Semburat Ufuk Timur

Semburat Ufuk Timur

sawalas 313
Karya sawalas 313 Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2016
Semburat Ufuk Timur

Semburat Ufuk Timur

Sstt...

Ada yang diam-diam mengingatmu

Membisu namun tersebut namamu

Geraknya hanya untukmu

Ia sosok yang jatuh cinta padamu

Bukan dari pandangan pertama

Bukan pula karna terbiasa bersama

Ini cinta yang membaur

Seperti semburat ufuk timur

Silaunya menghangatkan

Membawa serta harapan

Diperuntukkan masa depan

Ssttt... ini rahasia.

??????????? Hai... namaku Yesa. Gadis berusia 21 tahun dengan jejak langkah tak seperti orang kebanyakan. Aku harus hidup mandiri sejak usiaku 15 tahun. Benar-benar usia baligh (batas kedewasaan dalam agama islam). Aku mulai mengambil keputusan-keputusan sendiri bagi kehidupanku yang tergolong muda. Hal itu terjadi karena kedua orangtuaku menginginkan aku menikah selepas lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun aku tak menghendaki hal itu. Orangtuaku memberikanku pilihan, menikah atau melanjutkan sekolah dengan biaya sendiri?. Pilihan sulit. Tak lama kemudian seorang guruku menawarkan beasiswa sekolah di Yogyakarta. Aku menerima itu sebagai sebuah jalan penyelesaian perselisihan aku dan orangtuaku. Syukurlah orangtuaku mengizinkan. Tentu dengan syarat, aku harus mandiri.

??????????? Singkat cerita, aku pun merantau di kota Yogyakarta. Melanjutkan studi di sebuah madrasah. Komunikasiku dengan kedua orangtuaku menjadi sangat jarang. Satu bulan bisa dibilang hanya satu kali telepon. Komunikasi yang sangat minim bagi hubungan anak dan orangtua kandung. Aku menyibukan diri saat sekolah dan kuliah. Kerja parttime, organisasi, kuliah menjadi kegiatan sehari-hari. Tak terasa, kekesalanku terhadap orangtuaku luntur dan kini hilang sama sekali. Ya, aku akui. Dulu semasa masih sekolah di jenjang madrasah (SMA) aku benar-benar kesal dengan kedua orangtuaku. Terutama pada ibuku. Tak pernah aku ditanya kabar perihal keadaanku, kesulitanku dan segala sesuatu tentang kehidupan pribadiku. Yang Ia tanyakan sebatas kabar. Sangat mengesalkan.

??????????? Usiaku ketika itu 17 tahun. Masa-masa remaja yang butuh seorang ibu disisinya. Ada banyak hal tentang perempuan yang ingin aku tanyakan. Namun pada siapa?. Permasalahan demi permasalahan aku lewati seorang diri. Tentu tanpa bantuannya. Mereka orangtuaku, apalagi Ibu. Sosok yang diharapkan dapat mengerti aku lebih dari siapapun, dan nyatanya tak seperti yang aku harapkan. Berbeda dengan ayah, yang memang cuek dan aku tak begitu dekat dengannya. Hmm itu kira ku, dulu.

??????????? Awal-awal masa kuliah, aku harus beradaptasi kembali. Jika ketika di madrasah aku tidak perlu memikirkan tempat tinggal dan uang makan, sekarang aku harus lebih berhemat. Mengurus segala keperluanku sendiri. Bagaimana dengan ibuku?

Hhhh... ia seperti biasa, menanyakan kabarku. Hanya itu.

Sering aku membaca artikel tentang perantau yang tidak mau menanyakan kabar kedua orangtuanya. Aku sama sekali tidak terganggu oleh artikel itu. Padahal teman-temanku sampai menangis usai membaca artikel tersebut. Sosok ibu dipuja-puja sebagai sosok yang luar biasa. Bagiku biasa saja. Aku mengakui bahwa Ia melahirkan dan membesarkanku.Ya, sebatas itu aku menghormatinya. Hingga suatu hari, aku mengetahui bahwa Ibu sangat menyayangiku, tidak benar-benar cuek dan acuh padaku. Hari itu aku pulang ke rumah. Aku memang selalu menyempatkan diri untuk pulang di hari lebaran, sekedar mempererat tali silaturahmi dengan keluarga. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Lewat sebuah perbincangan ketika libur lebaran.

?Mbak gak pernah kangen rumah? Kok pulang setahun sekali?? tanya adikku yang usianya 8 tahun.

?Kok adik bilang gitu?? pertanyaanya mengusikku. Hmmm mungkin saja, tak ada yang aku rindukan disini. Aku pulang pun sekedar menunjukkan bahwa aku bukan anak durhaka.

?Ibu sering nangis lo mbak...? ujarnya sembari mengerucutkan bibir. Kesal.

Aku diam. Menatap adikku, meminta penjelasan.

?Iya mbak....ibu tiap malam sholat tahajud, doain mbak. Ibu nangis. Suka liat Hp trus nangis. Habis telpon mbak, nangis. Mbak kok seneng bikin ibu nangis??

Aku melongo. Kaget. Tak kusangka, Ibu yang selama ini aku kenal tak peduli denganku ternyata selalu mendoakanku dan merindukanku. Adik ku benar-benar polos. Mengatakannya begitu saja. Sisi lain dari diriku menolak, ?ah..masa sih?.

Aku pun bertanya pada ayahku. Memberanikan diri.

?Yah... Ibu suka nangis, kata adik. Kenapa?? Tanyaku memastikan.

Ayah terdiam. Kemudian mengungkapkannya panjang lebar. Tentang Ibu yang merindukanku. Dari cerita ayah, aku tahu. Dulu sebenarnya ibu tak tega melepasku sekolah di Yogyakarta. Ibu sakit dan susah makan setiap kali merindukanku. Ibu selalu ingin menyusulku ke Yogyakarta, ingin selalu menelponku, namun Ia juga bertekad ingin membuatku menjadi perempuan tangguh, yang mampu mewujudkan setiap impian. Akhirnya ia memilih tidak menghubungiku, sesekali menelpon dan hanya sebentar karena ibu tak kuat berbicara denganku. Ibu menangis dan tidak ingin aku mengetahui kesedihannya.

Penerimaan. Bahwa ini dilakukan oleh kedua orangtuaku untuk mendidikku menjadi seseorang yang luar biasa. Khususnya ibu sosok yang biasanya digambarkan sebagai malaikat penuh kasih sayang. Aku pun menyetujui sebuah pernyataan, ?Setiap orangtua sangat menyayangi anaknya, dan punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Orangtua selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya?.

Begitu pula ibu ku. Ingin menjadikan anaknya menjadi perempuan tangguh yang mampu mewujudkan impianya. Tanpa seorang ibu yang berlaku semengesalkan itu (pikir ku dulu), aku pasti tak akan jadi seperti sekarang. Terimakasih ibu. Engkau semburat ufuk timur. Berkas semburat kasih sayangmu selalu menyambut hari-hariku, namun karna lembut dan hangatnya aku sampai tak menyadari bahwa kau hadir disetiap aku akan memulai langkah. Terimakasih telah mendidikku dengan caramu yang indah. Semburat ufuk timur.

----------------------

?

  • view 129