Dua Daun Jendela

Dua Daun Jendela

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2018
Dua Daun Jendela

Daun jendela  muda.

Setiap kali pandangan mataku merebah ke luar lewat jendela kamarku, mataku lurus menusuk apa saja yang akan mengahalangi tatapanku pada daun jendela tua di ujung timur rumahku. Posisi jendela itu nampak beruban, karena cat pliturnya tlah kandas ditelan hujan dan panas bergantian. Tak hanya itu, dari kejauhan daun jendela itu seperti menderita farises, karena tampak rayap-rayap senang bercinta pada dindingnya hingga membuat baris-baris jalan. Daun jendela itu lebih sering diam membisu tanpa tawa seperti dulu. Hanya sesekali dalam setahun ama[1] atau ena[2] akan membukanya, itu pun hanya sebentar. Kini ia kehilangan cerianya sejak aku melangkahinya sepuluh tahun yang lalu. Setiap hari aku selalu menyempatkan diri berlama-lama memandang ke arahnya, siapa tahu aku beruntung. Siapa tahu ama dan ena sedang ingin membersihkan kamar itu dan aku dapat melihat wajah tua mereka. Namun sayang usia tahun ini sudah hampir penuh, namun daun jendela tua itu tak juga terbuka. Dan senja ini harus tetap kututup dengan kecewa dan doa.

***

Daun jendela tua.

Sepuluh tahun lalu kutemukan sebuah cincin terbungkus rapi dalam sapu tangan berenda berwarna biru langit. Saat aku sedang duduk di atas tempat tidur anak gadisku, tiba-tiba terdengar siulan dan tak lama kemudian sapu tangan itu jatuh tepat di bawah jendela kamar. Hari itu aku mulai menyadari bahwa putriku telah menjalin asmara dengan seorang laki-laki, namun sayang aku tak sempat tahu siapa laki-laki itu. Setelah beberapa menit Lina, putriku masuk dengan tergesa-gesa dan nampak tak tahu bahwa aku sedang ada di kamarnya. Ia langsung menuju jendela dan melihat-lihat keluar, nampak ia memang sedang menunggu sesuatu, ya, sesuatu yang kini sedang ada di tanganku. Begitu ia membalikkan badan, ia tampak kaget melihat aku sedang menyulam di atas tempat tidurnya.

En[3]…”, ungkapnya lirih dalam bahasa dawan.

Aku yang menyadari kecurigaannya tetap khusuk menyulam sambil menunggu apa yang akan dilakukannya. Setelah sedikit lama ia tampak gelisah dan mempermainkan ujung kebayanya lalu datang dan duduk di sampingku.

En, ajari saya buat lesu[4], seperti punya ama…”.

“ Iya, besok pagi siapkan kain dan benang, nanti ena ajarkan motif  yang sama seperti punya ama”.

Sejak hari itu, putriku giat sekali menyulam dan menenun sarung, bahkan menganyam yang biasanya tak bisa ia lakukan pun kini ia lakukan dengan sangat semangat. Banyak buah tangan yang ia hasilkan sejak ia mengenal laki-laki itu.

***

Pagi itu siulan burung menggema dengan merdu, matahari nampak di ujung bukit yang berbaris di sudut timur. Tetesan embun jatuh malu-malu dari ujung runcing daun cemara yang hijau. Sementara itu bunyi batu bersahut-sahutan dari rumah-rumah bulat yang disebut umekbubu. Rumah itu bulat seperti lopo dengan empat tiang penopang dan loteng untuk menyimpan hasil panen yang akan diasapi sepanjang tahun. Umekbubu atapnya terbuat dari runput alang-alang dan hanya memiliki satu pintu. Meski bentuknya seperti lopo, namun atap umekbubu dibuat sampai menyentuh tanah.

