Zahia Kepada Zaman—Sajak-Sajak yang Tak Pantas Sampai Padamu

Savira Butsainah
Karya Savira Butsainah Kategori Puisi
dipublikasikan 09 Desember 2017
Zahia Kepada Zaman—Sajak-Sajak yang Tak Pantas Sampai Padamu

/1/

Zaman,

Sajak-sajak itu sesungguhnya banyak. Tapi semua bermula dari sebuah surat pengakuan yang seumur hidupnya hanya tahu berapa luas saku kemeja. Kegamangan kita, ya, mencipta tenang yang asing bagi siapa-siapa. Ada kegetiran yang seumur hidupnya hanya tahu tiga kisah, tentang aku yang mendoakanmu, tentang Tuhan yang menurunkanmu sebagai wujud sepertiga malamku, atau tentangmu menjelma mimpi-mimpi paling nyata.

Entah kapan aku tahu cara untuk punya muka dua, agar ketika orang lain tahu tentang apa yang menjadi rahasiaku, mereka akan culas melempar caci dan nasihat yang tak mampu memperbaiki apa-apa. Zaman, baru ini aku menyadari bahwa aku tak ubahnya orang tertutup yang sangat menghargai rahasia. Bagaimana aku bisa membuka matamu dengan takut bayang-bayang yang menggantung lima jengkal di depan wajah?

Ah, ya, di sini siang dan senja datang lebih awal. Aku ingin mengabarkan, tapi kata-kataku tersendat di tenggorokan. Maafkan, aku terlalu ceroboh, memanggilmu tanpa alasan yang jelas. Jangan sangka yang macam-macam, sebab aku hanya ingin mengatakan: aku rindu pada perbincangan kita di ruang sana. Barangkali bisa kukirimkan setanggar puisi untuk sarapan pagimu. Atau selingsat penghibur di tengah penat kuliah yang membunuhmu.

Zaman, di sini senja dan malam datang lebih awal. Aku hanya ingin mengabarkan, ada batin yang ingin ditalikan. Seribu kilometer panjangnya.

 

Dari tempat yang mendahuluimu satu jam,

sebut saja aku

—Zahia

  • view 91