Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Februari 2018   19:14 WIB
NOVEL : ELIANA #Part 2 Senja di Batavia

Selasa 30 Juni 2009

Seorang gadis menuruni anak tangga pesawat dengan langkah pasti meski gelombang hatinya tak menentu. Biar tak terkesan membuntuti orang ia mengatur langkahnya, berjalan pelan mengikuti penumpang pesawat lainnya.

“Ingat, jangan terpisah dari rombongan…,” ucapan kakaknya ketika mengantarnya ke bandara Eltari. Kata-kata itu menggema dalam telinganya lagi seolah mengingatkannya untuk siaga. Setelah melewati lorong-lorong panjang seperti lorong rumah sakit, akhirnya rombongan yang diikuti sampai pada sebuah benda berjalan yang memuat bagasi. Orang-orang berdiri mengelilingi benda itu, pelan-pelan gadis bertubuh tinggi itu maju mengambil tempat. Tas dan koper berjalan di atas roda besi itu, bila si pemilik mengenali barangnya, cepat-cepat di angkat dari roda besi itu. Beruntung gadis itu hanya membawa sebuah koper dan sebuah kardus berisi oleh-oleh dari rumah.

Usai mengambil barangnya ia menuju pintu keluar sambil mencari-cari Kak Raini, kakak sepupu yang akan menjemputnya. Tak lama setelah berada di dalam kepungan keramaian, kakak sepupunya dengan sigap menemukan gadis itu dalam lautan manusia di bandara Soekarno Hatta. Sambil mencium tangan kakak sepupunya gadis itu menangis.

“Loh, kok nangis… Baru di bandara udah ingat rumah?” ujar Kak Raini sambil memeluknya. Gadis itu kembali menguatkan diri, air mata yang mengenang dihapus perlahan.

“Tenang, ayo kita pulang. Kita naik Damri aja ya, bawaan ade nggak banyak,” tawar kakaknya. Lagi-lagi gadis itu tak bicara, ia hanya mengangguk setuju. Tatapan matanya tak bersemangat, ia terlihat payah karena perjalanan panjang itu. Kak Raini cepat menuntunnya menyebrang ke halte Damri dan membeli dua tiket arah Kampung Rambutan. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Damri tujuan Kampung Rambutan datang dan mereka segera naik.

“Kak, kenapa angkot di Jakarta jelek-jelek…,” ujar gadis itu polos ketika bus Damri memasuki daerah Jakarta. Mikrolet-mikrolet hilir mudik di jalan, tak ketinggalan metromini yang doyan ngebut pun terlihat menjamur di jalanan ibu kota. Kak Raini tertawa mendengar pertanyaan adik sepupunya, sambil membuang pandangan ke jendela bus Damri yang mereka tumpangi ia berkata, “Di Jakarta itu de’, jangan dipikir yang baik-baik aja yang ada di di sini. Jakarta itu komplit, dari yang jelek sampai yang bagus, bukan hanya angkot, orang-orangnya juga sama.”

“Aih, kalau angkot begini di bawa ke Kupang, yakin tidak ada orang yang mau numpang. Paling orang-orang tua, kakak tau kan? Kalau di Kupang, angkot yang tidak punya tape dan salon pasti jarang yang naik.” Mendengar pernyataan adik sepupunya, Kak Raini hanya tersenyum seolah berkata bahwa di Jakarta orang tak banyak pilih-pilih alat transportasi, mereka hanya butuh satu, kecepatannya.

***

“Eliana…,” suara seseorang memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya. Eliana terbangun mendapati dirinya sendiri di dalam kamar kosnya. Sejak lulus tes dan resmi menjadi mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta ia menempati sebuah kos di dekat kampusnya.

“Eliana…Tok..Tok..Tok…,” suara itu datang lagi menguji kepekaannya.Ia melirik jam yang tergantung di dinding kamar, pukul 05.00 pagi.

“Iya. Sebentar…,” jawabnya sambil bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Entah siapa yang teramat membutuhkannya pagi itu, sampai-sampai masih subuh sudah mendatanginya. Ia melangkah cepat membuka pintu.

“Bapak…,” ucapnya lirih saat melihat lelaki di depannya.

“Eliana, ni udeh tanggal 18, lu pan masuk ke kosan ini tanggal 18 bulan kemarin. Nah, gue mau minta uang kosan bulan ini ama elu.Ude ada pan ye?” ujar lelaki itu tanpa basa-basi.