Jika batu sudah bersahut-sahutan itu bertanda para ibu atau para gadis sedang membuat jagung titi[5] untuk memasak bubur jagung titi. Seperti biasa Lina sudah duduk meluruskan kaki sambil memangku nyiru[6] yang di dalamnya terdapat dua buah batu kali, yang satu berukuran pelat seperti piring dan satunya lagi berukuran lebih kecil sehingga bisa dipegang dengan satu tangan. Sudah hampir setengah tahun anakku menggantikan aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, ia sangat rajin sekarang. Dan aku tahu mengapa ia begitu rajin sekarang, iya aku tahu, karena aku ibunya.

Menjelang siang suamiku pulang dengan wajah merah padam. Dari kejauhan ia memanggil-manggil nama putri kami.

“ Lina!!! Lina…!!!”, panggilnya dengan nada marah.

Pah[7]”, sahut Lina dari rumah tenunnya.

Tak lama kemudian ia muncul memenuhi panggilan ayahnya. Aku yang sudah ada di ruang depan menerka-nerka apa yang sedang terjadi saat itu, namun gagal, aku sungguh tak tahu.

“ Lina, ama dengar dari orang bahwa kamu menerima surat dari Lakman, benar atau tidak?”, tanya suamiku.

Putriku tertunduk, wajahnya memerah dan tiba-tiba air matanya mengalir sambil menganggukan kepalanya dengan pelan. Ia tahu ia sedang melakukan kesalahan, suamiku sangat tidak menyukai keluarga laki-laki itu. Aku beranjak merangkul putriku, ia tak salah telah mencintai Lakman, ia hanya sedang belajar mencintai dan dicintai oleh seseorang. Dan jika orang itu adalah Lakman, aku akan merayu suamiku untuk menyetujuinya hidup bahagia bersama Lakman, orang yang dicintainya.

“ Dengar ama Lin, cari laki-laki lain…. Kakeknya dulu sudah membunuh Nai’[8] Keke, apa kamu tuli dengan cerita ama selama ini?!”.

Sambil memelukku putriku berkata dalam tangisnya bahwa ia sangat mencintai Lakman. Namun ratapan iba putriku tak menyuruti amarah suamiku, ia malah menjadi-jadi. Malam itu suasana hangat di rumah kami pudar tanpa jejak. Inilah hidup, ketika kehangatan cinta itu pergi, nyawa mendadak tak berjasad dan jasad mendadak tak bernyawa. Semuanya pergi, lepas mengitari kehidupan tanpa kebersamaan. Dan aku kehilangan.

***

Daun jendela muda.

            Dari daun jendela ini aku masih mengeja daun-daun rindu yang masih tersisa di ujung kamarku. Masih sering kubaca wajah ama dan ena       lewat daun jendela tua itu. Setiap kali kutemukan mereka dalam bacaanku aku selalu mengucapkan kata maaf atas kelakuanku sepuluh tahun silam. Wajah ena selalu penuh air mata seakan ingin memelukku, namun wajah ama selalu dalam dua kawah. Terkadang kawah wajahnya putih dingin, dan kadang kawahnya menjadi merah padam. Meski nyawaku masih setia menemani jasadku yang kini telah lelah dengan air mata dan nestapa, namun bagi ama aku sudah mati. Sejak sepuluh tahun silam aku memang sudah mati terkubur kemarahan ama saat aku memutuskan untuk dibawa kawin lari oleh lelakiku, Lakman.

Malam itu lakman datang berbisik di bawah jendela kamarku dan mengajakku untuk kawin lari. Ia meyakinkan aku bahwa ama pasti akan mencariku dan semua akan baik-baik saja. Dan aku percaya pada Lakman bahwa ia akan berhasil melunakkan hati ama dengan caranya. Dengan segera aku membungkus mau[9] yang sudah lama kutenunkan untuk Lakman, dan beberapa barang lainnya. Malam itu dibawah sinar purnama yang terang Lakman membantukku keluar melalui jendela kamarku dan aku dibawanya pergi. Di bawah sinar purnama aku menyerahkan hidupku pada lelaki yang kucintai.

