Catatan Harian di Batavia 03

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Desember 2017
Catatan Harian di Batavia 03

 
Saya bingung harus mulai menulis dari yang mana. Entah dari kesedihan atau kegembiraan. Semua kisah menghampiri saya dalam satu waktu yang sama, dan saya bingung harus meramu keduanya menjadi kisah yang indah agar tidak kulupakan. Tapi baiklah, saya memulai dari awal. Sabtu pagi tadi saya ada perayaan hari karini di sekolah, rasanya saya benar-benar menjadi wanita pagi itu, dengan balutan kebaya putih saya berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Maklum guru-guru yang lain memiliki jemputan, haha,, ya hanya saya yang berangkat dan pulang sendiri. Acara pagi itu berlangsung lancar, lomba busana adat berlangsung dengan meriah. Setelah itu dilanjutkan dengan karnaval keliling dengan menggunakan andok. Saya meliihat sinar ceria murid-murid saya ketika menikmati acara karnaval ini. lucu dan menggemaskan. Walaupun lelah tapi ketika melihat senyum dan tawa mereka, rasanya semuanya terbayar tuntas.
Selesai acara di sekolah siang itu saya langsung menuju kampus. menemui sahabat-sahabat saya untuk membicarakan kegiatan yang akan kami ikuti di PB PMII. Hari ini adalah puncak harlah PMII yang ke-52 tahun. Kami akan berangkat bersama ke tugu proklamasi untuk menyaksiakan acara itu. Setelah itu saya dan kak putra (sekum) mencetak bulletin Perkubi yang akan kami jual saat acara berlangsung. Perjalannan ke sana tidak begitu jauh, namun kemacetan yang membuat semuanya terhambat. Ditambah lagi kami berangkat dengan kondisi yang tidak lengkap, motor temanku Aen, tidak ada lampu, spion dan bahkan Sim pun tidak punya. Karena ketrbatasan helm, kami banyak yang tidak menggunakan helm. Modal nekat seperti biasa dengan membawa bendera PMII kami konvoi jalan menuju tuprok. Sampai di sana saya tidak sengaja berjumpa dengan kakak kelas saya dulu di MAN Kupang. Rasanya saya senang, setelah ia meminta no kontak saya, akhirnya kami berpisah di depan pintu masuk tuprok. Kami tiba saat acara sesi dua selesai…dan akan dilanjutkan lagi setelah magrib. Akhirnya kami hanya duduk dan mengobrol dengan sesama kader Jakarta selatan. Saya melihat kakak kelas saya berdiri tak jauh dari tempat berkumpul kami. Namanya Arifin Ahmad. Entah  mengapa tiba-tiba saya jadi merindukan sekolah saya. Mungkin karena bercerita dengan kak Ipin tentang Man Kupang, jadi terbawa suasana untuk merindukan almamater yang telah banyak menciptakan alumni-alumni terbaik dari kupang. Kepalah sekolah kami saat itu adalah bapak Pahlawan Mukin, beliau adalah guru filsafat pertama yang kutemui di usia SMA-ku. Kata-katanya selalu menciptakan bekas tersendiri dalam hati dan pikiran saya sampai saat ini saya berada di pusat kota metropolitan ini. saya mampu bertahan dalam iman dan kuat akan godaan pun atas ilmu-ilmu praktis yang beliau ajarkan ketika saya masih di Aliyah dulu. Aku selalu merindukan kata-katanya, rasanya ada yang hilang ketika meninggalkan man kupang dulu. Bukan hanya karena berpisah dengan guru, almamater dan sahabat-sahabat selama di sana, tapi juga kehilangan kata-kata motivasi dari seorang kepala sekolah yang begitu bijaksana dan adil. Beliau adalah Pahlawan Mukin. Orang sudah menjadi pahlawan untuk menanamkan ilmu-ilmu keagamaan sebagai landasan dan dasar dalam hidupku. Terima kasih untuknya, dan terima kasih untuk Allah yang mempertemaukan saya dengan guru sehebat beliau.
Menjelang magrib saya pamit untuk sholat dan kak Ipin pun demikian, kami berpisah di sana. Selesai sholat magrib acara di mulai kembali, tamu-tamu telah datang, Nampak hadir beberapa duta besar, mentri seperti Menpora Andi Malarange, dan Mbah Nuril Huda. Dan tiba-tiba teman-teman dari unas datang. Nampak mereka duduk terpisah dari kami, dan saya berinisiatif untuk meminta mereka bergabung.
Malam itu panggung ramai karena kedatangan bintang tamu yaitu dari grup band hijau daun. Semua begitu tersulap untuk ikut menikmati alunan music dari hijau daun. Saya juga menikmati acara suaranya. Saya memang suka grup band ini. dan ternyata vokalisnya juga saat masih kuliah dulu adalah seorang kader PMII. Rasanya terharu juga…hehehe. Hingga akhirnya lagu dengan judul menanti jawaban, lagu itu tiba-tiba membuatku menanti sebuah jawaban dari seseorang. Entah mengapa namanya tiba-tiba saja muncul dan saya berdoa ditengah-tengah keramaiaan ini, ya saya mungkin harus menunggu lebih lama. Lagu ini memberikan makna tersendiri bagiku, makna kesabaran dan doa. Mungkin selama ini saya terlalu berlarut dalam mainan ketidakpastian. Yah, malam puncak ini membuatku besyukur, menyadarkan aku akan suatu yang lama. Saya bersyukur menemukan banyanganku yang dulu malam ini.
Robb… terima kasih atas teguran dan nikmatmu. Aku hanya ingin kembali pada saya yang dulu, yang selalu basah dengan air mata kerinduan, sabar dan bergulat dalam doa yang lapang. Robb, saya akan datang padamu, lewat waktu-waktu yang Engkau cintai. Saya mohon keberkahan atas hidupku Robb… Ampuni hamba.

Jakarta, Sabtu 29 April 2012

  • view 27