Fetor Noebunu (Naskah Drama)

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 13 Februari 2018
Fetor Noebunu (Naskah Drama)

(Layar masih tertutup, panggung gelap,  terdengar musik leko’ sene’ selama dua menit. Pelan-pelan layar dibuka. Sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berjalan dari sudut kiri panggung tetap diiringi musik leko’sene’ menemui Usif yang sedang duduk di dalam istana. Mereka berlutut memberi sembah salam pada Usif. Usif memandang anak perempuan itu sambil tersenyum lalu berganti pandang pada anak laki-lakinya. Usif tersenyum bahagia sambil mengangguk-anggukan kepala. Anak laki-laki  lantas berdiri mengajak anak perempuan itu memberi salam pada usif)

Ena 1               : Mengapa kalian semua menari? (Mengamati Ena-Ena yang baru datang)

Ena 2               : (Balasa mengamati) Rapi…

Ena 3               : Rapi… (Mengikuti)

Ena 2               : Usif sedang menikahkan Naimnuke Lemo dan… kami semua bahagia

Semua Ena       : Sama ! (Serentak dengan wajah penuh bahagia)

Ena 1               : Kalau begitu mari kita menari…

Ena 2               : Betul mari kita rayakan

(Musik terdengar mereka mulai menari dengan gembira. Tiba-tiba rombongan usif dan kato masuk ke panggung. Para Ena yang menari segera menyadari kedatangan Usif, mereka berkumpul memberi salam)

Usif                 : Selamat. Selamat anak-anakku. Kalian akan mengarungi kehidupan yang baru. Kelak   bila kalian memiliki anak. Mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin yang tangguh. Mata mereka tak pernah takut pada musuh. Tangan mereka kuat mematahkan besi. Tapi hati mereka akan lembut memahami rakyat.

Semua              : Selamat Nenoanan (sambil membungkuk memberi selamat)

Usif                 : Uis neno nokan kit. Em…Emhat bon… Ama Lipus… panggil para ama dan ena untuk menari. Mari kita menari bonet.

( Musik leko’ sene’ terdengar lebih keras. Masyarakat berkumpul dan menari bersama selama beberapa menit kemudian musik berubah menjadi musik bonet. Masyarakat langsung membuat lingkaran menari bonet. Tak berapa lama rombongan usif meninggalkan panggung. Masyarakat tetap  menari sambil satu persatu mengarah ke sudut kanan panggung dan keluar. Begitu musik selesai panggung kosong. Seorang pangeran kecil muncul dengan membawa pemanah. Ia berjalan pelan-pelan sambil membidik ke atas. Tiba tiba tiga pangeran lainnya muncul. Mereka menggelitik adiknya)

Naimnuke 4     : Tata’. Kenapa kalian selalu mengikuti saya. Pergi bermain sendiri. (teriaknya dengan keras)

Naimnuke 2     : sudah berbulan-bulan l’eko itu kamu pegangi, tapi tidak pernah saya dengar bunyinya bagus. Mari ke sini adik kecil, biar saya ajarkan cara yang tepat. (Ujarnya sambil mendekati Naimnuke 4)

Naimnuke 4     : tidak mau. EnEna’… Tata’ mau mengambil ‘leko saya. En

(Naimnuke 2 dan 3 berpura-pura berlari sambil mengejar naimnuke 4 di dalam istana sambil terkekeh kekeh. Bila mereka mendapat adiknya, mereka menggelitiknya sampai tertawa dan berteriak memanggil Ena’Nabu. Sesaat kemudian Ena’Nabu mendengar suara mereka dan muncul dari kiri panggung bersama Usi’ Kole)

Ena’Nabu`       : Molo’, jangan ganggu adikmu.

(seru Ena’ Nabu sambil berjalan di samping Usi’ Kole. Mereka berjalan lalu duduk memerhatikan anak-anaknya bermain. Musik leko sene berbunyi pelan. Begitu musik selesai para pangeran sudah keluar dari panggung)

Ena’ Nabu       : Baru kemarin rasanya kita menyaksikan mereka bermain di halaman ini. Suara mereka menggelagar memenuhi sonaf ini. Sekarang mereka bahkan sudah menikah dan punya anak.

