"... Sebagai kunang-kunang saja"

Saud Ramadhan
Karya Saud Ramadhan Kategori Puisi
dipublikasikan 05 April 2017

"Sebagai kunang-kunang saja..." ~

Kenari melenting, bergelinding pada teras wajah hutan yang rendah. tupai-tupai semangat berlarian, salip-menyalip, menikung batang-batang kekar hidup yang telah lama bertebaran.

Aku, halnya ranting kecil kering yang bertahan dari tali pertukaran musim. Bertahan belajar membetahkan diri menahan tiap-tiap lama yang berjalan, tanpa tahu tepi ujung seperti apa sedang menunggu. Entah akan terpatahkan dan jatuh seperti apa nanti. Atau terperban lumut menyelimut dan kemudian sembuh.

Dahulu kala aku berdaun lebat. Sekilas aku sama berisiknya gesekan daun yang ramai ditemui pengembara setapak jalan musim semi. Yang saat dipandang sekali duakali, hanya dipastikannya berisik suaraku. Lantas berlalu.

Ketika siang bertukar peran menjadi malam. Dan Ketika senja menutup toko-toko tempat persimpangan temu keduanya. Sepertinya aku kelelawar yang mengacau peran malam, mengusik lalu merobohkan hening si pengembara yang sedang berteduh dibawahnya. Oh tidak... aku baru ingat, aku hendak menjelma sebagai kunang-kunang saja. Menyebar mengudara rendah seperti kapas yang bebas dipermainkan liuk-liuk angin sejuk. Aku ingin seperti itu saja, memercikkan cahaya redup kekuningan yang ragu-ragu. Tapi tidak, aku takkan sendiri menghias sengatan sunyi yang lagi dingin. Berbanyak ingin sepertiku. Menemani pengembara dan beberapa kelompok saudara seserangga lainnya. Seumpama jangkrik, yang tertelan malam dan hanya sampai batas bunyiannya dengan kata yang itu-itu saja.

Aku masih seperti hendak menjelma kunang-kunang. yang juga masih membelah julang-julang rerumputan koloni-koloni berkaki mungil. sedang bun-embun bertemu, berkumpul satu sama lain memastikan barisan pada tiap pijakannya. Sedikit aneh, tak ada yang datang berdua, apalagi menyengaja berpasangan. ternyata oh ternyata, ke seluruhnya bersaudara sewaktu sebersamaan lahir. Kembar, terbanyak. Terbesar, hanya beberapanya. Terkecil, Hem..cukup menggemaskan.

Saat hendak kubertanya kepada si kecil. Tiba-tiba ia memanjat sayapku, dan aku tersungkur lalu pingsan. Bangun-bangun, aku terbangun dari tidur siangku. Kembali lagi aku katakan, "aku ingin menjelma saja menjadi kunang-kunang, eh inikan siang, mana ada kunang-kunang, klo begitu lalat saja. Ah tidak tidak, aku tak mau, itu terlalu menggangu si pengupaya yang kapan saja dapat tak berdaya.

~-~

28 Mar 17
Makassar





  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    8 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Cukup sulit menulis coretan penuh metafora semacam ini..Tulisan singkat bersayap yang tak cuma membuai siapa pun yang membacanya tetapi juga mengajak merenung, mencoba memaknai artinya.

    Tulisan ini indah. Banyak memanfaatkan alam, hewan, sebagai obyek kepenulisan sehingga setiap kalimat terbaca nikmat. Secara isi, inspirator bisa mengartikannya secara harfiah tentang kunang-kunang, yang mengamati malam dan siang. Atau tentang orang yang dianggap "tidak ada", mereka yang mengamati sekeliling tapi tak jadi aktor utama. Tahu banyak hal namun tak banyak bertindak sebab ia tahu benar posisinya. Asli. Tulisan ini cantik.

    • Lihat 1 Respon