“Iya pak, ada. Tapi belum diambil Pak masih di ATM, nanti agak siang ya Pak saya bayar uang kosnya,” jelas Eliana.

“Iye, lu jangan lupa ye. Anak gue si Entin mau bayar uang sekolahanye, lu jangan kayak si Lia…noh yang kamarnye di pojokan ntu. Kalo bayar kosan telat mulu…,  lu kudu tau pada ye gua paling anti yang namanye bayar kos pake telat.”

“Iya Pak,” ucap Eliana pendek.

 “Ya ude ye, gua mau pulang dulu ke rumeh, lu kudu inget ye, ntar siang gua tunggu di rumah gua.” Lelaki tua itu melangkah meninggalkannya setelah menjelaskan maksudnya dengan logat ceplas-ceplos, khas orang betawi.

Seperti umumnya orang betawi, laki-laki tua itu tak pernah lupa tanggal pembayaran uang sewa kos. Demi kenyamanannya sebuah kalender besar ia gantung di ruang tengah rumahnya. Kalender itu penuh dengan coretan tangan, ia terbiasa menandai tanggal masuk setiap penghuni kos, bahkan sebuah buku agenda berisi daftar nama lengkap dengan tanggal penagihan. Ia tak pernah terlambat sehari pun dalam menagih sewa kos. Kata tetangga kamarku, bila ia sakit dan tak bisa mondar-mandir ke rumah kos, biasanya anak atau istrinyalah yang akan menggantikan pekerjaan menagih uang sewa.

Eliana merasa kesal subuh-subuh sudah ditagih, tapi segera ditepis rasa kesalnya, ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan Jakarta. Sigap ia segera mengambil air wudu dan menunaikan sholat subuh. Usai sholat subuh ia mengambil mushaf Al-Quran dan membaca dengan nada pelan. Gadis itu terlihat lebih tenang dengan Al-Qurannya. Meski bukan anak pesantren ia terlatih dengan baik dalam membaca Al-Quran. Bapaknya sangat perhatian dengan agama, sejak kecil ia dan saudara-saudaranya sudah dititipkan untuk belajar mengaji dengan Ustad Haryono. Meski bapaknya adalah seorang guru agama dan telah mengajar mengaji sejak dulu ketika bersekolah di  PGA Kupang (Pendidikan Guru Agama yang kini berganti menjadi Madrasah Aliyah Negeri Kupang). Bapaknya lebih percaya kepada seorang mubalig berdarah Jawa yang setia mengajar mengaji di masjid An-Nur Niki-Niki. Maka tak heran meski berada di daerah minoritas Islam, Eliana tetap taat memegang teguh ajaran Islam.

Eliana kecil pernah ikut serta dalam lomba-lomba keagamaan, ia menyukai kaligrafi dan pidato. Beberapa piala berderet dengan bangga dalam sebuah bufet kayu di ruang depan rumah mereka. Tak hanya itu, ia juga menyukai olahraga taekwondo dan kerap ikut serta dalam kejuaraan-kejuaraan di kota Kupang. Membicarakan hobi gadis manis itu seakan tak ada habisnya, sejak menginjak bangku Madrasah Aliyah ia tergabung dalam kelompok teater sekolah dan mulai menyukai dunia tulis menulis. Dan kini, gadis itu ada di Jakarta. Kota nomor satu di Indonesia yang terkenal sibuk. Ia sedang menyusun kerangka mimpi yang ia tuliskan dalam selembar memori, bahwa mimpi adalah jembatan menuju kenyataan.

***

“Kota ini benar-benar tua, ternyata bukan hanya namanya yang tua. Segalanya menjadi tua, termasuk aku yang duduk di bawah gedung tua ini, pikiranku mengungsi ke masa dulu,” bisik hati Eliana sambil menatap kemuning senja di Kota Tua. Dua bulan setelah mengikuti ujian masuk dan diterima di sebuah universitas swasta di Jakarta, Eliana mendatangi kota tua. Sendiri. Kehampaanlah yang membuatnya belajar berjalan sendiri di tengah kota, menikmati semangkok bakso di pinggir jalan, juga bernyanyi mengikuti suara pengamen yang menurutnya lebih cocok jadi artis, suaranya bagus.