Satu minggu telah berlalu namun pintu rumah Lakman sama sekali tak terketuk oleh siapapun. Keluarganya acuh saja meski mereka tahu anak bujangnya telah membawa lari seorang gadis kerumahnya. Begitu juga dengan keluargaku yang tak terdengar mereka berusaha mencariku, ama dan ena seperti tidak kehilangan anak gadis satu-satunya. Semuanya sepi, diam, dan menciptakan kesunyian tanpa akhir hingga kini.

Daun jendela tua

            Setelah purnama menyaksikan putriku dibawa Lakman pergi, nada-nada gembira tersusun rapi dalam tetesan air mata yang keluar tiada henti. Aku tahu kebahagiaanku pergi mengalir dan habis bersama air mataku malam ini. Esok, tak akan lagi ada bahagia meski air mata datang kembali, tak akan. Dengan segera aku mengambil parang dan memotong dedaunan hijau dan kuletakkan di depan pagar rumahku. Namun belum sampai beberapa menit dedaunan itu sudah lenyap dibuang suamiku. Aku hanya menangis menatap dedaunan hijau itu dibuang dengan kasar, padahal seandainya dedaunan itu diletakkan di depan pagar rumah kami. Itu berarti kami sedang mencari anak gadis yang dibawa lari oleh laki-laki, dan jika laki-laki itu melihat tanda itu, ia akan kembali bersama anak kami. Dedaunan hijau itu juga sekaligus menandakan bahwa jika mereka kembali, semua akan diselesaikan dengan baik dan mereka akan menikah.

Hari demi hari aku terus merayu suamiku untuk meletakan daun, namun amarahnya telah membatu, gumpalannya telah menggunung dalam dasar hatinya.

“ En, jangan pernah ingat kalau kita punya anak, Lina bukan anak kita”, ujar suamiku suatu hari ketika aku masih duduk dan menagis.

“ Ama, jangan bicara seperti itu, dia anak kita…”, ujarku.

“ Kalau masih ingin menjadi istriku, jangan pernah menagisi anak itu di hadapanku…, kalau dia anak kita, dia pasti mendengarkan kita. Bukan orang lain…”, ujarnya lalu meninggalkanku. Sejak itu putriku tak pernah kembali, ia memang tak akan bisa kembali karena suamiku sama sekali tidak mencarinya. Meski kami tahu yang membawa putri kami adalah Lakman, namun ia nampak membiarkan putri kami pergi tanpa syarat.

Kini sepuluh tahun tlah berlalu, Lakman meninggal. Ia jatuh dari pohon kelapa ketika akan memetik kelapa muda untuk istrinya, putriku yang sedang hamil tua. Kudengar putriku pingsan ketika mendapati suaminya tak bernyawa lagi. Duka putriku semakin menjadi, setelah ia dibawa pergi dari rumah ini. Hanya Lakman yang setia menyediakan cinta tak ternilai untuk membuatnya tetap hidup. Meski aku tetap menyayanginya seperti sediakala, namun aku tak sanggup ada di dekatnya seperti saat pertama ia kulahirkan ke dunia ini. Aku tak bisa memeluknya, tak bisa menepis ketakutannya, tak bisa meredakan tangisnya. Iya, kini aku hanya seorang wanita tua yang tak sanggup memperlihatkan cintaku pada putriku.

Hanya pada Lakman, aku menitipkan cintaku pada putriku. Karena cintanya adalah cinta yang dikumandangkan alam pada semesta yang agung. Dan kini menantuku telah pergi menghadap Tuhan setelah berjuang membahagiakan putriku. Ya, ia pergi dengan ketegaran cintanya pada putriku. Harapanku kini kembali pada suamiku, setelah Lakman meninggal semoga ia mau memanggil putri kami kembali, meski kurasa itu hanya igauan laluku semata. Kembali dalam pangkuan rindukuku yang alam.

