Ketika Ganjar-Yasin Meninggalkan Jauh Sudirman-Ida

Satrio Jowo
Karya Satrio Jowo Kategori Politik
dipublikasikan 22 Juni 2018
Ketika Ganjar-Yasin Meninggalkan Jauh Sudirman-Ida

“Jangan mendahului. Yang nenentukan itu dua, rakyat sama yg di atas (Tuhan). Yang menentukan 27 Juni”. Kata-kata ini disampaikan oleh Sudirman Said pada Kamis, 21 Juni 2018.

Saat itu, Sudirman Said mendapati kenyataan yang di luar harapan: dirinya dan pasangannya, Ida Fauziyah, jauh tertinggal telak di berbagai survei. Mayoritas lembaga survei – yang merilis persaingan dirinya dengan pasangan nomor satu Ganjar Pranowo-Taj Yasin – menunjukkan bahwa yang unggul telak adalah Ganjar Pranowo – Taj Yasin.

Pasangan Sudirman – Ida Fauziyah dan timnya telah melakukan berbagai usaha secara maksimal untuk dapat mendongkrak suara rakyat demi memenangi Pilgub 2018 di Jawa Tengah. Tetapi hingga mendekati hari perhelatan pilgub, suara Sudirman-Ida tak dapat merangkak naik. Pasangan nomor dua ini selalu kalah telak dari pasangan nomor satu. Bahkan makin hari makin menunjukkan ketertinggalan yang kian jauh.

Sebaliknya tambah hari pasangan Ganjar-Yasin tambah menunjukkan keunggulannya, tambah meninggalkan pesaingnya, Sudirman-Ida. Fakta ini membenarkan bahwa rakyat menyukai apa-apa yang telah dikerjakan oleh Ganjar Pranowo di periode pertama sebagai Gubernur Jawa Tengah. Keberhasilan demi keberhasilan dari kerja nyata dan keberpihakannya kepada rakyat Jawa Tengah menjadi modal kuat.

Ganjar Pranowo adalah contoh dari petahana yang berhasil: ia mampu memenangkan hati rakyat dengan berbagai kerjanya melayani rakyat. Ia mampu menunjukkan kepemimpinannya bagi masyarakat Jawa Tengah. Sehingga bila di berbagai survei ditanyakan soal tingkat kepuasan kepada petahana Jawa Tengah, hasilnya tingkat kepuasan itu selalu tinggi.

Figur dan kerja nyata dari sosok Ganjar Pranowo menjadi modal yang kuat untuk mempertahankan dukungan dan menarik sejumlah dukungan dari rakyat. Bahkan dengan berbagai isu yang dilakukan untuk menggerus elektabilitas Ganjar Pranowo, misalnya soal puisi Gus Mus yang dianggap penistaan agama dan dibacakan oleh Ganjar Pranowo, isu itu tinggal sebagai isu dan elektabilitasnya tetap tinggi. Juga yang selalu dimainkan oleh oknum tak bertanggung jawab soal e-KTP, hasilnya tak merubah elektabilitas Ganjar Pranowo.

***

Pilgub Jawa Tengah menunjukkan persaingan yang sangat berbeda dari propinsi lain. Di beberapa provinsi lain, persaingan begitu ketat dengan selisih-selisih perolehan angka elektabilitas menurut survei tidak begitu jauh. Misalnya di Jawa Timur, persaingan Khofifah-Emil dan Ipul-Puti bersaing ketat dengan selisih yang tidak jauh. Sehingga sangat susah diprediksi siapa yang bakal menang di hari perhelatan nanti. Di Jawa Barat, persaingan juga ketat antara Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi sehingga belum dipastikan siapa yang dapat benar-benar finish sebagai juara.

Tetapi di Jawa Tengah, persaingan justru jauh dari kata ‘ketat’. Pasangan Sudirman-Ida nampak tak menunjukkan perlawanan yang signifikan. Beberapa kali survei, petahana Ganjar Pranowo yang berpasangan dengan Taj Yasin tetap tak tergoyahkan. Keunggulannya jauh telak sekali. Ini tidak terjadi hanya di satu lembaga survei tetapi di berbagai lembaga survei.

Misalnya survei terbaru yang dilakukan pada 7-13 Juni 2018 oleh LSKP-LSI. Survei ini menyebutkan bahwa pasangan Ganjar-Yasin unggul telak di atas pasangan Sudirman-Ida. 54,0 persen milik Ganjar Pranowo-Taj Yasin berbanding dengan 13,0 persen milik Sudirman Said – Ida Fauziyah. Pasangan nomor urut dua tertinggal kurang lebih 35 persen dari pasangan nomor urut satu. Angka yang sangat jauh.

Pada survei indobarometer yang dirilis pada 20 Juni 2018 – beberapa hari yang lalu, pasangan Sudirman Said – Ida Fauziyah juga kalah telak: Ganjar-Yasin meraih 67,3 persen dan Sudirman – Ida meraih 21,1 persen. Tertinggal jauh.

***

Dengan sisa waktu lima hari lagi dan dengan ketertinggalan 35 persen lebih (menurut LSKP-LSI) atau tertinggal kurang lebih 40 persen (menurut Indo Barometer) dari Ganjar Pranowo, memang ini sungguh sangat berat bagi pasangan Sudirman-Ida. Dibutuhkan kerja keras untuk benar-benar dapat merubah kedudukan akhir perolehan suara. Memang bukan mustahil untuk merubah keadaan. Tetapi akal sehat mesti mewajarkan bila pun ada perubahan, suatu perubahan yang tak kan merubah kedudukan dari Sudirman yang semula kalah menjadi menang. Yang harus diterima oleh Sudirman jika pun ada perubahan tak lain hanya soal memangkas jarak ketertinggalan. 27 Juni 2018 akan menjadi harinya pasangan Ganjar Pranowo dan Taj Yasin.

Pada akhirnya, wajar apabila Sudirman Said tidak mau dan tidak perlu melihat pada hasil survei – yang merupakan hasil dari kerja-kerja ilmiah. Temuan survei itu – betapa pun kuatnya hasil itu –  tak menyenangkan hasilnya bagi Sudirman Said. Barangkali adalah sebuah sikap yang tepat untuk tak perlu melihat apa yang tertulis di survei.

Teruslah berdoa dan bekerja keras di sisa waktu yang tersisa. Bukankah Sudirman Said bilang: “saya yakin doa terbaik adalah usaha keras. Masyarakat dan yang di atas melihat itu. Kami berdua yakin Jateng sedang menunggu perubahan”. Do’a Sudirman Said, insya Allah, tak kan sia-sia: Ganjar Pranowo dan Taj Yasin yang dicintai rakyat Jawa Tengah dan diinginkan untuk melanjutkan di periode kedua, insya Allah dapat membawa harapan perubahan dan kemajuan itu. Dia telah meletakkan warisan yang baik di Jawa Tengah. Dan dia dan wakilnya akan melanjutkannya.

  • view 49