Cerpen: Alaut*

Sayyidati Hajar
Karya Sayyidati Hajar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 November 2017
Cerpen: Alaut*

Seorang wanita tua berjalan cepat menuruni bebukit lalu turun mendapati sungai Noebunu’. Menengok sebentar ke hilir memastikan keadaan aman untuk menyeberang karena cuaca sore itu sangat gelap dan halilintar menjulurkan lidahnya di ujung langit. Ia khawatir kalau-kalau sungai Noebunu’ akan banjir karena hujan telah turun beberapa saat sebelum ia datang. Setelah memastikan semua aman, ia menyeberang setengah berlari.

Sama seperti kedatangannya tahun-tahun sebelumnya. Penduduk Desa Sillu tetap ‘menyambut’ dengan bersembunyi di balik gubuk alang-alang mereka sambil mencari cela untuk mengintipnya dari dalam. Bila ada yang kebetulan berpapasan maka mereka terpaksa menyapa dengan basa-basi dan segera berlalu sekilat mungkin. Aura ketakutan seakan menyihir seluruh desa. Anak-anak tak lagi girang bertelanjang dada bermain air hujan, ibu-ibu hamil segera mengurung diri di dalam rumah, gadis-gadis desa memilih menenun di biliknya masing-masing tanpa saling mengunjungi. Hanya para lelaki yang mau tak mau harus beraktivitas. Sebab kebun harus dibersihkan agar hasil panen mencapai keinginan. Musim hujan adalah satu-satunya waktu untuk menyiapkan persediaan makanan menghadapi musim panas yang panjang.

Ena Leke, begitulah penduduk desa memanggil wanita itu. Namanya sendiri adalah Leke. Sebutan Ena adalah sapaan untuk seorang ibu bagi masyarakat suku Timor di Timor Tengah Selatan. Wanita yang bila ditaksir umurnya mendekati kepala enam itu bukan tak tahu dirinya menjadi sorotan kamera mata setiap penduduk desa. Ia tahu. Bahkan amat tahu. Ia bahkan merasa  telah menjadi bagian dari mata-mata mereka. Maka ia tak lagi peduli pada mata siapapun yang memandangnya penuh curiga, atau mulut siapapun yang membicarakannya penuh sayatan. Ia tetaplah Ena Leke,  seorang wanita tua yang hidup sebatang kara. Selalu meninggalkan rumah reyotnya di musim panas disambut suka cita seluruh penduduk desa.  Lalu  akan kembali di musim hujan menukar segala suka cita  menjadi gelisah.

***

Belum genap seminggu Ena Leke kembali ke rumah, penduduk desa digemparkan dengan meninggalnya seorang bayi perempuan yang baru saja lahir. Bayi itu lahir dan tak lama kemuadia meninggal dengan tubuh sedikit membiru. Maka tak dapat dihindari lagi. Wanita tua itu kembali disebut-sebut sebagai penyebabnya. Oleh penduduk wanita tua itu disebut bife alaut atau wanita suanggi. Banyak beredar cerita bahwa orang yang memiliki ilmu suanggi akan mencari mangsa di malam hari. Mereka akan memekan hati anak-anak kecil dan janin yang ada dalam kandungan para wanita. Selain itu mata alaut biasanya berwarna sedikit kekuning-kuningan.

Sore mulai datang. Prosesi pemakaman berlangsung lancar diiringi ratapan para wanita. Mereka menangis sambil berteriak-teriak mengantar sang bayi ke kuburan. Warga mulai resah dan berunding dengan kepala desa. Mereka menginginkan Ena Leke diusir dari desa Sillu. Malam setelah penguburan, para pembesar kampung pun berkumpul di rumah kepala desa. Mereka berunding mencari solusi terbaik dari masalah alaut  itu.

“Pokoknya, katong harus usir ini perempuan tua dari sini. Beta khawatir nanti akan banyak korban lai yang jatoh gara-gara disuanggi,” ujar Ama Leo dengan berapi-api. Ia adalah paman dari bayi yang baru saja dimakamkan sore tadi.

Bagai menyulut api, hampir semua peserta hadirin terbakar dan menyatakan setuju. Sahut-sahutan pun terjadi dan hampir semuanya setuju untuk melakukan pengusiran. Selang beberapa menit kemudian Ama Titus sebagai kepala desa pun angkat bicara.

