NOVEL: ELIANA #Part 1 Eliana, Puisi, dan Selembar Rindu

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2017
NOVEL: ELIANA #Part 1 Eliana, Puisi, dan Selembar Rindu

“Mengapa harus puisi?” tanyaku menguji.

“Bukankah banyak cara kita mengungkapkan rindu, tak harus lewat puisi. Telpon mungkin? Atau langsung berjumpa, bukankah itu lebih baik,” lanjutku mencecarnya dengan pertanyaan. Eliana, gadis berparas manis itu hanya diam. Sembari menarik napas ia melihat ke arahku, tersenyum sejenak.

“Aku punya cara sendiri,” jawabnya pendek sambil menatap mataku lekat-lekat seolah menghakimi pertanyaanku yang dinilainya tak berbobot. Sambil menenggak air mineral dari botol aku melirik wajahnya.Wajahnya bulat, sebuah lesung pipit tak pernah absen dari pipinya setiap kali tersenyum, gadis bertubuh kurus tinggi itu terlihat sederhana. Sesederhana kulitnya yang manis, khas pulau seberang.

Pertemuan pertama kami tergolong jauh dari sekadar sederhana. Kami bertemu dalam sebuah puisi, dari puisi itu aku mencari dan menemukannya sebagai seorang pribadi yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Bila harus kutulis di dalam buku agendaku, maka akan kutuliskan sebuah kalimat seperti ini, “Suatu hari nanti kau akan menjadi sastrawan besar, Eliana.” Juga bila boleh kutambahkan satu kalimat lagi aku akan menulis, “Dan aku berjanji akan membaca buku seumur hidupku, agar aku bisa terus membaca karyamu.”

Pertemuan pertamaku dengan puisi Eliana justru dari sebuah majalah sastra di kampus yang rutin terbit setiap bulan. Aku menyukai sastra, tentu tidak hanya karena seabrek tuntutan dosen atas statusku sebagai seorang mahasiswa program studi Sastra Indonesia. Lebih dari itu, aku menyukai sastra karena sejak kecil aku telah terbiasa membaca keindahan karya sastra dalam Al-Quran.

Dulu saat aku duduk di bangku kelas dua Madrasah Tsanawiyah, ustadku pernah membaca Al-Quran sambil menangis.Aku memergokinya sedang tersedu-sedu ketika hendak mengantarkan cendera mata dari ayah. Aku kagum pada suaranya yang lembut membaca Al-Quran dengan keindahan yang teremat istimewa.

Saat itu aku bertanya padanya, “Mengapa Al-Quran terdengar begitu indah dan menyejukan hati, padahal aku belum tahu pasti arti bacaan itu.”

“Al-Quran adalah karya sastra terhebat yang tak bisa ditandingi oleh sastrawan manapun.Segala keindahan ada di dalamnya, bila suatu saat kau ingin menciptakan syair-syair yang indah. Bacalah Al-Quran…,”  jelasnya sambil memperbaiki posisi duduk. Sejak saat itu aku mulai senang membaca Al-Quran beserta artinya, dan aku menemukan keindahan dalam membaca. Atas alasan sederhana itulah aku masuk jurusan sastra dan membingungkan semua orang. Berulang kali aku mempresentasikan alasanku memilih jurusan yang tergolong “aneh” dalam keluargaku itu dengan sedikit memelas. Kakak dan adikku tertawa mengejek saat aku mengantongi izin ayah-ibu untuk masuk jurusan sastra. Dan sejak itu aku berjanji akan serius mendedikasikan diri untuk mencintai dunia kesusastraan.

***

Kita dan Kenangan

Kita dan kenangan adalah gerimis senja

Pelan, namun berselendang rindu

Kita dan kenangan adalah bianglala

Indah, namun cepat berlalu

::Eliana Juli Puspita ::

Puisi itu kubaca ulang beberapa kali, ingatanku mengembara mengulang setiap kenangan yang datang dan pergi seperti angin.Aku tersenyum mendapati diriku larut dalam kata-kata sederhana Eliana. Kata-katanya sederhana, menyimpan rindu yang membara dalam setiap aksara yang terbit menjadi syair.

