Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 14 Februari 2018   19:27 WIB
Penjaga Terakhir Tunbes


“Mari jaga Tunbes dari orang-orang yang mau bikin rusak katong[1] punya tempat,” ujar laki-laki berbadan kurus itu mengakhiri pertemuan. Matanya tajam menusukan energi pada hadirin yang antusias mendegarkan pidatonya. Hadirin beranjak dari tempat rapat, satu persatu menyalami sang lelaki tua dan bersegera meninggalkan tempat itu. Hanya tinggal ia yang duduk bersila di depan api, sendiri.

Lelaki itu terus menatap api yang membara menerbangkan bintang-bintang kecil beberapa senti di atas kepala, aroma malam dan nada kayu yang rela terbakar menggelisahkan hatinya. Mulutnya pahit, matanya sepat, dadanya bergelombang mencari pelabuhan untuk berumara. Tak lama kemudian ia keluarkan sebuah lipatan dari saku, samar terlihat berwarna kuning terkontaminasi cahaya api yang memerah. Ia letakan di atas pahanya dan mengambil tembakau dari alu’[2] , disobeklah sedikit lalu diletakan di tengah lembaran berwarna kuning itu, tangannya gesit menyulapnya menjadi rokok. Lelaki itu kini makin sendiri dalam kesendiriannya, asap rokok kretek buatannya hanya mampu menemani sampai api usai, selanjutnya ia tetap sendiri. Sambil membunuh rokok terakhirnya ia berbisik, “Fajar esok pagi akan membunuhnya dan bisa juga membunuhku.”

***

“Bagaimana Mama? Semua sudah siap ko? Rombongan dong sudah dekat dengan kita punya rumah,” teriak Demus dari pintu tengah. Lalu terdengar suara sahutan perempuan dari arah umekbubu’[3]menyatakan kesiapannya. Iring-iringan itu tiba beberapa menit setelahnya, orang-orang asing turun dari mobil dengan wajah sumringah, mereka disambut seperti raja. Masyarakat desa Tulun berkumpul untuk menyaksikan kedatangan mereka. Wajah anak-anak takjub melihat mobil-mobil itu menembus jalan kampung, asap debu mengepung mereka disertai iringan suara anak-anak, “Ato… Ada oto di jalan!”

“Selamat siang bapak, ibu, dan saudara sekalian,” ujar pimpinan rombongan dengan gagah berani membuka suara. Rumah tua milik kepala suku itu padat dengan mata-mata penasaran. Pemimpin rombongan itu tak lain adalah teman anak kepala adat, datang dari pulau jawa yang jauh, katanya dia seorang pengusaha. Wajahnya putih dengan postur tubuh besar, bila tertawa gigi putihnya berderet dengan rapi, tentu beda dengan Demus, anak kepala suku yang asli orang Timor.

Demus dengan sigap menerjemahkan ucapan pembuka sahabatnya pada hadirin yang ada, ia telah diminta Subroto untuk menjadi juru bicara pada pertemuan itu. Subroto sendiri adalah sahabatnya saat menyelesaikan kuliah di pulau Jawa. Kelurganya memiliki beberapa perusahaan besar di kota-kota strategis di Indonesia, perusahaan pertambangan dan mebel.

“Selama ini saudara-saudara di desa Tulun hidup di bawah garis kemeskinan, padahal hasil hutan di daerah ini sangat hebat, tapi saudara semua hanya bertani. Hasil bertani sangat sedikit jumlahnya dibandingkan pekerjaan yang akan saya tawarkan,” ujar Demus berapi-api menerjemahkan ucapan sahabatnya. Satu demi satu orang mulai mengubah posisi duduknya, mereka tampak senang mendengar tawaran itu.

“Coba lihat itu,” ucap Subroto menunjuk ke arah gunung Tunbes.

“Pohon-pohon besar itu adalah uang… Uang bapak ibu sekalian. Maka dari itu saya butuh kerjasama dengan semuanya,” jelasnya diikuti suara Demus. Laki-laki lain yang turut dalam rombongan mengangguk-angguk penuh kegembiraan. Imajinasi mereka berlayar ke mana-mana, mencari titik surganya sendiri. Subroto yang tampak paling berbahagia, matanya berkedip cepat-cepat, napasnya diusahakan setenang mungkin agar tak terlihat tegang. Laki-laki asing itu tahu bila ia bertindak sedikit bodoh di depan ketua adat semuanya akan berantkan. Ia memberanikan diri menatap lelaki berkulit hitam legam di seberang kursinya.

“Bagaimana bapak?,” susul mulutnya mengeluarkan suara.

“Semua keputusan ada di tangan bapak, kata Demus bapak bukan hanya ketua adat tapi sekaligus juru kunci gunung Tunbes,” lanjutnya lagi.

