Catatan Harian di Batavia 02

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Desember 2017
Catatan Harian di Batavia 02

Hari-hariku semakin berat. Tugas begitu menumpuk membuatkepalaku seperti akan pecah. Huuuufff… ini adalah sebuah pilihan, ya, menjadi mahasiswa adalah sebuah pilihan hidup yang ingin dipilih orang lain namun mereka tak mampu. Ya, itulah alasannya kenapa rasa syukur harus tetap membasahi kerongkongan hatiku.

Hari ini melelahkan, pusing rasanya kepalaku. Mata kuliah penelitian rupanya telah membuat bom waktu yang siap meledak dalam otakku.  Tiga setengah jam belajar penelitian buat aku muak. Namun itu adalah hari-hari penuh tantangan yang harus aku hadapi. Tadi selesai lebih cepat, Bu Erna dosen penerjemahan akhirnya mengalah tidak jadi kuis setelah melihat raut wajah kami yang kusut tak berdaya.   Setelah membagi kelompok, beliau pamit pilang dan akhirnya kami bisa bernapas lega.

Aku menuju perpustakaan dibonceng yusti, sedikit meringankan beban BAB II yang mogok tak mampu kusentuh beberapa minggu terakhir. Hanya satu jam setengah aku di sana, waktu sudah menunjukan pukul  4 sore. Aku belum sholat dan sama sekali belum makan nasi hari ini. aku berkemas keluar perpustakaan, dan bertemu santi dan mas irwan di Loby (sedang mengurus antologi puisi pak aswin). Aku sholat sebentar kemudian kembali dan mengobrol dengan mas irwan dan santi. Sedikit banyak bocoran dari mas irwan tentang dunia percetakan, membuat aku berkeinginan membuat percetakan kalau sudah mapan nanti. Setelah selesai urusan dengan mas irwan, aku dan santi menuju kantin untuk makan.

Kantin sepi sekali sore itu, kebanyakan mahasiswa sudah pulang. Pedagang juga sudah Nampak beres-beres, kami pesan soto ayam. Tidak banyak yang kami bincangkan sore itu, tidak seperti biasa. Mungkin karena kami kelelahan atau karena kami memang sedang malas bicara. Selesai makan kami bergurau beberapa menit dengan pedagang di kantin. Main tebak-tebakan, yah, begitulah cara kami mengakrabkan diri dengan siapa saja. Termasuk dengan pedagang di kampus, satpam sampai tukang parkir di sana. Yah, hidup itu sesungguhnya sederhana, namun kita sendiri yang membuat hidup terbengkalai dengan berbagai macam ketidakpuasan.

Jika dibilang aku puas dengan hidupku, maka mungkin ia, namun aku rasa tidak karena masih banyak hal yang harus aku kejar di dunia ini. bagiku ketidakpuasan itu wajar, asalkan masih dalam batas normal. Sesuatu yang normal itu memang ajaib.

  • view 91