Membangun Sintesis Konsep HAM Barat dan Islam

Membangun Sintesis Konsep HAM Barat dan Islam

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Buku
dipublikasikan 11 Februari 2018
Membangun Sintesis Konsep HAM Barat dan Islam

RESENSI BUKU: Denny JA. 2018. Hak Asasi Manusia dengan Spirit La Ilaha Illallah. Jakarta: Inspirasi.co Book Project. xiv + 270 hlm.

Salah satu isu penting dalam wacana publik di Indonesia saat ini adalah hubungan antara konsep hak asasi manusia (HAM) dan ajaran agama, atau lebih spesifik lagi: Islam. Mengapa Islam? Karena Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia, dan Islam akan menjadi agama mayoritas warga dunia pada 2070.

Angka tren pertumbuhan jumlah penganut Islam ini diperoleh dari hasil riset lembaga yang berpusat di Amerika Serikat: Pew Research Center, tahun 2015. Analisis demografi dilakukan lembaga ini dengan melihat rata-rata kecepatan pertumbuhan penganut agama. Pertumbuhan populasi penganut Islam sekitar 73 persen pada periode 2010-2050, jauh di atas agama-agama lain. Dengan kata lain, sudut pandang Islam akan mewarnai secara signifikan penerapan nilai-nilai HAM.

Namun bagaimana bentuk dan dinamika hubungan antara keduanya? Apakah keduanya akan bertentangan? Ataukah, dengan satu dan lain cara, keduanya bisa diselaraskan atau disintesiskan? Baru-baru ini saja muncul kontroversi di media, terkait pembahasan Rancangan KUHP di DPR RI, yang dicurigai oleh sejumlah pemuka agama akan melegalkan perkawinan sejenis.

Sangat menarik bahwa topik hubungan antara konsep HAM dan agama Islam ini diangkat oleh Denny JA, dalam buku karya terbarunya. Denny selama ini Iebih dikenal sebagai konsultan politik, perintis lembaga survei politik, tokoh media sosial, dan terakhir juga merambah sebagai penyair di dunia sastra. Harus diakui, Denny memang sangat produktif dalam berkarya. Buku ini adalah buku Denny ke-54.

Buku yang terbagi dalam empat bab ini berisi  30 esai, yang ditulisnya pada periode tiga tahun terakhir. Tema-tema tiap bab adalah: Bab Satu, Sintesa Kultural Hak Asasi Manusia dan Prinsip La Ilaha Illallah; Bab Dua, Demokrasi Rasa Indonesia; Bab Tiga, Beragama di Zaman Now; dan Bab Empat, Tapi Bukan Kami Punya. Dalam buku ini, Denny sengaja memilih hanya esai yang memiliki nilai perspektif demokrasi atau HAM saja.

Meskipun buku ini berisi esai-esai pendek, Denny punya misi besar dan ambisius. Yakni, bagaimana mensintesiskan konsep HAM Barat dan ajaran Islam. Mengapa Denny mau melakukan hal ini? Alasannya, menurut saya, sangat personal. Dengan segala kesuksesan material yang telah dicapainya, Denny ternyata selalu gelisah. Ia ingin memberikan lebih pada dunia, bukan dalam bentuk materi semata (yang sudah ia lakukan), tetapi dalam wujud gagasan-gagasan besar. Gagasan yang menjadi nafas kehidupannya.

Prinsip Moral Hidup Bersama

Pergumulan pemikiran dan penjelajahan batin Denny sangat luas. Namun terasa gagasan dasarnya sama. Aneka tulisan Denny itu berasal dari batin campuran dunia timur dan barat. Dari Barat, Denny begitu takjub oleh prinsip HAM, yang dianggapnya sebagai kulminasi kolektif peradaban puncak manusia. Namun, menurut Denny, seorang pejuang HAM ujung-ujungnya bisa sampai pada keyakinan pribadi, yang tak meyakini --apa yang oleh agama disebut dengan-- Allah atau Tuhan.