Laki-laki tua itu bangkit dari kursi, didekatinya Demus yang duduk tepat satu kursi di dekat Subroto. Percakapan dalam bahasa Dawan pun terdengar mendominasi ruangan itu, dialog bapak-anak itu membuat rombongan yang berkunjung nampak kebingungan. Setiap aku menerka dan menganalisis raut wajah kedua tokoh yang sedang bicara. Gurat wajah tegang tercipta dari wajah Demus, sedangkan laki-laki tua itu terlihat lebih lunak. Ia kembali duduk, masih di kursi yang sama.

“Bagaimana Mus?” tanya Subroto penasaran.

“Bapak sudah mengerti maksudmu, tapi bapak butuh waktu untuk bicara dengan beberapa orang. Tenanglah… Semua akan baik-baik saja.”

Semua anggota rombongan yang hadir saat itu mengangguk-angguk cepat, secepat imajinasi mereka yang kian liar. Liar seperti tatapan Tunbes yang kini tampak angkuh mengabarkan berita duka.

“Aku pasti akan membantumu,” bisik Demus mencoba menenangkan sahabatnya.

***

“Tarik… Ya, begitu. Cepat! Sebentar lagi selesai… Ayo… Angkat,” teriak laki-laki bertubuh tinggi dengan helm di kepalanya. Lima orang lain yang turut bersamanya pun menggunakan helm yang sama, berwarna putih pucat. Seorang diantara mereka memegang kendali gergaji kayu, bunyinya meraung-raung seperti macan kesetanan.

Sudah enam bulan sejak pertemuan di rumah kepala adat, rombongan itu kini keluar masuk hutan Tunbes, mengangkut hasil hutan yang tak terkira. Masyarakat yang tak terbiasa melihat truk-truk besar memasuki desa Tulun tidak tanggung-tanggung untuk turut membantu. Anak-anak kecil dengan ingus menggantung di hidung berlari mengejar truk pengangkut kayu, bila mereka beruntung, sopir mengizinkan mereka turut serta di bak mobil sampai ke kampung sebelah. Euforia yang tercipta di benak penduduk desa sederhana, mereka punya uang untuk membeli beras dan super mie setiap hari pasar tiba, pelita-pelita kaleng tetap menyala tak kekurangan minyak tanah. Sederhana.

Demus menjadi tangan kanan Subroto pada proyek besar itu. Lelaki tangguh itu bekerja dengan sempurna menyelesaikan berbagai persoalan terkait proyek besar mereka. Izin dari aparat ia dapatkan setelah menyumbal beberapa juta rupiah pada oknum yang memegang kendali.

“Mata mereka menyala melihat uang, tenang saja. Jangan lupa sediakan yang saya butuhkan,” ujar Demus diujung telpon sambil tersenyum. Ia harus menyelesaikan pelicin yang dijanjikannya kepada seorang oknum. Juga terus meyakinkan bapaknya agar memediasi masyarakat kalau-kalau ada yang bersebrangan dengan yang ia inginkan. Meski ia tahu, sejauh ini semuanya berjalan mulus, uang yang dibagikannya pada penduduk sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka hanyut.  “Dengan ini semua jadi sederhana,” batinnya sambil memasukan lembar-lembar rupiah ke dalam tas.

***

“Berapa yang bapak mau?,” ucap subroto dengan khawatir. Wajah laki-laki kurus di depannya hanya diam. Matanya menjalar ke segara arah, mencari dinasti yang dulu megah dipandang dari segala penjuru. Tak ada mahoni-mahoni kokoh di sana, juga tak dijumpai lagi pohon jati yang riang berbuah. Lenyap. Gunung Tunbes kini telanjang.

Am, onme[4]?,” Tanya demus dalam bahasa Dawan. Ia semakin gelisah karena bapaknya tampak dingin, matanya sama sekali tak menatap lelaki di sampingnya. Subroto yang mengajaknya bicara pun tak dijawab. Angin berhembus menambah aroma dingin pada sikap sang kepala suku. Diamatinya sungai Noebunu dari kejauhan, seolah ia mencermati bebatuan yang resah terbakar matahari. Tak ada aliran air di sana, musim sedang kemarau. Dari kejauhan tampak beberapa orang sedang berjalan menyisir sungai panjang itu, meraka tampak seperti semut, kecil.

Am…,” ucap Demus sekali lagi sembari mendekatkan posisi berdirinya.

“Ada banyak batu mangan di gunung Tunbes Am, batu-batu itu bernilai tinggi,” tambahnya berusaha menjelaskan dalam bahasa Dawan.

“Di seberang pulau banyak orang bisa bangun rumah batu[5] dengan jual batu mangan, Ama hanya kasih jalan sa. Nanti biar Demus yang urus semua. Kita hanya ambil sedikit saja Am.”