“Eliana Juli Puspita . Lahir 20 Juli 1990 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia semester 3 dan saat ini bergiat di Komunitas Sastra Jingga,” begitulah kubaca profil sederhana yang tertulis di bawah puisinya, layaknya profil penulis lain yang turut hadir dalam majalah sastra edisi itu. Tak kutemukan lembar foto narsis di samping profilnya, bukankah penulis senang memamerkan wajah dengan senyum mengembang di samping karya mereka. Keterbatasan informasi yang kuperoleh terpaksa harus kuakui juga, tak ada jalan lain untuk mengetahui Eliana tanpa bertanya.

Siang itu aku bertandang ke ruang kerja Ramdi, temanku yang memimpin majalah sastra Lingkar Sastra di kampus. Ruang kerjanya adalah sebuah ruang kecil 3 x 4 meter di bawah tangga lantai satu. Sejujurnya ruang itu bukanlah ruang yang layak untuk menampung seluruh awak redakturnya. Bila rapat, ia lebih memilih membawa redakturnya ke lapangan bola atau taman kota di dekat-dekat kampus. Selain untuk menghindari ketidaknyamanan saat rapat, cara ini cukup efektif untuk meminimalisir kejenuhan awak redakturnya.

Aku melangkah pasti menuju ruang redaksi, dari jendela kaca kulihat beberapa orang duduk mengelilingi Ramdi. “Mungkin mereka sedang rapat,” pikirku. Aku harus menunggu mereka selesai, tak enak hati bila harus kuganggu agenda penting mereka. Aku bisa menunggu di kantin atau perpustakaan yang berada tepat di samping ruang redaksi.

“Kak…,” panggil sebuah suara dari samping menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arah sumber suara.

“Kata Kak Ramdi masuk aja,” tambahnya menjelaskan. Aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Rupanya Ramdi telah melihat kedatanganku lebih dulu, karena telah lama berteman ia tahu betul kebiasaanku bila bertamu dan mendapati dirinya sedang rapat. Tempatku menunggu tentu di perpustakaan atau di kantin.

Assalamualaikum, selamat siang…,” ucapku memasuki ruangan.

“Nah perkenalkan, ini senior kalian juga, senior yang selalu konsisten dengan pena dan kertas. Sastrawan kampus kita,” jelas Ramdi setelah menjawab salamku.

“Namanya bisa kalian lihat di sampul buku ini,” tambahnya sambil memperlihatkan buku antologi puisiku. Aku hanya tersenyum saat Ramdi memperkenalkan diriku kepada beberapa anggotanya, aku tahu mereka pasti calon redaktur baru. Begitulah ulah Ramdi bila ada calon redaktur yang akan bergabung, ia seperti sales yang lincah memperkenalkan setiap senior yang kebetulan mampir ke ruang redaksi, bahkan ada acara yang ia adakan khusus untuk mengakrabkan senior dan junior yang baru bergabung dalam Lingkar Sastra.

Pertemuannya dengan beberapa calon redakturnya selesai tepat sepuluh menit setelah aku masuk. Lima menit setelah pertemuan itu ditutup ruang redaksi telah sepi, tersisa kami berdua. Sambil menyuguhkan segelas kopi hitam, ia bertanya tentang kabarku.

“Lama sekali kau tak mampir ke sini, lebih sibuk kau rupanya… dibanding pemred Lingkar Sastra,” guraunya. Aku tertawa memandang wajah kawanku itu, setelah hampir setengah semester tak berjumpa ia terlihat lebih terurus. Potongan rambutnya rapi, entah dibuang ke mana kaos-kaos buntutnya, sekarang ia berkemeja.

“Kau terlihat lebih terurus,” balasku sambil tertawa, “Sudah bertemu mustika lagi?” tambahku.Ia terbahak-bahak memamerkan giginya yang putih, dari rautnya aku bisa mengambil simpulan atas pertanyaanku.

