Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 3 Mei 2018   20:46 WIB
Perjumpaan Itu 'Bermula dari Rahim Ina Rotok'

Suatu sore di antara ranum senja dan angin yang perlahan menerbangkan abu. Duduklah empat orang perempuan memegang buku.  Beberapa gelas air mineral dan jajanan seadanya dibiarkan tergeletak pasrah di depan mereka. Tak ada yang bicara, mata mereka fokus menyelami buku di tangan sambil sesekali melihat ke bawah karena terganggu dengan bunyi sepeda motor para mahasiswa di pelataran kampus Universitas Muhammadiyah Kupang. Beberapa rombongan mahasiswa duduk berjejer di bawah tangga sambil mengobrol dan tentunya memainkan smart phone-nya masing-masing. Tak lama kemudian Ernes, mahasiswa semester enam asal Manggarai itu membuka diskusi pada Jumat 20 April 2018. Masing-masing peserta diskusi diminta untuk memberi pandangan mengenai cerpen Bermula dari Rahim Ina Rotok karya seorang sastrawan NTT asal Adonara, Pion Ratulolly. Ida Kasih, perempuan berwajah manis asal Bajawa angkat bicara. Menurutnya, apa yang digambarkan Abang Pion dalam cerpen itu adalah cerminan sosial. Ia pun bercerita tentang seorang ayah yang juga menghamili anaknya hingga melahirkan dan mereka tetap tinggal satu atap (Ayah, Ibu, Anak, dan cucu-anak dari ayahnya sendiri). Apa yang disampaikan Ida  dibenarkan  Rista,  sekretaris Komsas Pondok  Aspirasi. 
 Pada puncak diskusi terlontarlah sebuah pemikiran bahwa yang dilakukan tokoh Demong (ayah Ina Rotok) lebih baik karena memilih mengasingkan Ina Rotok di pinggir kali Wai Gokka dari pada tokoh ayah dalam cerita Ida yang tetap hidup satu atap dan diasingkan masyarakat. Pernyataan itu tentu bukan untuk mendukung tindakan asusila terhadap perempuan, melainkan hanya perbandingan perilaku. Diskusi pun melebar pada psikologi anak dan norma-norma sosial yang harus ditanggung palaku maupun korban asusila semacam yang diceritakan Abang Pion dan Ida. Diskusi Komunitas Sastra Pondok Aspira itu baru usai setelah azan Isya menggema dari musolah kampus.  Diam-diam di sela diskusi pembina Komsas Pondok Aspira, Sayyidati Hajar menulis sebuah status mengenai diskusi mereka sore itu di facebook. Komentar pun mulai mengalir dari beberapa penggiat literasi dan komunitas yang berteman dengan Sayyidati, salah satunya adalah komentar dari seorang Doktor Muda bernama Lanny Koroh yang sempat hadir berbagi inspirasi dan membaca puisi pada malam ulang tahun Komsas Pondok Aspira akhir Maret lalu. Dalam kolom komentar perempuan yang biasa disapa Kak Lanny itu berjanji akan menghadirkan penulis cerpen Bermula dari Rahim Ina Rotok di kampus Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK). Kabar gembira itu menjadi angin segar bagi para penggiat sastra di UMK. Meski belum pasti kapan kiranya sang Penulis akan datang.
Lima hari setelah diskusi itu dilaksanakan, tepatnya pada tanggal 25 April 2018 datanglah kabar gembira itu dari Kak Lanny mengenai kesiapan Abang Pion Ratulolly untuk hadir di UMK. Semua anggota Komsas Aspira begitu bahagia menyambut kedatangan pemilik Wasiat Kemuhar itu. Agenda pun disusun, jadwal dipastikan, izin kegiatan mulai dilakukan. Hingga akhirnya pilihan hari kegiatan jatuh pada Rabu 02 Mei bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2018. Acara yang akan digelar adalah Talkshow Proses  Kreatif Menulis yang akan menghadirkan empat orang pembicara yakni Abang Pion  Ratulolly, Abang Maksudnya M.  Kian,  Ibunda Siti  Rodliyah,  dan Kan Lanny  Koroh. Semua agenda besar itu  'Bermula dari Rahim  Ina  Rotok'. 

Karya : Sayyidati Hajar