Usi’ Kole         : Seperti yang dituturkan Ama Usif saat hari pernikahan itu. Kita memiliki putra yang sehat dan tangguh. Mereka seperti empat tiang-tiang lopo ‘naek yang kokoh di kaki gunung Tuniun ini. Empat putra tanpa putri. Tidak apa-apa, kelak keturunan mereka akan banyak cucu-cucu perempuan.

Ena’ Nabu       : Saat ini, Naimnuke’ Gabriel berada di dalam penjara. Anak pertama kita ini mendapatkan ujian seperti Usi’ Kole. Adik-adiknya pun turut menjadi incaran mereka. Meski begitu mereka harus didorong untuk tetap sekolah.

Usi’ Kole         : Meski kau menyembunyikan kekahwatiranmu, aku tetap menangkapnya dalam matamu. Putra-putramu lahir dari darahku, mereka memiliki tujuan yang akan mereka capai. Jangan khawatirkan mereka secara berlebihan. Berdoa pada uis neno dan uis pah agar menjaga mereka.

Ena’ Nabu       : begitulah kami para perempuan yang hamil, mengandung dan melahirkan Usi’. Kami menyusui dan menjaga mereka sampai kaki-kaki mereka mampu berjalan sendiri. Saat mereka masih kecil, kami ingin mereka segera dewasa agar mereka mampu menjelajah dunia ini. Namun ketika mereka dewasa, terkadang kami ingin mereka tetap kecil… bermain di bawah pengawasan kami. Ainu… betapa plinplannya kami

Usi’ Kole         : saya tidak pernah menganggapmu plinplan. Bukankah memang demikian perasaan seorang ibu yang khawatir akan anak-anaknya. Bersabarlah En… terkadang aku menyombongkan diri bahwa keberanian mereka murni dari darahku. Tanpa kusadari dalam darahmu pun mengalir keberanian tiada tara.

(Ena’ Nabu berubah raut wajahnya. Senang bercampur malu)

Usi’ Kole         : Ingat, ketika para amaf mengejar rusa waktu itu. Dengan berani kau keluar dengan kayu di tanganmu. Hanya dengan sekali pukul, rusa itu tak mampu lari lagi. Hahaha… (Tertawa sambil bangkit dan berjalan-jalan kea rah depan panggung, lalu tiba-tiba teringat). Ah iya, saat kau menggantikanku membawa pajak masyarakat Noaebunu ke Soe. Kau menunggangi kuda dengan gagah berani menempuh perjalan yang jauh. Orang-orang hanya menyaksikan debu yang tertinggal di jalan-jalan sambil berkata … lihat… itu Ena’ Nabu… Kato’ Noebunu…

Ena’ Nabu       : Usi’ terlalu banyak mengingat yang lalu-lalu, bahkan yang paling lalu sekalipun. Ingatan Usi’ sangat baik…

(Musik Leko’Sene terdengar perlahan. Ena’ Nabu bangkit lalu keluar ke sisi kanan panggung. Satu menit kemudian dua orang laki-laki masuk ke panggung menghampiri Usi’ Kole’. Satu orang berpostur tinggi besar merupakan seorang Belanda, sedangkan seorang lainnya bertubuh khas Timor meski sedikit tinggi juga. Gaya mereka sopan dibuat-buat)

Laki-laki          : Sonaf Noebunu…

Orang Belanda : (mengamati sekeliling)

Laki-laki          : Ah, kau… di mana Usi’ Kole?

Pelayan                        : Usif sedang pergi ke Nipol Tuan.

Laki-laki          : Hah… Kapan pergi? Kapan Kembali?

Pelayan                        : Saya tak tahu Tuan. Saya akan beritahu Ena Kato’ atas kedatangan Tuan.

Laki-Laki         : Ya… Beritahu Kato’ Sonaf Noebunu. Lalu… hei, apa kau lupa cara memuliakan tamu?

Pelayan                        : Maksud Tuan?