Denny justru sebaliknya. Dengan bertambahnya usia, keyakinannya pada prinsip HAM menguat. Namun, pada saat yang sama, sebagai seorang Muslim, ia juga mengaku semakin tenggelam dalam ajaran Tauhid dan ucapan La Ilaha Illallah. Denny tidak mengambil yang satu dengan membuang yang lain, tetapi ia mencoba mensintesiskan keduanya. Padahal kita tahu, dalam konteks praktis hal itu tidak mudah. Dalam isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) atau perkawinan sesama jenis, misalnya, kita melihat pertentangan yang keras antara para aktivis HAM (yang sering dianggap sekuler) melawan pemuka agama (Islam).

HAM adalah salah satu pencapaian penting peradaban Barat. Konsep HAM ini sudah mendunia. HAM sudah dirumuskan dalam Deklarasi Universal HAM oleh badan dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan diproklamasikan pada 10 Desember 1948. Sebagai norma dan prinsip-prinsip moral, sangat menarik untuk melihat bagaimana konsep HAM ini disintesiskan dengan norma dan prinsip-prinsip moral, yang sudah ditawarkan oleh otoritas lain: agama (Islam).

Menurut Denny, ada tiga alasan, mengapa prinsip HAM harus dipertimbangkan sebagai moral hidup bersama, termasuk untuk kita di Indonesia. Pertama, setiap individu ingin dihormati filsafat hidupnya, termasuk keyakinan agamanya dan interpretasinya atas agama. Ada 4.200 agama yang kini terdaftar hidup di planet bumi.

Kedua, secara de facto, pengambil kebijakan negara modern tak lagi dituntun oleh ortodoksi agama, tapi lebih digerakkan oleh perkembangan terbaru sains, akumulasi riset, dalam membuat kebijakan. Misalnya, makin banyak negara yang melegalkan perkawinan sejenis, sesuatu yang dulu amat ditentang oleh ortodoksi agama. Homoseksualitas tidak lagi dianggap sebagai penyakit/penyimpangan.

Ketiga, prinsip HAM juga membolehkan dissenting opinion dan menjadi “open society.” Segala hal bisa diubah sejauh berdasarkan argumen yang kuat reasoningnya, dan diperjuangkan secara demokratis. Individu tak boleh dihukum karena fantasinya. Bahkan dalam prinsip moralitas HAM, siapapun tetap boleh memperjuangkan keyakinannya. Misalnya, ia merindukan diterapkannya negara agama (kasus Hizbut Tahrir sebagai contoh).

Tidak Membatasi Agama

Bagi Denny, menjadikan HAM sebagai moral bersama sama sekali tidak membatasi individu dalam menjalankan agama dan keyakinannya. Justru HAM dibuat untuk melindungi kebebasan individu dalam memilih gaya dan keyakinan hidupnya. Yang dilarang hanyalah pemaksaan menyeragamkan pihak lain dengan kekerasan. Dakwah tentang apapun dibiarkan, karena itu bagian dari HAM.

HAM diperlukan sebagai syarat minimal ruang publik, agar aneka keberagaman warga terakomodasi. Namun, untuk pencapaian puncak kebahagiaan warga, manusia butuh lebih dari sekedar list HAM. Ketika seorang Muslim mengikrarkan tak ada tuhan selain Allah, itu adalah negasi radikal. Tak boleh ada hal lain yang disembah dalam hidup ini (diktator, uang, jabatan, bahkan pemuka agama), kecuali yang tak terbayangkan: Allah.

Pembaca mungkin akan bertanya, apakah Denny tidak melihat kontradiksi antara penyembahan pada Allah dan beberapa penyikapan isu HAM tertentu, yang oleh sejumlah pemuka agama dianggap tidak sesuai dengan norma atau hukum-hukum agama? Di sejumlah negara Islam, pelaku LGBT bisa dihukum mati.

Dalam perspektif Denny, ketika kita menyebut “Allah,” semua definisi tak berlaku. Allah melampaui semua definisi. Karena sekali ia bisa didefinisikan, ia bukan Allah lagi. Namun untuk kepentingan praktis, Allah itu bisa dimengerti melalui proksi. Allah adalah puncak kesempurnaan dan kebenaran.

