Eksperimen Estetis Denny Dari Inspirasi “Aksi Kamisan”

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 03 April 2018
Eksperimen Estetis Denny Dari Inspirasi “Aksi Kamisan”

Denny JA. Kutunggu di Setiap Kamisan: Kisah Cinta yang Terselip di 400 Kamis Seberang Istana. Penerbit: Inspirasi.co (PT. Cerah Budaya Indonesia), Jakarta, April 2018.

Tanggal 5 April 2018 ini adalah Kamis ke-533 dilangsungkannya “Aksi Kamisan” atau ”Aksi Payung Hitam.”  Ini adalah ritual rutin yang diselenggarakan keluarga korban kerusuhan 1998 di depan Istana Negara, tiap Kamis setiap bulan setiap tahun. Tujuannya adalah menuntut pertanggungjawaban negara dan kejelasan nasib keluarganya, yang hilang pada peristiwa kelam 1998.

Saat itu ada anak bangsa yang tega menculik,menyiksa, dan menghilangkan sesama anak bangsa Indonesia. Sekitar 1998 menjadi saksi atas sekian kasus kekerasan dan pelanggaran HAM. Yakni: Penculikan aktivis 1997/98, tragedi Trisakti 12 Mei ’98, kerusuhan 13-15 Mei ’98, tragedi Semanggi 1 – 13 November ‘98, dan tragedi Semanggi 11 – 24 September ’99.

Di penghujung 2006, Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), sebuah paguyuban korban/keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM), mengadakan sharing bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), untuk mencari alternatif kegiatan dalam perjuangannya.

Pada 9 Januari 2007, disepakati mengadakan suatu kegiatan guna bertahan dalam perjuangan mengungkap fakta kebenaran, mencari keadilan, dan melawan lupa. Bentuknya, berupa “aksi diam” sekali dalam seminggu. Disepakati pula mengenai hari, tempat, waktu, pakaian, warna, dan simbol gerakan.

Kamis dipilih sebagai hari di mana peserta rapat bisa meluangkan waktu. Depan Istana Presiden menjadi lokasi aksi, karena Istana merupakan simbol pusat kekuasaan. Waktu ditentukan pukul 16.00-17.00, saat lalu lintas di depan Istana Presiden ramai oleh kendaraan pulang bekerja. Payung hitam dipilih sebagai maskot, karena melambangkan perlindungan dan keteguhan iman. Kamis, 18 Januari 2007 adalah hari pertama berlangsungnya “Aksi Kamisan.”

Berbagai kasus lain juga dihadirkan di “Aksi Kamisan,” mulai dari tragedi 1965, Tanjung Priok ’84, kasus 27 Juli ’96, kasus Munir 2004, Ahmadiyah, dan lain-lain. Yang ingin kita ulas di sini, “Aksi Kamisan” ternyata telah menginspirasi munculnya karya-karya seni dan sastra.

Kali ini Denny JA, yang sempat memicu kontroversi di komunitas sastra dengan genre puisi esainya, membuat karya puisi esai, berjudul  Kutunggu di Setiap Kamisan: Kisah Cinta yang Terselip di 400 Kamis Seberang Istana (KDSK). Tulisan ini tidak bermaksud membahas pro-kontra “keabsahan” genre puisi esai, yang sudah terlalu banyak dibahas di tempat lain. Tetapi akan lebih fokus pada karya spesifik, yang berjudul KDSK ini.

KDSK berkisah tentang Lina, perempuan dan ibu satu anak, yang kehilangan suaminya dalam kerusuhan 1998. Sesudah melalui proses perjalanan batin tertentu, Lina selalu hadir dengan setia dan konsisten di “Aksi Kamisan.” Dalam KDSK ini, nama suami Lina tidak pernah ditegaskan, tetapi hanya dikenal dengan sebutan “Kang Mas.”

Kamis menjadi hari istimewa dalam KDSK. Kang Mas ikut bergabung dalam gerakan untuk menjatuhkan rezim Soeharto pada 1998. Meski Lina merasa keberatan, putri mantan tahanan politik Pulau Buru itu akhirnya melepas sang suami, pada suatu Kamis, di stasiun KA Yogyakarta. Saat itu Lina sedang hamil.

Kang Mas, yang berangkat ke Jakarta, berjanji akan pulang dan bertemu Lina kembali pada Kamis, meski tidak jelas Kamis tanggal berapa dan kapan persisnya. Ternyata, setelah sekian lama Lina menunggu, sang suami tak pernah pulang kembali. Diduga, ia hilang atau tewas dalam gejolak kerusuhan massal, yang menyertai pergantian kekuasaan pada Mei 1998.