***

Daun jendela muda.

Suamiku kini telah menghadap sang Maha cinta. Ia tinggalkan ketegarannya untuk mengembalikan aku pada ama dan ena. Malam ketika keesokannya ia akan pergi, banyak dendangan pilu yang ia nyanyikan pada perutku yang kini membuncit.

Tat…[10], nyanyikan lagu yang senang, jangan yang sedih terus…”, protesku.

“ Biar mala mini kita bersedih, agar esok kau tidak lagi bersedih…”, ucapnya sambil memeluk dan menciumku.

“ Aku sangat menghargai cintamu padaku, pengorbananmu untuk hidup bersamaku tak bisa kubayar dengan apapun, kecuali dengan nyawaku…, hemmmm…. Namun jika aku pergi, aku masih menyisahkan janjiku padamu. Iyakan?”, tambahnya lagi.

“ Jangan omong yang tidak-tidak tat…”.

“ Kau tau janjiku adalah aku akan melunakkan hati ama dan ena. Tapi sampai hari ini..., aku belum berhasil melakukannya…”.

“  Apa kau mau memaafkan semua itu..?”, tambahnya sambil terus mendekapku erat.

Tat, semua itu keputusan kita, bukan salahmu sendiri… aku sudah memaafkanmu dan memaafkan diriku sendiri…”, ujarku sambil menatap matanya yang semakin aneh.

Malam itu ia memelukku dan terus mengajak bayi dalam kandunganku untuk bicara dengannya. Aku tak tau sampai pukul berapa ia tertidur, ketika tersadar pada pagi hari ia masih tertidur dengan tangan kanan memelukku. Malam itu adalah malam terakhir ia memelukku, sebelum ia jatuh dan meninggal karena akan memetik kelapa muda untukku.

Setelah kepergiannya, aku hanya bisa berdiri menghadap jendela tua di kamarku, tempat yang kulewati saat ia membawaku pergi dari rumahku. Hanya melalui jendela tua itu aku bisa kembali memasuki rumahku sendiri, meski hanya lewat baying-bayang semu. Semua pintu tlah dikunci, dan aku tak mampu membukanya, bahkan hanya untuk sekadar khayalan pun aku tak sanggup. Hanya melalui jendela tua itu, aku bisa kembali bermimpi mengenang masa bahagiaku bersama ena dan ama yang tak akan kembali.

Sedangkan pada jendela muda ini, aku tetap kembali mengenang masa indahku bersama lelakiku. Meski aku merasa nestapa ini semakin berat, namun mengingat cintanya aku paham tentang kerinduan dan pengorbanan. Aku memilihnya dan dia memilihku, aku berkorban untuknya dan dia berkorban untuk membahagiakaku. Biarkan rindu ini mengembun dan cair bersama air mataku, hingga suatu saat, melalui dua jendela ini aku bisa bertemu meraka yang kucintai, dan juga ia yang kucintai.

***

Selesai

 

[1] Ama: sebutan untuk ayah dalam bahasa dawan suku timor.

[2] Ena: sebutan untuk ibu dalam bahasa dawan suku timor.

[3] En berasal dari kata ena: sebutan untuk ibu dalam bahasa dawan suku timor.

 

[4] Lesu: sapu tangan.

[5] Jagung titi: jagung yang dihaluskan dengan menggunakan batu.

[6] Nyiru: alat untuk menapis beras.

[7] Pah: sahutan dalam bahasa dawan yang berarti iya atau sama dengan kata ndalem dalam bahasa jawa.

[8] Nai’: sebutan untuk kakek dalam bahasa dawan suku timor.

[9] Mau’: sebutan sarung tenun untuk laki-laki.

[10] Tat: dari kata Tata yang berarti sebutan kakak dalam bahasa dawan suku timor.

  • view 85