Denny JA: Meraih Bahagia Lewat Sikap Hidup Positif

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Motivasi
dipublikasikan 29 Juni 2017
Denny JA: Meraih Bahagia Lewat Sikap Hidup Positif

Buddha pernah mengatakan, “Pikiran adalah segalanya. Apa yang engkau pikirkan, itulah yang akan terjadi.” Mengapa ucapan Buddha itu sangat penting? Hal itu karena Buddha sebenarnya telah menyebutkan satu faktor, yang bisa menentukan kebahagiaan kita.

Faktor itu adalah berpikir dan bersikap positif. Kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun, selalu tumbuhkan perspektif yang bukan saja dapat membantu kita melihat realitas lebih apa adanya, namun juga menumbuhkan emosi positif.

Realitas itu seperti gelas yang terisi air separuh. Apakah kita akan menyebutnya “separuh penuh” atau “separuh kosong,” itu tergantung pada perspektif. Kita bebas memilih, untuk menyebutnya apa.

Sama seperti kita juga bebas untuk memilih ingin optimis atau pesimis, ingin positif atau negatif, ingin bersyukur atau mengeluh. Hidup menyediakan jalan yang bercabang untuk kita pilih.

Arti penting berpikir dan bersikap positif, sebagai jalan menuju kebahagiaan itu, diungkapkan oleh entrepreneur intelektual atau intelektual entrepreneur Denny JA, yang lebih dikenal publik sebagai pengamat dan konsultan politik. Denny menerbitkan buku berjudul “Bahagia Itu Mudah dan Ilmiah” (Penerbit KataDepan, Jakarta: 2017, 366 halaman).

Dalam buku itu, Denny mengungkap berbagai faktor yang membuat manusia bahagia. Letak keunikan karya Denny adalah keyakinannya pada ilmu pengetahuan, sebagai sarana untuk mempelajari dan meraih kebahagiaan.

Denny merumuskan lima pola pikir dan kebiasaan untuk hidup bahagia dalam bahasa populer. Ini didasarkan pada hasil riset ilmiah, ditambah perenungan dan refleksi dari pengalaman hidup Denny sendiri. Hasil ramuan Denny itu bisa dirumuskan dengan 3P + 2S. Yaitu: Personal Relationship, Positivity, Passion (3P), plus Small Winning dan Spiritual Life (2S).

Penjelasannya, Personal Relationship artinya hubungan pribadi, hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain dalam keluarga dan lingkungan sosialnya. Kita harus menumbuhkan semangat untuk bersahabat. Yakni, sikap yang diniatkan untuk mengakrabkan diri, menikmati hubungan sosial, mendengar, membantu, dan melewati kebersamaan dengan orang lain.

Kedua, Positivity, yaitu sikap hidup yang positif. Sikap ini selalu melahirkan perspektif yang positif. Itulah perspektif yang menumbuhkan optimisme, memberi harapan, berkarakter membantu orang lain, ceria, dan bersyukur.

Ketiga, Passion yang adalah kebiasaan melibatkan diri secara total dengan semangat sepenuh hati atas aktivitas apa pun yang kita anggap penting. Hanya dengan passion yang menyala, sejauh kegiatan itu sangat disukai, riset akademik membuktikan bahwa itu penanda awal kita akan menjalani hidup yang bermakna.

Keempat, Small Winnings atau kemenangan-kemenangan kecil. Hidup yang dipenuhi aneka kemenangan kecil akan menjadi hidup yang bergelora, hidup bersemangat.

Kelima, Spiritual Life atau hidup yang bermakna. Hidup yang bermakna itu adalah hidup yang spiritual, yang memiliki tujuan lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi atau perolehan materi belaka.

Nah, Denny menguraikan lebih jauh soal sikap hidup positif tersebut. Menurut Denny, salah satu indikasi cara berpikir dan bersikap positif adalah dengan bersyukur atas semua karunia yang telah diberikan Tuhan pada diri kita. Ini adalah ajaran dari banyak agama, termasuk Kristen dan Islam.

Ada riset ilmiah tentang rasa bersyukur ini. Tim riset dipimpin oleh Robert Emmons dari University of California, Amerika Serikat. Emmons juga editor utama Positive Psychology Journal. Dalam waktu lebih dari 10 tahun, tim ini telah meneliti lebih dari 1.000 orang dengan usia bervariasi, berusia 8 sampai 80 tahun.

Setiap responden diminta bersyukur tentang semua yang mereka alami. Rasa syukur bisa diwujudkan melalui cara pandang atau persepsi yang berbeda terhadap hal kurang menyenangkan, ketika sebuah bencana atau peristiwa buruk terjadi.

Kalau di Jawa, sebenarnya ada filsafat hidup “selalu untung.” Ini juga teknik untuk selalu merasa bersyukur. Contoh praktisnya, jika jempol terluka, kita bisa bersikap, untung cuma jempol yang luka, bukan semua telapak tangan.

Jika telapak tangan terluka, kita bisa bilang, untung cuma telapak tangan, bukan seluruh tangan. Dan seterusnya. Dengan teknik ini, responden tidak pernah kehabisan bahan untuk merasa bersyukur. Hal baik, bahkan buruk sekalipun, bisa diolah jadi rasa syukur.

Sikap hidup bersyukur selalu mencari hikmah dalam setiap peristiwa. Bahkan peristiwa paling buruk sekalipun, jika sudah terjadi dan tak bisa lagi diubah, tetap bisa memberikan hikmah sebagai buah pelajaran ke depan.

Nah, berdasarkan hasil penelitian tim Emmons, ternyata secara fisik, mereka yang mempraktikkan rasa bersyukur secara rutin, kekebalan tubuhnya (immune system) lebih kuat. Tidurnya lebih nyenyak dan bangun tidur lebih segar. Ia lebih senang berolahraga dan lebih peduli dengan kesehatannya.

Ditambahkan oleh Denny, secara psikologis, efek rasa bersyukur itu membuat hidup seseorang lebih ceria, lebih tahan stres. Ia lebih mengembangkan emosi positif. Seseorang sangat mudah bahagia dan sangat sulit dipatahkan, apabila sikap hidup bersyukur tumbuh dalam dirinya.

Secara sosial efek bersyukur juga membuat seseorang lebih pro-sosial, lebih menolong, lebih baik kepada orang lain. Ia cenderung lebih membina relasi yang hangat.

Membaca buku karya Denny ini memang memberi perspektif baru tentang upaya meraih kebahagiaan, sebuah upaya universal yang dilakukan orang dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Bagaimana pun, sebagus-bagusnya saran yang ditawarkan Denny di bukunya, tidak akan banyak manfaatnya jika tidak dipraktikkan. Silakan mencoba! ***

  • view 57