“Mustika dari pulau mana lagi sekarang? Hahaha… biar kuterka saja.”

“Ssst…, jangan memaksa diri. Kau tak punya takdir untuk menebak mustikaku kali ini. Sayang sekali..,” candanya.

“Baiklah, kali ini biar aku mengalah padamu, bila sudah serius cepat beritahu aku. Biar kutuliskan puisi pada undanganmu, romantis bukan?”

“Hahaha… Kau selalu hidup dengan puisi, tapi benar, aku akan menghubungimu suatu saat. Rasanya puisimu memang pantas menemani surat undanganku,” ujarnya berlagak serius. Kami tertawa beberapa saat sambil mengulang beberapa kisah yang kebetulan mampir. Berjumpa teman lama seperti membaca ulang buku harian yang ditulis bertahun-tahun lamanya, semuanya tertulis dengan polos. Beberapa kali cerita kami menyinggung beberapa kenangan yang lalu. Kenangan. Tiba-tiba aku teringat akan puisi Eliana, bukankah aku memang berniat menanyakan penulis itu pada Ramdi.

“Aku punya pertanyaan untukmu Pak Pemred,” tantangku sambil menyodorkan majalah Lingkar Sastra edisi terbaru, “Siapa penulis ini,” tunjukku pada halaman rubrik puisi. Lebih tepatnya pada puisi Eliana. Lelaki tangguh di depanku terlihat berpikir beberapa saat, “Eliana Juli Puspita,” gumamnya.

“Kalau tidak salah ia tadi datang ke sini, tapi saking banyaknya anak baru yang datang, aku tak menghafal wajahnya. Ada apa dengan anak ini…?”

“Aku menemukan kesederhanaan dalam puisinya, rimanya teratur. Aku menyukai puisinya…,” paparku. Sambil meneguk kopi ia membaca puisi yang kutunjukan.

“Sepertinya aku punya pikiran yang sama denganmu, penulis yang manis,” ujarnya sambil menyerahkan kembali majalah ke tanganku.

“Bila banyak belajar… karyanya akan mengikuti gaya menulis SDD. Pandai menyulap kata-kata sederhana menjadi luar biasa. Tentu kau ingat karya emasnya, Aku Ingin… kata-katanya sederhana, namun bila diselami, maknanya membuatku gila,” papar Ramdi seperti dosen sedang mengajar. Keningnya mengerut bertanda ia sedang serius berpikir. Aku setuju dengan pendapatnya,  kemampuan menulis bisa dimiliki siapapun, tapi Eliana lebih dari mampu. Ia berbakat, itu yang kukenal dari puisinya yang teramat pendek.

“Baca ini,” Ramdi menyodorkan sebundel kertas yang sudah dijilid dengan rapi, warna biru muda.

“Ini kumpulan puisi anak-anak baru, angkatan tiga yang sekarang. Rencanannya ingin kuterbitkan, karya mereka lumayan bagus. Coba kau baca, sepertinya ada karya gadis itu,” ujarnya menjelaskan. Sambil aku mencari nama Eliana dalam daftar buku, Ramdi terus berbicara tentang antologi puisi yang ingin diterbitkan itu. Ia juga bermaksud meminta bantuanku untuk menerbitkan antologi itu.

“Kau bawa saja, sekalian kopian mentahnya… jangan lupa kau edit bila ada yang harus diedit. Aku percaya padamu, kau bisa membuat sampul yang menarik untuk antologi ini.”Aku mengangguk sambil membaca beberapa puisi yang menggoda.

“Oiya, satu lagi kawan. Tugas lainnya adalah tolong kau pilih 30 puisi dari 150 puisi yang ada di tanganmu itu. Antologi ini hanya untuk tiga puluh penulis terbaik,” tambahnya panjang lebar.

Sambil mengiyakan dengan anggukan kepala aku terus membaca dan akhirnya telunjuku berhenti pada sebuah puisi berjudul Dan dari Sana.