Ena’ Nabu       : (Tiba-tiba muncul dari balik rumah) Kami tak lupa Tuan. Orang Timor tak pernah lupa memuliakan tamu.  Ena’ Kauna’….  Minta Ama’ Lius untuk memanggang daging dari kambing terbaik, cari tua’ terbaik. Tuan-tuan ini memiliki selera minum Sopi yang mengagumkan. Ayo cepat…

Laki-Laki         : Kato’ Noebunu… Ena’ kato Noebunu… Seorang penyimpul yang baik. Simpulanmu tepat bahkan sebelum kami bicarakan…

Ena’ Nabu       : Saya bahkan dapat menyimpulkan hanya dengan mendengar tarikan napasmu Tuan.

Laki-laki          : lalu? Apakah kau tah sesuatu akan saya, dan ah… iya… Meneer Robert… Kemari… berkenalanlah dengan ratu… eh, permaisuri… kato’… sama saja…

Orang Belanda : Sha…yaa.. Robert. (menyodorkan tangan pada Ena Nabu namun tak dibalas dan tiba-tiba dijabat oleh Usi’ Kole yang muncul di depan mereka) Ohh… Goedemorgen… Ik ben Robert

Usi’ Kole         : Selamat datang di Sonaf Noebunu, Tuan-Tuan.

Orang Belanda : Dankj   Thu..an…

(Mata Ena’ Nabu langsung menatap wajah keberatan Usi’ Kole atas keberadaannya. Ia melangkah mundur meninggalkan panggung)

Laki-laki          : Maaf bila kedatangan kami mengejutkan. Kami datang untuk meminjam sulat plenat  fetor Noebunu. Surat itu dibutuhkan pemerintah untuk penyesuaian gaji?

Usi’ Koli          : Penyesuaian? Bukankah data saya telah lengkap? Sudah saya turuti keinginan tuan-tuan, saya telah datang membawa surat ini dan telah diperiksa.

(Orang belanda berbisik pada laki-laki itu meminta penjelasan)

Laki-Laki         : Tapi kali ini berbeda, kami meminjamnya sebagai bukti Usi’. Saya dan meneer Robert telah berkeliling. Sulat Plenat fetor Noehonbet, Noelaku, Noeliu, dan yang lain sudah ada di tangan kami.

Usi’ Koli          : Saya akan antar sendiri ke Soe. Jangan khawatir tuan-tuan. Saya Fetor Noebunu, akan menyampaikan sendiri surat ini.

Laki-Laki         : Jadi Usi’ tidak percaya pada saya?

Usi’ Koli          : Bicaralah yang lain, jangan pernah Tuan bicara akan kepercayaan. Kepercayaan pada manusia lebih sering berakhir pada pengkhianatan.

(Wajah Usi’ Koli berubah menahan emosi. Suaranya meninggi. Orang belanda itu melirik pada laki-laki di sampingnya)

Orang Belanda : Hoe… Wergende hij? /bagaimana? Apakah dia menolak?

Laki-Laki         : Maak je geen zorgen. /Jangan khawatir (mencoba menenangkan teman belandanya)

Apa maksud Usi’? Kami hanya menjalankan tugas. Bila Usi’ berkeberatan, tidak menjadi soal. Tapi saya bukanlah pengkianat!

Usi’ Kole         : Silakan Tuan-Tuan pulang. Sebagai camat Noebunu,  saya berterima kasih atas kebaikan Tuan-Tuan mengabarkan berita ini. Akan saya antar surat itu besok pagi.

(Begitu keluar, mereka berpapasan dengan pelayan yang membawa makan)

Pelayan                        : Sopinya Tuan…

Laki-Laki         : Minum sendiri!

(sambil melotot. Pelayan berjalan mundur diiukuti Kedua orang tersebut dengan wajah masam. Musik leko sene terdengar bertalu-talu. Usi’Kole duduk termenung sesekali berjalan mengelilingi panggung. Air mukanya mengeras, tampak otaknya pun dipaksa ikut berpikir keras. Musik mengalun lebih pelan)

Usi Kole          : Apa yang Tuan dan Nyonya pikirkan tentang penghianat dari golongan sendiri? Bukankah akan tertinggal rasa sakit yang tak habis ditelan umur? Ya. Umur manusia tak sepanjang aliran sungai yang menyambung ke laut. Umur ini teramat pendek. Namun dengan umurku yang pendek ini, aku habiskan melihat saudara-saudaraku ditipu saudara sendiri. Orang Timor ditipu sesama orang Timor. Mereka menyebutnya ‘kerjasama’ dengan kaesmuti’. Dan kaesmuti’, orang-orang kulit putih itu tak segan-segan membunuh dan membakar. Ailooooh….malang-malang sekali kami ini.

