CERPEN : EYANG

CERPEN : EYANG

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 November 2017
CERPEN : EYANG

“Gambar apa itu,” tunjuk seekor tikus jantan  yang baru saja menegakkan kepala dari sebuah sumur pekat. Ia tersentak melihat sebuah gambar berteger di karton putih dengan ekor meliuk, lalu sebuah gambar lain yang berbentuk manusia namun tak begitu sempurna. Kepalanya masih utuh, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan kedua pipinya masih menyunggingkan senyum.

“Aih, coba lihat, gambar manusia itu berekor,” terdengar suara sorak-sorai anak-anak rombongan membentur lorong sempit itu. Mereka tak pernah melihat gambar seperti itu di dusun. Sorak-sorai baru berhenti ketika ketua rombongan angkat suara. Aba-abanya seperti komando pemimpin perajurit, mendesak semua mulut yang tadi

Ketua rombongan langsung memberi aba-aba dengan cepat melarang bersorak-sorai. Mulut mereka seketika terkunci melangkah pelan-pelan menghindari kerumunan itu.

Ketua rombongan kami sudah hampir tua, terlihat kumis dan bulunya yang kian hari kian memutih. Ia adalah sosok paling berpengaruh yang kami punya di dusun Rawa. Ketika ia marah, anak-anak bersembunyi lebih lama di lubang-lubang dusun, sementara kami yang dewasa akan bekerja dengan suara seperlunya dan lebih banyak diam menundukkan kepala. Namun ketika ia bergembira, anak-anak akan dimanjanya dengan suka cita, jalan-jalan dusun penuh dengan canda tawa, pesta-pesta sederhana selalu dibuatnya di akhir pekan. Ini memang gaya hidup aneh bagi sekolompok tikus yang berdiam di sebuah dusun yang sederhana. Tapi rasanya tak apa, hari-hari itu terlanjur indah.

Eyang, begitulah sapaan akrab yang lahir tanpa paksa. Ia dinobatkan menjadi ketua rombongan secara alamiah, tanpa dukun, tanpa santet, tanpa uang, dan juga tanpa pamrih tentunya. Terbukti, Eyang kami sederhana dan merakyat tanpa merampas hak rakyat dusun, semua alami dan kami menyaksikan kesungguhannya hampir sepuluh tahun terakhir. Berbeda dengan cerita Eyang tentang negeri para manusia, di sana banyak adegan pembunuhan, banyak arena balap utang, banyak sinema senggol jabatan, dan yang paling merisaukan adalah banyak ladang basah. Dahulu aku tak pernah paham dengan ungkapan-ungkapan asing yang senantiasa ia lontarkan ketika malam mendaki puncak, saat adik-adik kecilku di dusun tertidur dan aku masih terjaga mengendus sungai-sungai pekat metropolitan. Mungkin usiaku masih terlampau dini untuk memahami pikiran tua Eyang.

Entah mengapa akhir-akhir ini Eyang terjebak dalam renungan panjang. Hilangnya beberapa anggota dusun yang sedang mencari makan membuatnya khawatir. Anak-anak tikus dilarangnya bermain jauh-jauh, para ibu di bawah pengawasan para suami, dan para pemuda disiagakan untuk menjaga dusun. Ia nampak menyadari adanya bencana yang akan menimpa dusun, manusia sering melakukan penjarahan ke dusun-dusun tikus. Pembantaiaan di dusun sering terjadi dan banyak memakan korban. Eyang bilang manusia memang harus diwaspadai, mereka mencontoh pembantaian tikus karena sering menonton sesama mereka membantai manusia. Aku mulai bersyukur dilahirkan sebagai tikus,  “Tikus tak pernah membantai sesamanya”, bisik hatiku.

Suatu siang Eyang datang ke lubang tempatku beristirahat dengan wajah penuh peluh. Ia membangunkan aku tanpa ragu dan menyeretku menjauh dari lubang-lubang dusun. Rasanya aneh, mengapa ia menyeretku di saat aku sedang tidur? Aku mulai mencari-cari kesalahan apa yang berpeluang menjadikan aku tersangka di matanya. Kami berhenti di sebuah jembatan,  ia melepasku dan berdiri menghadap sebuah gedung tinggi di depan kami. Kudengar napasnya terengah-engah, sesekali terdengar suara batuknya yang kian keras. Kepalaku dipenuhi rasa ingin tahu, namun rasanya terlampau tega bila aku harus mengejar Eyang dengan pertanyaan di saat batuk tuanya tiba-tiba mendadak mampir lama. Aku membisu di sampingnya.

