - bergosip - digosipkan, ituu semua menjadi hal yang serupa siklus, menjadi rantai yang sambung menyambung menjadi satu, tetapi bukan Indonesia. Siklus itu dimulai dari satu orang, lalu merembet ke orang lain, dan pada kadar yang lebih parah (seperti pemberitaan di media tivi, misalnya), maka gosip tersebut bisa menjangkau sejauh tak terhingga, ia bagai fungsi eksponensial di persamaan matematika yang lajunya meningkat berkali-kali lipat terhadap waktu (ngomong opo to le?).

Yang jelas, persebaran gosip hampir bisa dipastikan seperti persebaran virus ; cepat, tak terkendali dan berbahaya. ia sama ganasnya seperti virus, menular dan menjalar hingga mengenai semua orang atau objek terdekatnya. dan cepatnya pemberitaan oleh sebab gosip ini, juga akan berbanding lurus dengan konten atau isi dari yang digosipkan itu sendiri, semakin ?hot? berita yang digosipkan, maka semakin menarik pula berita itu untuk terus menyebar dan hingga jadi buah bibir (kela, buah dari pohon apakah itu?). ?

Lantas saya, sebagai orang yang merasa terpanggil untuk memutus siklus itu, mulai menganalisa (*Ceileeh), kenapa orang suka sekali bergosip? apakah karena tidak ada bahasan lain yang lebih menarik atau justeru bergosip itu memang suatu hal yang mengasyikan, jadinya kita sangat suka sekali bergosip? iya, maksud saya, apakah dengan bergosip, itu bisa mencitrakan diri yang keren ? Oh, kalo begitu, kemanakah pikiran rasional manusia? Hmm, tapi bila di runut dari sejarahnya, mungkin saya bisa memastikan bahwa gosip ini, .. euu, sebentar, kita belum mendefinisikan arti dari gosip itu sendiri (*Eerrzzz).

Jadi, apakah itu gosip ? simpelnya, adalah kabar yang masih simpang siur. yang diobrolkan dan menjadi bahan obrolan. dalam kadar yang akut, ia bisa menjadi fitnah. Kalo misalkan apa yang di gosipkan itu benar, tetapi cenderung menyangkut aib atau keburukan seseorang maka itu yang disebut dengan gibah atau bergunjing. Lah, kalo kita membicarakan orang lain dan ternyata tidak benar, lantas disebut gosip juga tidak ? bukan, itu bukan gibah, tetapi namanya fitnah.

Baik gibah ataupun fitnah, sama-sama buruknya. maka begitu pula dengan bergosip. dan pertanyaan mendasarnya, bila kita tau bahwa gosip itu buruk, kenapa ia suka sekali dilakukan ? dan menjadi terasa gatal mulut bila satu hari saja tidak bergosip? semacam rokok kah gosip itu, yang bisa mencandukan dan membuat ketagihan ? bisa jadi. dan ini pun perlu penelitian lebih lanjut terkait motivasi dasar manusia mengapa suka sekali dengan gosip ini. khususnya di kalangan perempuan (hehe) atau emak-emak purna waktu di rumah.

Di majalah Scientific American Mind di edisi yang kebetulan saya lupa. Kalo gasalah headlinenya kala itu adalah tentang Science of gossip, disana dibeberkan semua hal tentang gosip beserta penelitiannya, terutama ditinjau dari aspek aktivitas otak manusia, psikologi, perilaku, dan sains-nya. Disebutkan bahwa sains menjelaskan kepada kita mengapa bergosip itu sering dilakukan, karena ia menjadi semacam perawatan social (Kind of social grooming) yang membantu jaringan kemanusian kita yang bergantung pada kebersamaan (makhluk sosial) tetap terjaga. kita membagi 'berita? tentang teman atau kerabat, dan itu yang akan mengokohkan hubungan kita dengan mereka, katanya. sederhananya seperti itu.

Tapi, memang seseringnya akal sehat itu kadung tak berkawan dengan mulut, apalagi dalam kondisi dan situasi tertentu. kita tau bahwa bergosip itu tidak terlalu baik untuk kesehatan (?), tapi tetap saja ketika bertemu dengan kawan lama, teman atau yang kita kenal di perjalanan, sedikitnya kita akan terpancing (apalagi bila benar-benar di pancing dan kitanya sedang mancing, Heh?), maka akan hingga berbudah pun rasanya masih kurang ketika membicarakan orang lain. Kadang, syetan itu memang pintar membuat manusia merasa nyaman dengan perbuatan yang tidak baik. Jadi kalo begitu saran terbaiknya, bila ada orang yang memulai bergosip, mending tutup telinga sebelum virus itu menyebar, bilang stop pada mulut sebelum jatuh pada fitnah. dan, iya saya tau, daripada begitu, lebih baik diam atau tiduran sambil menyender di kursi kereta lokal bandung raya yang ada ac-nya. lumayan mengademkan diri, pikiran, perasaan dan hati.

  • view 136