 (Menarik napas panjang melakukan monolog) esok lusa, darah-darah manusia macam ini akan merengseng masuk ke dalam sekolah-sekolah, kantor-kantor, negara-negara, seluruh dunia akan berlimpah pengkianat. Dan lagi-lagi, yaaa… pengkhianat dari golongan saudara sendirilah yang akan lebih menusuk, membentuk luka abadi. Zaman belum lagi maju, namun pengkianatan sudah lebih canggih dari teknologi. Saya telah membaca kegelapan ini, mereka akan tetap hidup sampai zaman ini mati. Anak-anakku akan terus diadudomba, difitnah, hingga keluar masuk penjara. (tiba-tiba musik melankolis) An..aaak… Anaaakku… mereka dikejar seperti pencuri… dipukuli tanga-tangan kotor…itu. Mereka diseret.. keluar seperti pengkianat… aku tak punya kekuatan untuk membela mereka…Tuan…Nyonya. Orang-orang itu telah membentuk suatu sistem yang kejam…membunuh setiap anak-anak yang jujur membela rakyat. Dan mereka ini kelak akan menguasai bangsa ini… bangsa ini… akan diramaikan berita para pengkhianat dari golongan kita sendiri… (menangis)

(Tak berapa lama mendengar suara orang memanggilnya. Ama’Ama’Usi’ Koli mencari sumber suara. Usi Kole terkejut bukan main, ia meloncat memeluk anaknya sambil terus berbicara, Au anah.. Au an mone… Au anah… fain nem. Anak saya kembali….)

Naimnuke 1     : Am… Saya sudah kembali, tidak perlu Ama merisaukan saya lagi.

Usi’ Kole         : Penjara batu itu. Dulu Ama’ pun pernah dikurung di sana. Mereka rupanya tak pernah puas. Tak cukup saya, kau pun harus merasakan dingin dan kejamnya bangunan batu itu.

Naimnuke 1     : Ama’… Penjara hanya mengurung jasad, tidak kekuatan pikiran ini. Aku sudah kembali, meski tak ada jaminan esok-lusa jasad ini harus terkurung lagi.

(pikiran Usi’ Kole tiba-tiba menerawang. Seolah mengingat sesuatu yang sangat pedih namun juga menyisipkan amarah)

Usi’ Kole         : Mereka telah membakar Ama’ Nuban di Fatu Tunbes. Sebelumnya mereka pula sudah menipunya. Cendana, lilin, semua diraup dengan muslihat. Ama’ Nuban dan para Amaf lari tersebar di berbagai penjuru.

Naimnuke 1     : Saya sudah mendengar berita ini Ama’. Memang sulit berjaga bila teman sendiri yang membawa pisau. Sepertinya kita telah kehilangan persaudaraan… kekuasaan selalu memakan saudara.

Usi’ Kole         : Ainooooh…. Uis neno nok uis pah nokan kit… besok Ama akan pergi ke Soe. Mereka meminta surat keputusan Ama sebagai Fetor untuk mengurus penyesuaian gaji. Temui Ena’ lalu istirahatlah. Penjara telah memakan sebagian badanmu.

(Usi Kole berjalan keluar panggung. Musik mengalun lebih keras. Naimnuke 1 bangkit dan ikut keluar. Suasana pagi hari, burung-burung berkicau penuh semangat. Ena’ Nabu duduk menyisir rambut panjangnya lalu membentuk konde besar. Sebuah tusuk konde diselipkan dengan rapi. Tiba-tiba Naimnuke 1 memasuki panggung)

Naimnuke 1     : Ena’ masih suka merawat rambut seperti dulu… lihatlah… rambut Ena’ semakin hitam dan panjang. Hehehe…

Ena’ Nabu       : Nenekmu sudah memberi bekal berbagai macam ramuan untuk kesuburan rambut. Sudah Ena pelajari sejak kecil daun dan akar tumbuhan itu, termasuk cara membuatnya.