“Nafo…”, panggil Eyang lima menit kemudian.

“Iya Bai”, jawabku cepat karena telah siaga untuk berbicara dengan Eyang. Meski ia disapa Eyang oleh masyarakat dusun, aku tak pernah menyapanya Eyang. Ia lebih senang bila aku menyapanya dengan sebutan Bai’, katanya itu khusus untukku.

“Bai’ kemarin siang lihat rombongan manusia, mereka bawa gambar lagi…”, ucapnya kemudian. Aku hanya diam dan terus mendengarkan.

“Gambar-gambar itu berekor seperti kita, badannya juga, tapi muka mereka manusia”, ia berhenti sebentar, “Coba lihat ke sana…,” tambahnya sambil menunjuk ke arah rombongan di depan gedung.

“Menurut cerita Eyang Kucing yang tinggal di rumah menteri, setiap hari menteri manusia banyak yang dipecat karena makan uang rakyat, dan rombongan manusia pembawa gambar itu adalah para demonstran katanya”.

“Bai’sedih, pencuri uang rakyat yang mereka namakan koruptor itu dilambangkan dengan gambar tikus. Coba lihat, di karton yang di pegang di sana, itu gambar kita… berekor,” ucapnya sambil menahan napas. Aku baru paham mengapa ia begitu nafsu menyeretku ke sini, rupanya sebuah pencemaran nama baik telah dilakukan oleh manusia. Dan itu menyangkut nama baik kami, para tikus. Kulihat wajah tuanya yang kokoh dan penuh perlindungan mulai dirayapi kesedihan, ia nampak sedang berpikir namun aku tahu pikirannya sedang tak jernih. Pikiranku pun berkecamuk, mengapa manusia begitu sembarang membuat perumpamaan? Apa mungkin karena kami adalah golongan-golongan sampah yang pantas disandingkan dengan perbuatan kotor mereka? Aih, ini tak adil.

“Nafo, mengapa mereka merumpamakan kita dengan perbuatan kotor mereka?”, Eyang mengusung pertanyaan.

“Mungkin karena kita suka mencuri makanan mereka, merusak hasil panen mereka, dan mungkin juga karena kita berada di tempat kumuh yang menjijikan,”.

“Kita mencuri?”, tanyanya.

“Ah, tidak. Kita ditakdirkan ke dunia tanpa makanan dan tak pernah dibekali otak untuk bekerja membuat makanan sendiri, seandainya iya, akan aku perintahkan semua warga dusun untuk bekerja tanpa mengambil dari mereka. Lagi pula, kita selalu diberikan makanan bekas yang tak layak mereka makan”, lanjutnya tanpa mempedulikan jawaban yang baru ingin kukeluarkan dari mulutku.

Aku menangkap sebuah pemikiran Eyang yang murni, manusia dilahirkan dengan akal sehat, mereka diberikan kekuasaan untuk bekerja menghasilkan sesuatu. Lalu mengapa mereka masih ingin merampas hak mereka yang lain. Sedangkan kami para tikus hanya bertubuh dan hidup tanpa akal, dan kami bergantung hidup pada mereka. Aku merasa tidak ada yang salah, ini keadilan sang Pencipta untuk kami.

“Tapi tak apa tikus muda, manusia lebih tikus dari kita. Kau tahu kenapa?”  tanyanya lagi dan aku menjawab dengan gelengan kepala.

“Mereka rela merampas hak sesama tikus, dan kita tidak,” ujarnya melengkapi pertemuan siang itu. Kemudian kulihat kerumunan itu membakar gambar kami. Lalu beberapa orang raksasa terlihat menendang sebuah hewan kecil yang telah mereka siapkan dalam kurungan. Seekor tikus.  Aih, manusia itu kejam. Bisik hatiku saat melihat saudaraku di bunuh. Ngilu. Inilah negeri para raksasa bernama manusia.

***

  • view 152