“Ama hany….”

“Diam!” potong kepala suku dengan cepat. Wajahnya merah padam menandakan amarahnya sedang membuncah. Sarung tenun yang dikenakannya berkibar-kibar seperti bendera merah putih tertiup angin. Ia menatap anaknya, sorot matanya menikam setiap kebohongan yang disembunyikan Demus.

“Penipu! Kau tipu Ama. Ama tidak bisa bahasa Indonesia, itu yang buat kau tipu Ama?”

Ama, Demus tidak pernah tipu. Kenapa Ama bilang begitu?” ujar Demus membela diri.

Ama tidak pernah kasih izin kalian masuk tebang pohon sampai di dalam Tunbes. Kenapa kalian masuk sampai sini, hah! Kau mau putar bale[6] Ama? Begitu?” bentak sang pemimpin suku dengan keras. Laki-laki bertubuh kurus itu bernama Ama Mesak. Ia melihat  Subroto terlihat tak tahu pasti arah pembicaraan namun ikut tegang.

“Tidak Am, waktu itu… Ama tidak larang masuk ke sini…,” ujar Demus ragu-ragu.

“Demus, Ama kasih sekolah kamu tinggi-tinggi bukan untuk putar bale Ama. Mengaku sudah?” suaranya menggelar ke angkasa, menyentuh pucuk-pucuk jati muda yang lesu akibat puncak kemarau. Langit seketika gelap kemuning bertanda hujan pertama akan turun. Oktober hampir usai, kalender-kalender tua menuju angka dua delapan. Angka tua, setua api yang menjilat kebun penduduk di mana-mana. Lelaki tua itu tampak teringat sesuatu, ia memalingkan badannya tanpa bicara. Cepat-cepat ia berjalan menuruni puncak gunung Tunbes, ia harus sampai rumah sebelum hujan datang.

***

Ama Mesak… Ama Mesak!”

AmAma!”

Suara guntur membela angkasa menenggelamkan suara panggilan dari luar rumah. Ama Mesak duduk di samping tungku sambil memperbaiki posisi kayu api.

AmaAma Mesak…,” suara panggilan itu samar-samar terdengar di telinga Ama Mesak.

Am….”

“Pah…,” jawabnya setelah yakin ada suara yang memanggil. Ia bangkit dari duduknya dan membuka palang pintu umekbubu. Seorang anak muda berdiri membungkuk di depan pintu. Tubuhnya basah berpayung selembar daun pisang. Ama cepat mengenali pemuda itu, diajaknya masuk ke rumah besar beratap alang-alang, yang oleh masyarakat Tulun disebut uimnoe.

“Tunbes longsor Am. Longsornya sampai ke rumah Ama Lekon, ini saya baru dari rumah Ama Lekon,” jelas pemuda itu tak sabar.

“Ada korban jiwa?”

Ama Lekon dan istri lagi datang ke pesta, tapi Aliana lagi jaga rumah. Dia mungkin ikut masuk jurang.”

Kali ini lelaki tua itu muram, wajahnya seketika menciut, dadanya sesak mendengar kabar gunung Tunbes longsor. Itulah yang ia khawatirkan selama ini, setelah hampir satu tahun yang lalu pohon-pohon raksasa di gunung Tunbes ditebang untuk proyek Subroto. Kini alam mulai marah, dan jelas alam mengutuknya dalam-dalam. Anaknya, Demus telah memanfaatkan keadaannya karena tak bisa berbahasa Indonesia untuk menipunya. Anak lelaki satu-satunya itu telah bersekongkol dengan kawannya untuk menguras habis hasil hutan yang ada di gunung Tunbes.

Beberapa saat setelah merenung sendiri ia mengambil keputusan untuk ikut dengan pemuda itu menuju rumah Ama Lekon. Langkah-langkah panjang berlomba dengan cepat melewati lumpur tanah liat menuju sisi barat gunung Tunbes. Tunbes dari kejauhan tanpak gelap dan menyeramkan, namun semakin dekat terlihat lokasi longsor menyapu hampir seperempat bagian barat gunung Tunbes. Hati Ama Mesak semakin tak menentu, baru kali ini ia menyaksikan longsor begitu dahsyat menyapu rumah-rumah penduduk di dekat gunung Tunbes.

“Bapak,” sapa seorang dari kejauhan. Sang ketua adat mengenalinya, dia Subroto. Di samping kanannya berdiri juga Demus, anaknya. Geramlah hati Ama Mesak, dengan cepat ia menghampiri keduanya.

“Demus, bilang orang ini supaya jangan gergaji pohon lagi. Saya akan kasih kembali itu uang yang dia kasih,” paparnya marah.

“Am, itu uang banyak, Ama sudah pakai untuk beli sapi. Mau kasih kembali bagaimana?” Tanya Demus tak mau kalah.