Berjuang untuk La Ilaha Illallah, bagi Denny adalah berjuang untuk membebaskan pikiran, jiwa dan mindset manusia untuk tidak menyembah dunia, tapi mengubahnya menuju kesempurnaan. Maka Denny melihat, La Ilaha Illallah itu bukan saja tidak bertentangan dengan HAM, tetapi justru merupakan muara spiritual untuk melahirkan prinsip HAM. Ini memang terkesan bagus secara konsep, namun bagaimana cara Denny menerapkannya?

Secara konkret operasional, agar setiap warga bisa hidup nyaman di zaman baru, Denny mengusulkan penerapan tiga prinsip. Pertama, memisahkan pilihan moral pribadi dan moral bersama. Memisahkan salah dan benar berdasarkan keyakinan pribadi dengan salah dan benar ruang publik. Walaupun, secara umum akan tetap lebih banyak isu, di mana ada satu pandangan antara moral/keyakinan pribadi dan moral bersama. Korupsi, pembunuhan, pemerkosaan, adalah contoh hal-hal yang dianggap buruk, baik berdasarkan moral pribadi ataupun moral bersama.

Sedangkan, dalam kasus makan daging babi, itu jelas haram (terlarang) berdasarkan moral pribadi seorang Muslim. Namun, umat Islam sepenuhnya menerima bahwa dalam moral bersama (ruang publik), hukum negara tak bisa melarang pihak yang berbeda untuk tak makan babi. Kasus daging babi ini bisa diperluas ke hal-hal lain.

Pemisahan moral pribadi dan moral bersama, menurut Denny, akan memudahkan individu memahami perilaku negara yang seharusnya. Negara harus melindungi keberagaman, tapi bersikap sangat keras kepada mereka yang melakukan pemaksaan dan kekerasan.

Kedua, mengembangkan kultur “agree to disagree” (sepakat untuk tidak sepakat ). Kita harus ikhlas menerima hak setiap orang untuk berbeda. Setiap orang tak bisa dipaksa bersetuju dengan kita. Hak setiap orang untuk memperjuangkan gubernur muslim, atau bupati asal daerahnya. Sebaliknya, hak setiap orang pula jika ia ingin menjadi liberal, dan menentang semua itu. Semua warga negara punya hak yang sama. Tiap aspirasi itu boleh dipertarungkan di ruang publik secara demokratis, tanpa paksaan atau kekerasan.

Ketiga, prinsip perubahan gradual (bertahap). Di Indonesia, pengaruh agama sangat dalam. Maka resistensi atas prinsip HAM berdasarkan keyakinan agama perlu selalu dipertimbangkan. Namun, tidak dengan menggugurkan prinsip HAM itu, tapi menerapkannya secara bertahap, berdasarkan kesiapan kesadaran kolektif masyarakat.

Maka, jangan memaksa pemerintah Indonesia melegalkan perkawinan sejenis dalam waktu dekat, karena akan merusak semuanya. Publik belum siap. Sebaliknya, kaum LGBT juga tak boleh dianiaya dan dikurangi haknya selaku warga, sesuai konstitusi UUD 45. Indonesia secara bertahap dapat menerapkan HAM dengan campuran budaya dan keyakinannya sendiri. Kata Denny, “Pada waktunya, semua akan indah.”

Membaca buku Denny bagi saya adalah seperti membaca sebuah tawaran. Tentunya tawaran ini disusun berdasarkan pada pengalaman dan perenungan Denny pribadi selama ini. Tawaran Denny terasa provokatif dan menantang, bagi mereka yang tidak terbiasa dengan ide-ide “terobosan.” Tawaran ini juga bisa dinilai mencerahkan, dari perspektif yang berbeda.

Namun, banyak PR (pekerjaan rumah) dan kerja keras yang masih harus dilakukan, untuk bisa mengaplikasikan pemikiran Denny. Seperti diakui Denny sendiri, ide-ide baru –apalagi menyangkut isu sensitif yang menyinggung norma dan ajaran agama—butuh waktu untuk bisa diterima. Tetapi, Denny tampaknya cukup bijak untuk menerima hal itu, dan cukup sabar untuk menunggu sampai ide-idenya terealisasi pada waktunya. ***

Depok, Februari 2018

  • view 179