Senja itu Eliana duduk menatap senja, hatinya carut-marut dibom aneka rindu. Wajah bapak dan mama hadir bergantian, juga saudara dan teman-temannya. Bersamaan dengan senja yang hampir tenggelam, air matanya pun menetes, ia menangis. Semua kenangan hadir kembali, dadanya terasa kosong, sebuah kekuatan mengambil ketabahannya. Air matanya menetes dan menetes lagi. Ia sadar senja yang baru ia lewati bukanlah senja di pantai Namosain atau pantai Lasiana, sebab tak ada laut biru, tak ada nelayan dan sampan , juga tak ada pemuda yang ramai bermain sepak bola di pinggir pantai.  “Tuhan, ini nyata… Aku telah meninggalkan semuanya. Senjaku kini ada di sini,” ujar hatinya sambil menarik napas, mencuri kekuatan dari udara yang masuk memenuhi rongga dadanya.

Kota Tua senja itu padat pengunjung. Atraksi-atraksi para seniman jalanan menambah semarak kota kecil itu. Seorang wanita bertubuh gendut terlihat berdandan ala nonik belanda dengan baju putih dan payung motif kembang-kembang, juga seorang lelaki ala militer zaman dulu lengkap dengan aneka pistol dan meriam berdiri mematung di tengah lapangan, dialah manusia patung. Tak ketinggalan aneka setan-setanan dengan dandanan seram membuat Kota Tua semakin semarak. Muda-mudi datang bergerombol, meski tetap lebih banyak yang datang berdua-duan. Mereka berjalan pelan-pelan sambil menenteng kamera, mengabadikan setiap momen yang dianggap menarik.

Seorang pengamen berdiri di depan Eliana, sambil meminta izin pengamen itu memainkan gitarnya. Eliana teringat pesan Kak Raini agar bersikap sopan terhadap pengamen maupun peminta-minta karena mereka cepat tersinggung. Bila tak ada uang, cukup mengangkat tangan dan meminta maaf,  mereka akan pergi.

“Terlalu manis… untuk dilupakan…,” suara pengamen itu memekik membelah angkasa menyanyikan lagu milik sebuah grup band terkemuka di Indonesia. Gadis di depan pengamen itu merogoh saku jaketnya, ia keluarkan dua keping uang logam. Segera ia masukannya begitu pengamen itu selesai dan meminta terima kasih sambil menyodorkan topinya. Melihat topinya terisi pengamen itu membungkukan diri memberi hormat lalu pindah ke rombongan yang duduk di seberangnya. Eliana memejamkan mata sejenak sambil mengambil kembali kekuatannya, ia melihat lelaki pengamen itu. Meski hanya seorang pengamen lelaki itu terlihat bersemangat, cahaya yang berpijar dari matanya penuh optimis. Lalu ada apa dengan dirinya, mengapa ia tak juga optimis bahwa takdir tak akan menyia-nyiakan kehidupannya di kota Batavia. Takdirlah yang mengantarnya ke kota asing itu, bukankah semua terdorong atas keinginan yang suci; untuk ilmu.

Meski otak bekerja keras memproduksi berbagai alasan logis, namun gadis itu tetap saja tersandung pada satu masalah, rindu. Rindu selalu menghakimi kesendiriannya. Wajah-wajah itu muncul lagi dan lagi, terutama rekaman wajah Mama. Wanita itu meneteskan air mata melepas anaknya merantau, sambil memeluk Eliana ia berbisik, “Jaga diri baik-baik e, jaga nama bae keluarga. Mama dengan bapak selalu berdoa yang terbaik untuk Nana,” lalu air matanya jatuh setetes. Ya. Hanya setetes, karena tetes berikutnya terpenggal di daun matanya. Wanita itu tak ingin melihat putrinya rapuh, maka didekapnya lebih erat kemudian gadis itu dilepas untuk pergi.

Gelak tawa beberapa pemuda di seberang tempat ia duduk menyadarkan lamunannya. Eliana melihat jam dipergelangan tangan kirinya, 19.30 WIB. Ia harus segera pulang.Gadis itu bangkit dari tempat duduknya, hari sudah beranjak malam dan lampu-lampu telah dinyalakan. Kota Tua menjadi begitu manis untuk ditinggalkan. Senjanya di Batavia tenggelam beberapa beberapa waktu yang lalu, dan ia sadar, senja di Batavia tak pernah seramai imajinasinya.

***

Karya : Sayyidati Hajar