Dan dari Sana

Aku paham, kedua wajahmu adalah puisi yang tak pernah habis

Di almari aku menyimpan lukisan wajahmu

Kadang kusimpan di langit-langit ruang yang uban

Juga pada cermin yang kutatap hampir setiap waktu

dan dari sana, berangkatlah setiap mimpi dan cita ke langit

Bertemu doa-doa yang kau sampirkan setiap waktu

Menemui stiap harap yang tergantung di langit Tuhan sendiri

Lalu turun, datang ke sisiku

Menenemuiku di rantau yang sendiri

dan dari sana, bertemulah setiap cinta dan air mata

Air mata rindu, yang tak kuasa kugadaikan pada waktu

Dan tentang cinta yang datang, menggema dalam detik yang pergi

Dari sana kubaca segala alif tentang senyummu

Juga amanah yang kau hambakan dalam diri

dan dari sana, beranjaklah setiap lalai dan abai menemui ajalnya

Aku paham, raut yang kau sampaikan lewat mimpi; sebuah pesan

tentang pertemuan kita yang tergadai tuntutan ilmu

Dan kini, kusembahkan berlembar-lembar aksara yang tak pernah mati; ia ilmu Tuhan

Yang kudekap setiap rinduku mengamuk, dan kutelan setiap ingatanku datang padamu; Ayah, Ibu.

::ElianaJuli Puspa::

Usai membaca puisi itu aku pamit pulang cepat dengan alasan ingin menyelesaikan tugas baruku dari Ramdi. Kawanku itu senang bukan kepalang melihat diriku begitu antusias menyelesaikan tugas darinya, sebelum membalas salamku ia tersenyum puas dan berbisik seperti biasa, “Jangan bosan membantuku kawan, terima kasih.”

***

Puisi itu kutulis kembali pada selembar kertas dan kutempelkan pada dinding kamar tidurku. Bukan berarti apa-apa, aku merasa harus belajar dari puisi ini. Hanya dengan membaca puisi ini aku tahu ia seorang yang teramat mencintai keluarganya. Puisi kedua Eliana yang kubaca mengabarkan bagaimana ia mengemas rindu dalam puisinya. Aku cemburu pada puisinya, deretan abjad yang tersusun jujur dan rapi.

Meski tak pernah berjumpa, aku tetap mempelajari lembaran rindu Eliana dalam puisi-puisinya. Rindunya mengaung dahsyat namun tetap tertulis anggun. Hingga suatu waktu Ramdi menghubungiku, katanya ia ingin aku datang ke ruang redaksi. Sore itu seusai mempresentasikan materi seminar skripsi  kuhampiri ruang redaksi. Suasana sepi saat aku tiba di sana, hanya ada Ramdi. Kami berbincang-bincang mengenai antologi puisi yang sedang kuurus.

Sepuluh menit kemudian, seorang gadis berjilbab biru masuk ke ruang redaksi. Melihat kedatangan gadis itu, Ramdi pun bangkit dari duduknya.

“Eliana, kau datang tepat waktu adik manis,” ujarnya mempersilakan gadis itu untuk duduk. Gadis itu tersenyum kemudian duduk tepat di depanku dengan hati-hati khas anak baru.

“Ini Eliana Juli Puspa… Kau pasti senang berkenalan dengan adikku yang manis ini,” tutur Ramdi lewat pesan singkat yang sengaja ia kirimkan padahal kami duduk berdampingan. Aku tersenyum menyadari kebodohanku, rupanya Ramdi sengaja menghadirkan Eliana pada pertemuan sore itu. Sambil menarik napas aku mulai bersikap normal layaknya senior, sedikit bertanya tentang pengetahuan sastranya. Jawaban-jawabannya membuatku kagum dan yakin ia calon penulis yang tak biasa.

Pertemuan di kantor redaksi dengan Eliana mengantarku pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang tak kalah menarik. Maka tak hanya lewat puisi aku membaca lembar rindu yang berkabung pada sajak-sajaknya, tapi juga dari matanya aku paham betapa rindu itu menyiksa. Dan aku pun semakin tersiksa dengan rindu yang kuciptakan sendiri.

  • view 131