Naimnuke 1     :  Sebenarnya Ena’ hafal karena takut pada Nenek kan? (tertawa) Mata Nenek sangat tajam…

Ena’ Nabu       : Ya. Kau kan pernah lari sambil terkencing-kencing dikejar Nenekmu. si Manis, anjing kesayangannya mati kau tembak. (tertawa)

Naimnuke 1     : AinooohEn… Jangan ceritakan itu …. (Sambil melihat kesana-kemari) Bagaimana kalau adik-adik mendengarnya.

Ena’ Nabu       : (tertawa) Biarlah mereka dengar. Kau selalu ingin kuat dan hebat… biarlah mereka tahu… (Tiba-tiba air muka  Ena’ Nabu berubah. Tawanya berhenti) Amaa….

 Naimnuke 1    : Ada apa En?

Ena’ Nabu       : Ama sudah pergi pagi-pagi sekali. Orang-orang itu datang kemarin, mereka ingin meminjam sulat plenat Ama. Tapi Ama bersikeras ingin mengantar sendiri ke Soe.

Naimnuke 1     : (menarik napas panjang, matanya menatap kosong langit-langit) Tenanglah Ena’, Ama bisa mengatasinya.

(Musik kembali terdengar semakin lama semakin kencang. Bunyi sepatu kuda berdentuman diiringi teriakan kuda dan koa yang bertalu-talu dari jauh. Semakin lama semakin turun hanya terdengar bunyi kuda dipacu dan teriakan koa. Wajah Ena’ Nabu dan Naimnuke 1 berubah menjadi resah. Keduanya berlari kesana kemari di atas panggung memastikan asal suara itu. Lampu mulai meredup, Ena Nabu kembali tenang dan mengambil posisi duduk  di sudut panggung, lampu sorot berwarna kuning mengarah kepadanya. Ia duduk memanjatkan doa pada para leluhur. Bunyi itu semakin dekat dank eras lalu muncul sosok dari sudut panggung. Sosok itu usi kole)

Usi’ Kole         : Aa’auooooooo….. (mengulang koa dengan penuh amarah. Matanya memerah)

                        Ama Lius, mekit ai. Bawakan api! Korek api! Cepat! 

(Seorang laki-laki masuk membawakan korek api. Usi Kole dengan mengambil buku-buka dan berkas surat-surat yang ada di dalam almari. Dibuangnya di tempat api, lalu menyambar korek api dari Ama Lius)

Usi Kole          : Biar musnah semua catatan ini. manusia penipu!

Naimnuke 2     : (Tiba-tiba muncul dan memeluk Usi’ Kole) Usi…. Jangan bakar surat-surat ini. jangan lakukan Usi’.

(Usi’ Koli tak mengubris, api menyala melahap kertas-kertas. Namun akhirnya kedua bersaudara itu mencari air dan menyiramnya. Laki-laki yang menipu Usi Kole masuk dengan tawa melengking)

Laki-laki          : (Tertawa panjang)  Fetor Noebunu… Hari ini hari bahagiamu, kau telah kehilangan surat keputusan fetor. Hari yang bahagia bukan? Kemarahanmu sungguh membahagiakan… (mengejek)

Naimnuke 2     : Apa maksudmu penjilat kaesmuti’?

Laki-laki          : Sssssst…. Hati-hati dengan bicaramu. Sebab sekolah tinggimu itu tak akan mampu menjadi tameng menuju penjara batu.

Naimnuke 1     : Baiknya saudara pulang. Tak ada manfaa…

Laki-laki          : Ssssst… saya bermanfaat. Telah saya bebaskan Usi Kole dari tugasnya. Tak perlu makan gaji, tak perlu terima pensiunan. Manfaat apa lagi yang saudara inginkan?

Naimnuke 2     : Kau telah mempermalukan leluhur kita. Ama’ mu tentu menyesal sekali memiliki anak penjilat sepertimu.

Laki-Laki         : Berhenti membawa Ama’ ku!

Naimnuke 2     : Lalu kau pun berhenti! Berhenti menganggu kami!