“Bapak-bapak, tolong katong baomong dengan kapala dingin. Kita tau semua toh, kalo Ena Leke su tua. Dia pu umur sa mungkin su hampir enam puluh tahun. Kalau katong usir nanti mamtua mau tinggal di mana?”

Semua yang hadir pun diam. Bukan dia tanda setuju dengan pernyataan Ama  Titus, melainkan diam mencari alasan yang tepat untuk menggulingkan pembelaan sang Kepala Desa. Sudah lima tahun mereka memintanya untuk menyetujui pengusiran wanita suanggi itu namun tidak pernah mendapat persetujuan. Alasannya pun sama, sampai-sampai mereka menghafal kata-kata pembelaan itu dengan baik. Ama Leo memainkan bulu-bulu halus di ujung mau’ atau sarung tenun khusus laki-laki yang ia kenakan. Ama  Lipus membenarkan posisi duduknya berulang kali sambil mengisap kretek gulungannya sendiri dari daun lontar. Sedangkan yang lain sibuk mengatur strategi dalam pikiran masing-masing sambil menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Sesuai dengan arahan Ama Leo pada pertemuan mereka sebelum datang ke rumah kepala desa, mereka harus menang dengan segala cara untuk mengusir alaut  itu.

“Begini Bapak, katong semua tau kalau kehadiran Ena  Leke ganggu warga. Semua orang takut dengan mamtua, apalagi setiap dia pulang ada sa yang mati. Su begitu dong pu badan pasti babiru. Katong semua tau kalau kena suanggi pasti badan babiru. Maka dari itu bapak, katong minta bapak tegas ini kali. Ini su hampir dua belas tahun bapak, semua orang di ini kampung pasti sepakat dengan katong. Bapak harus adil dengan katong semua, jangan bapak bela terus itu mamtua,” Ama Leo memulai aksinya sesuai alur yang telah disusun sebelumnya.

“Betul itu bapak, pokoknya kami su tidak mau dengar lai bapak pu alasan yang dulu-dulu. Kami rasa semua su sepakat untuk usir,” sambung Ama Lepus. Suasana memanas. Kepala desa menahan napas. Pancingan yang dijuruskan Ama Leo berhasil. Semuanya diam namun otak mereka berputar untuk menghunuskan jurus selanjutnya. Namun tiba-tiba telinga mereka menangkap sebuah suara. Suara perempuan.

Keu..Keu…Keu...,” suara itu semakin mendekat dan berulang kali mengulang kata yang sama. Keu. Sebuah kata yang dipercaya merupakan suara alaut  yang sedang mendekati mangsanya. Seorang tukang suanggi biasanya beraksi tanpa memakai sehelai kain pun. Begitulah rumor yang beredar dan dipercayai. Hal itu karena banyak orang mengaku pernah melihat aksi para alaut. Bergelantung di dahan pohon, terbang seperti burung, bahkan kadang berubah wujud menjadi binatang. Konon mereka punya leu’, semacam ilmu sihir yang bisa membuat mereka terbang atau berubah jadi apa saja.

“Dia datang bikin takut kita. Bosong semua jangan takut, mari katong tangkap dia.” Terdengar seseorang berteriak sambil bangkit keluar rumah di susul beberapa orang dengan mulut terus mengumpat. Suara kaki telanjang berdentum ke tanah lapang. Kepala desa pun ikut ambil bagian dalam agenda lari dadakan itu. Suara keu kini berganti dengan ocehan penuh emosi para ama  yang kesal. Tak ada siapa-siapa di luar. Meski begitu kepala desa tak mampu lagi membendung kemarahan warganya. Sekalipun berusaha keras, ia hanya bisa menunda.

***

Kegaduhan di rumah kepala desa tampaknya tak berefek apapun pada Ena  Leke. Seperti malam sesudahnya dan sesudahnya yang lain, ia masih ditemani kesunyian. Dua belas tahun, bahagia resmi menjadi santapan asing baginya. Ya, dua belas tahun sejak ditinggal cucu kesayangannya. Desas-desus warga desa mengenai ilmu suanggi telah memakan keluarganya. Cucunya saat itu baru berusia delapan tahun, didorong ke arus sungai oleh teman-teman sebayanya.