Denny memilih alur bercerita flash back. Dimulai dari hadirnya Lina dalam “Aksi Kamisan” masa kini di depan Istana, cerita lalu mundur ke masa lalu, ketika suami Lina masih hidup. Lina berpisah dengan suami di Yogyakarta pada 1998. Lalu kisah diisi dengan berbagai gejolak hati dan perasaan Lina, menanti pulangnya suami, yang tak kunjung terjadi. Anak Lina pun lahir tanpa kehadiran sang ayah.

Dalam penantian panjang, yang tampaknya merupakan ujian kesetiaan dan cinta, Lina menghadapi pilihan atau tawaran, untuk menerima kehadiran laki-laki lain dalam hidupnya. Seperti, pria sahabat suaminya, yang banyak membantu kehidupan Lina di saat-saat sulit. Tetapi ujungnya Lina memilih tetap sendiri, bersama putra semata wayangnya.

Lina akhirnya menjual rumahnya di Yogyakarta, dan pindah ke Jakarta, kota tempat suaminya hilang. Berkenalan dengan seorang aktivis perempuan, Lina diajak untuk ikut “Aksi Kamisan.” Awalnya Lina enggan, tetapi kemudian Lina terlibat intens dalam aksi setiap Kamis di depan Istana. Meski begitu, dalam setiap aksi Lina cenderung diam. Ia melakukan protes dengan diam.

Dalam puisi esai ini, Denny kembali melakukan eksperimentasi. Kita tahu bahwa salah satu ciri utama puisi esai, adalah mengangkat isu dan masalah-masalah sosial kemanusiaan. KDSK ini mengangkat perjuangan keluarga korban-korban pelanggaran HAM, yang kasusnya menggantung dan tidak/belum juga diselesaikan oleh negara.

Ciri utama lainnya adalah bentuk puisi yang panjang, naratif, dengan dilengkapi banyak catatan kaki di sana-sini. Catatan kaki dan data, yang bisa diverifikasi sendiri oleh pembaca, menunjukkan bahwa kisah yang disajikan itu bukan semata-mata khayalan, tetapi memiliki basis dalam kehidupan nyata.

Kisah puisi esai pada hakikatnya adalah fiktif, namun ia memiliki basis realitas. Kisah Lina adalah fiktif, tetapi “Aksi Kamisan” yang berlangsung tiap minggu itu fakta. Bahwa banyak orang hilang atau tewas tak tentu rimbanya dalam gejolak kerusuhan massal 1998, itu juga fakta.

Eksperimentasi Denny terletak pada penambahan elemen gambar yang ekstensif, sebagai sarana berkisah. Puisi esai ini didukung oleh konsep dan pengembangan desain oleh Futih Aljihadi dan Hubton Indonesia, yang dalam eksekusinya menangani ilustrasi, desain dan lay out (tata letak/perwajahan).

Jadi, alur kisah puisi esai dalam hal KDSK bukan cuma bisa dinikmati dari teks tertulis, tetapi juga dari gambar-gambar berwarna, yang disajikan di tiap halaman menyertai tulisan. KDSK jadi mirip komik, tapi dengan narasi puisi.

Seumpama Denny mau mengangkut barang (baca: pesan) dari Jakarta ke Semarang (dari penulis ke pembaca), terdapat dua jalur angkutan paralel (pengisahan). Pertama, angkutan darat dengan truk (teks tertulis, puisi). Kedua, angkutan dengan kereta api (ilustrasi/gambar).

Kedua jalur pengisahan ini seharusnya  bersifat komplementer, saling memperkuat, dan saling melengkapi. Atau, masing-masing jalur bisa juga berdiri sendiri dalam menyampaikan pesan. Tanpa ilustrasi gambar pun, pembaca sudah bisa menangkap pesan dari teks tertulis.

Namun, ada risiko dari cara penyampaian pesan secara paralel. Keindahan dari puisi (teks tertulis) adalah, ia memberi ruang imajinasi pada pembaca. Nah, keberadaan gambar bisa membantu pembaca untuk membayangkan situasi, di mana dia tidak pernah punya pengalaman dengannya.

Orang yang tak pernah ke Paris, Perancis, mungkin tertolong oleh gambar tentang kota Paris. Namun, di sisi lain gambar juga justru bisa membatasi imajinasi. Imajinasi itu sesungguhnya bisa luas tak terhingga, sedangkan gambar hanya merumuskan satu bentuk imajinasi. Tinggal kita mau terima atau tidak.

Jika Denny mau mengembangkan “puisi esai berilustrasi,” paradoks semacam ini mungkin harus dipertimbangkan serius. Bagaimana pun juga, kita patut memberi apresiasi untuk komitmen, kegigihan, dan keseriusan Denny mengembangkan genre puisi esai. Ada yang menerima, dan ada juga yang menolak langkah Denny dengan berbagai tuduhan miring. Waktu akan membuktikan, apakah genre puisi esai akan bertahan. ***

  • view 103