“Heh! Ama bilang usir dia dari sini!” teriak Ama Mesak keras.

Ama, tapi….”

“Prakk…,” sebuah tamparan melayang di pipi Demus.

“Masih mau melawan? Hah! Ama bilang usir dia Demus. Atau kalian dua Ama usir dari desa Tulun,” lanjut Ama Mesak sambil mengeluarkan kelawang panjangnya. Matanya merah, amarahnya telah sampai ke ubun-ubun. Dikejarnya Demus dan Subroto yang lari terbirit-birit menunruni anak gunung Tunbes.

“Biar Ama bunuh kau Demus, anak kurang ajar… Putar bale orang tua,” seru ama Mesak sambil terus mengejar. Namun usianya yang tua tak mendukungnya untuk terus mengejar anaknya, ia kemudian berhenti dan kembali menuju rumah Ama Lekon setelah menyadari kedua pemuda itu telah jauh.

Sejak kejadian itu Demus tak tampak batang hidungya, juga Subroto. Truk-truk pengangkut kayu tak lagi terlihat. Namun datang sebuah surat panggilan bahwa Ama Mesak telah mengingkari perjanjian kerja sama. Kepala desa telah memanggil Ama Mesak dan menjelaskan isi surat itu.

Ama harus tetap mengijinkan mereka mengambil hak meraka,” ungkap kepala desa.

“Surat ini jelas bahwa Ama dan penduduk sudah terima uang lebih dari 50 juta, kalau bisa di kasih kembali, kalau tidak mereka akan menuntut Ama,” lanjutnya.

“Orang-orang itu sudah ambil kayu banyak bapak, itu uang lima puluh juta tidak bisa kami kasih kembali. Kalau mereka mau itu uang kembali, saya minta mereka sambung kembali kayu yang sudah mereka tebang,” balas ama Mesak mantap.

“Baik kalau begitu Ama, nanti akan saya sampaikan ke pihak yang berwajib. Saya akan dampingi Ama untuk hadapi ini masalah,” ujar kepala desa menguatkan Ama Mesak.

Pertemuan demi pertemuan dilaksanakan beberapa kali di kantor kepala desa dan juga kantor camat. Beberapa kali Subroto tetap berusaha melunakan hati Ama Mesak untuk terus mengambil hasil hutan di Gunung Tunbes, ditambah lagi, hasil olah data terakhir timnya menunjukan bahwa di gunung Tunbes tersimpan ribuan ton batu mangan. Subroto tak ingin kalah dalam pertarungan itu, ia ingin menang. Bungkan hanya menang dalam perkara, tapi juga memenangkan hati sang ketua adat. Dalam ketakutannya yang teramat, ia masih punya pegangan, Demus, anak sang ketua adat.

***

Lelaki tua itu tetap gelisah setelah rokok kretek terakhirnya mati. Terdengar lolongan anjing dari kajauhan. Ia tahu waktu telah menuju dini hari, di mana setiap embun telah menetas di pucuk-pucuk semesta. Angin malam menjalari tubuhnya, malam itu ia sendiri. Mengasingkan diri dari para kerabat setelah pertemuan itu selesai.

Esok pagi pembacaan keputusan perkara, ia telah menyiapkan penduduk desa untuk berjuang mati-matian bila putusan itu merugikan mereka. Bila akhirnya uang itu harus dikembalikan, maka ia telah memutuskan untuk menanggungnya.

“Tak boleh ada korban jiwa lagi karena ulahku,” bisik hatinya pelan menyembunyikan gelisah pada api.

Malam itu segala abai terbakar dalam api, tersisa janji-janji suci yang menetas bersama embun dan fajar. Lelaki tua itu telah memutuskan untuk menjadi petarung, ialah yang akan bertarung melawan musuh-musuh alam di desa Tulun. Ama Mesak, penjaga terakhir gunung Tunbes.

***

Selesai

 

[1] Katong: kata ganti kami dalam bahasa Kupang.

[2] Alu’: Sebutan untuk tas yang biasa digunakan untuk menyimpan sirih pinang bagi masyarakat suku Timor di Amanabun Tengah dan Timur.

[3] Umekbubu’: rumah bulat dengan empat tiang dan biasa digunakan untuk menyimpan benih tanaman bagi masyarakat suku Timor.

[4] Am, onme?:  Am, bagaimana? Am berasal dari kata “Ama” yang berarti Ayah/bapak dan onme artinya bagaimana

[5] Rumah batu: maksudnya adalah rumah yang terbuat dari tembok bersemen, karena kebanyakan rumah pada umumnya mebggunakan bebak.

[6] Putar bale= putar balik= berbohong atau memutarbalikan fakta.

Karya : Sayyidati Hajar