Be’ Leke… Be’ Leke… Om ham mupoetan ho up u’…,” teriak mereka bersahut-sahutan agar Nenek Leke datang mengeluarkan cucunya. Mereka percaya cerita yang ramai oleh penduduk kampong bahwa Ena  Leke memiliki ilmu suanggi, bisa terbang, bisa menghilang, bisa muncul tiba-tiba di suatu tempat, bisa datang saat dipanggil dan lain sebagainya.  

Teriakan memanggil Ena Leke bersahut-sahutan dengan teriakan Lean yang terus terseret arus sungai. Sepuluh menit. Tubuh anak kecil itu sudah tak dapat dilihat. Tubuh itu terseret arus, bergabung dengan batang pohon dan bola-bola tanah liat bercampur batu. Arus sungai Noebunu di musim hujan bisa membawa apa saja, batu, kayu, sapi, bahkan manusia yang gegabah pun akan terseret dan menemui ajalnya.

Kepanikan pun terjadi. Anak-anak berlari pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi. Susah payah mereka berbicara dengan napas terengah-engah. Hanya dalam hitungan menit warga sudah memadati tepian sungai. Ena Leke berteriak-teriak memanggil nama cucunya. Tangisnya timbul tenggelam bersama kegaduhan arus sungai. Tanpa bicara satu demi satu orang pergi, hanya tertinggal kepala desa yang memberikan ucapan belasungkawa .

En, mari kita pulang dan berdoa di rumah. Semoga Lean dikasi tempat yang bae di sisi Tuhan,” ujarnya sambil memapah wanita tua itu kembali ke rumah.

Di malam yang purnama itu, pelan-pelan air mata Ena Leke membening di pipi tuanya. Kenangan lima tahun silam selalu dikenangnya sendiri dalam malam-malamnya. Kenangan itu selalu hadir membentur hatinya, berloncat dalam pikiran, dan jatuh menjadi air mata di pipi. Sejak meninggalnya anak, menantu, dan suaminya dalam kebakaran bertahun-tahun silam, Lean adalah harta satu-satunya yang membuatnya tetap hidup. Namun saat ia pun ditinggalkan cucunya, ia berjanji akan hidup tanpa alasan. Ia hanya ingin tetap hidup, mengasingkan diri, dan kembali sesuai jadwal yang tak sadar dibuatnya. Pergi di musim kemarau dan kembali di musim hujan. Tanpa mengharapkan apapun lagi.

“Tok…Tok…Tok…,” sebuah suara mengagetkannya dari lamunan. Ia kenal siapa  yang datang dan selalu mengetuk pintu rumahnya lewat larut malam. Pintu terbuka beberapa saat kemudian. Seorang laki-laki masuk, meletakan bungkusan, menyalakan lampu minyak dari kaleng susu dan gagal. Cepat-cepat ia menuang minyak dengan bantuan cahaya dari bara api di tungku. Lampu menyala. Wajah itu terlihat. Lelaki itu berunding ingin membawa Ena Lake pergi, namun hingga pertemuan itu usai wanita tua itu tetap kukuh ingin tinggal sendiri.

Pukul 02.00 dini hari laki-laki itu keluar membawa rasa kecewanya. Menyeret kedua kakinya menjauh dari gubuk tua itu. Hatinya iba sekaligus sedih, bagaimana mungkin ia terus membiarkan neneknya hidup dalam kesendirian. Lelaki itu Lean, anak kecil itu selamat dari amukan arus sungai dan terdampar di pinggir sungai. Dengan mengubur harapannya dalam-dalam atas kepergian cucunya ternyata berbalik. Tuhan justru menghadirkan harapan itu.  Cucunya kembali dua tahun yang lalu, mendaki gunung dan menemukannya di pengasingan. Sepanjang tahun merayunya untuk ikut pindah bersamanya, namun wanita tua itu tetap tak mau.

Nao ha muloelkum, bi it mas nakan ko alaut,” kata-kata neneknya terus menggema dalam telinga Lean. Pergilah menjauh, di sini kamu bisa dibilang suanggi. Hingga pagi benar-benar datang, Lean mengheningkan cipta di atas bukit. Mungkin hanya dia yang percaya bahwa neneknya bukanlah seorang alaut.

***

*Alaut: Sebutan untuk seseorang yang dipercaya memiliki ilmu Suanggi di daerah Soe, Timor Tengah Selatan, NTT.

(pernah dimuat di majalah sastra kalimalang)

  • view 190