Laki-laki          : Menganggu? Bila kau terganggu, itu artinya kau lemah (tertawa) bagaimana Usi’ Anak-anakmu yang kau banggakan hanya mampu  melihat dan marah. Tak mampu berbuat sesuatu denga otak mereka yang kau sekolahkan…hahaha

Usi’ Kole         : Cukup!!! (Menerik napas panjang) Hari ini telah kusaksikan segalanya. Demi tanah yang kita pijaki dan langit yang kita junjung. Air yang kita minum dan udara yang kita hirup. Tanah, langit, air, dan udara bersaksi, sampai mati…. Seberapapun kali kau bersembunyi, tanah ini tetap akan mengenangmu sebagai pengkhianat. Pulanglah…sebelum senapan Fetor Noebunu memecah kepalamu.

(raut wajah laki-laki itu pucat, namun kembali ia menguasasi diri)

Laki-Laki         : Hiiiiii…. Seraaam…. Jangan Usi’…. sungguh…. Aku sungguh takut akan senjata….

(dengan gerakan cepat sebuah pedang telah berada di leher laki-laki itu)

Naimnuke 1     : (sambil menodongkan pedang) Jangan menguji kesabaranku, saudara. Beraninya kau menghina Usif  Noebunu. Pergilah!!! Sebelum kepalamu terpenggal!

Usi’ Koli          : Usir dia! Cepat Usir dia

(Laki-laki itu beringsut keluar dengan wajah pucat. Kedua anaknya membawa laki-laki itu keluar. Usi kole kembali duduk. Ena Nabu membuka matanya, ia mengambil napas pelan lalu bangkit dari posisinya. Ia mengambil air dari kendi menuangnya ke gelas dan menyuguhkannya kepada Usi’Koli)

Usi’ Koli          : Mereka menipuku! Pengkianat-Pengkianat itu menipuku!

Ena’ Nabu       : Minumlah Usi’.

Usi’ Koli          : Mereka merobek sulat plenat-ku sebagai Fetor Noebunu. Dan benar katanya… anak-anakku tak mampu berbuat apa-apa.

Ena’ Nabu       : Jangan salahkan anak-anakmu Usi’.

Usi’ Koli          : Lalu siapa? Kau menganggapku lemah. Tak mampu melindungi diri dari jabatan ini. Iya? (Suaranya mengeras)

(Ena’ Nabu terdiam. Ia tak lagi menyambung pembicaraan dengan suaminya. Keduanya terdiam beberapa saat. Usi’ Koli mengambil air yang diberikan istrinya di atas meja lalu meminumnya. Ia menarik napas pelan)

Ena’ Nabu       : (Menatap wajah Usi’ Koli) Usi’… Bukankah dahulu Usi’ menyatakan. Jabatan adalah titipan yang tak mampu di bawa mati namun sanggup membuat mati. Uis Neno, bersama kita. Tak penting jabatan Fetor itu, yang penting adalah tetap berjuang memberi rasa aman pada masyarakat Noebunu.

Usi’ Kole         : (Mentaap dalam-dalam wajah istrinya) Ya. Kau benar. Hampir saja terlupa kata-kata itu. Masyarakatku… rakyatku… mereka adalah kebahagiaanku. Gabriel… (memanggil Naimnuke 1)

Naimnuke 1     : Bagiamana Ama’?

Usi Koli           : Duduklah

Ena’ Nabu       : (tersenyum) Sekolah tinggi kalian adalah kebanggaan kami. Kami bangga meski kalian pagi bernapas bebas dan sore bernapas di penjara. Anak-anakku, kebebasan ini abstrak. Mereka yang benar-benar bebas adalah mereka yang bernapas dengan ketulusan dan berpikir dalam kebaikan. Dan hanya orang-orang tulus dan baiklah yang sanggup menjadi pembela bangsa ini. Jangan sekali-kali menjadi penghianat bangsa ini. Meski nanti orang-orang ramai tergiur melakukannya. Jangan kalian, rahimku hanya melahirkan darah pejuang.

Usi’ Koli          : (Memandang anaknya) Biarlah semua ini terjadi. Ini garis takdir Ama. Esok lusa, tetaplah berjuanglah dengan ketulusan seperti cita-cita Ena’mu. Hanya keberhasilan yang sanggup membuat kami bangga.

(Musik leko’sene terdengar kencang. Layar ditutup)

 

  • view 122