David Fishelov, Puisi Esai dan Angkatan Baru Puisi Indonesia

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 Januari 2018
David Fishelov, Puisi Esai dan Angkatan Baru Puisi Indonesia

Kontroversi tentang lahirnya angkatan baru dalam puisi Indonesia telah menjadi pemberitaan media akhir-akhir ini. Kontroversi pada Januari 2018 itu, yang tampaknya akan terus berlanjut, dipicu oleh momen akan terbitnya 34 buku puisi esai di 34 provinsi seluruh Indonesia. Karya-karya itu ditulis oleh 170 penyair, penulis, aktivis, peneliti, dan jurnalis dari Aceh hingga Papua. Ini spektrum yang luas dan cukup representatif.

Pro-kontra lahirnya angkatan baru dalam puisi Indonesia ini benar-benar gegap gempita. Rencana penerbitan 34 buku puisi esai itu ditentang oleh ratusan penyair dan sastrawan. Mereka membuat petisi penolakan terhadap program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional, yang digagas oleh Denny Januar Ali (Denny JA). Petisi itu dikabarkan sudah didukung 549 orang. Pihak yang menolak ini menuduh program puisi esai tersebut telah membuat “penggelapan sejarah, pembodohan, pengeliruan definisi-definisi ilmiah, dan segala praktik manipulatif lain dalam kesusastraan Indonesia.”

Pada 8 Januari 2018, beberapa penyair muda membentuk grup WA dengan nama Penyair Muda Indonesia. Grup itu diniatkan menjadi wadah para penyair muda untuk bersilaturahmi, berdiskusi, dan berbagi informasi seputar perkembangan sastra Indonesia. Namun sejak 11 Januari, para anggota grup itu banyak berdiskusi tentang program buku puisi esai nasional. Mereka bersepakat untuk menolak proyek buku itu.

Pro-kontra dalam dunia sastra sebetulnya biasa saja. Sayang, aksi kontra ini lebih bersifat reaktif dan negatif: menolak dan menolak. Namun, mereka tidak mengajukan gagasan alternatif terhadap karya-karya puisi esai, yang sebagian besar memang sudah dipublikasikan dan disosialisasikan, jauh sebelum program 34 buku puisi esai ini diluncurkan. Bahkan sebagian karya puisi esai itu sudah diterjemahkan ke bahasa asing.

Tulisan ini tidak bermaksud mengulas kontroversi tersebut, yang tampaknya masih terus memanas. Apalagi 34 buku puisi esai yang digagas Denny JA itu memang masih dalam proses penyuntingan naskah dan desain perwajahan buku untuk diterbitkan. Tulisan ini hanya ingin mengangkat pemikiran David Fishelov (63) tentang lahirnya sebuah genre sastra, yang dikaitkan dengan kelahiran puisi esai sebagai angkatan baru dalam puisi Indonesia.

David Fishelov

Lahir pada 1 Juni 1954, David Fishelov mengajar di Departemen Perbandingan Sastra di Hebrew University, Jerusalem sejak 1986. Ia meraih doktor di bidang perbandingan sastra dari University of California, Berkeley (1986), dengan tesis tentang peran metafora dalam teori-teori genre sastra. Fishelov menjadi dosen tamu di Berkeley, University of Chicago, Columbia University, dan School for Advanced Studies in the Social Sciences di Paris. Ia juga mengajar di Rothberg International School, Hebrew University, Jerusalem.

Sebagai kritikus sastra, Fishelov telah menerbitkan esai dan ulasan sastra di berbagai suplemen suratkabar, serta memberi kata pengantar untuk beberapa terjemahan karya sastra abad ke-18. Topik riset Fishelov mencakup teori genre, kiasan puitis, karakter-karakter biblis (biblical) dalam sastra modern, peran dialog sastra dan artistik dalam pembentukan kanun, dan puisi Hebrew modern.

Karyanya Metaphors of Genre: The Role of Analogies in Genre Theory (University Park: Penn State UP. 1993) memberi dampak signifikan di bidang studi genre. Dalam bukunya itu, Fishelov menjabarkan peran yang dimainkan metafora-metafora konseptual dalam teori-teori modern tentang genre-genre sastra. Genre-genre sastra itu dibandingkannya dengan spesies-spesies biologis, keluarga-keluarga, lembaga-lembaga sosial, dan pidato-pidato.

Menurut Fishelov, kategori-kategori generik tetap memainkan peran penting dalam proses produksi, penerimaan (reception), dan penafsiran teks-teks sastra. Ketika bukunya pertama kali muncul, sejumlah kritikus mempersoalkan apa yang mereka anggap pendekatan Fishelov yang konservatif terhadap genre-genre sastra. Namun kemudian, manfaat buku Fishelov dalam studi-studi genre diakui oleh banyak akademisi di bidang tersebut.

Lahirnya Sebuah Genre

Fishelov mengungkap bagaimana lahirnya sebuh genre sastra dalam karyanya “The Birth of a Genre” di jurnal European Journal of English Studies, Vol. 3 No. 1, pp. 51-63 (April 1999). Fishelov memilih penerapan perspektif evolusionis secara hati-hati terhadap sejarah genre, di mana berbagai bentuk produktivitas generik (generic productivity) bertemu dengan lingkungan sastra dan budaya (literary and cultural environment). Dinamika antara dua faktor itu menentukan sejarah, transformasi, dan status genre itu dalam sistem kesusastraan.

Salah satu penjelasan tentang lahirnya sebuah genre baru adalah ketika sebuah karya baru dan orisinal diterbitkan, dan karya itu ternyata tidak cocok dimasukkan ke dalam seperangkat kategori-kategori generik yang sudah ada. Dengan demikian, harus dibuka kategori baru untuk karya itu. Maka sebuah genre baru pun lahir. Namun, alasan ini saja belum cukup memadai.

Ada pola yang sama, di mana kelahiran sebuah genre baru ditandai oleh bentuk-bentuk sekunder produktivitas generik (terjemahan, adaptasi, parodi), yang diikuti oleh bentuk-bentuk dialektis primer. Pola ini dapat ditemukan pada periode-periode sejarah yang besar, yang membentang berabad-abad (misalnya, komedi dramatik), dalam periode dua ratusan tahun ketika puisi epik diperkenalkan ke Roma, dan episode di mana seorang penulis tunggal memainkan peran utama dalam kelahiran sebuah novel, dan berbagai perkembangan lainnya.

Pola ini tampaknya sangat masuk akal. Hanya sesudah pembentukan atau diterimanya sebuah model generik --lewat terjemahan, adaptasi, parodi, dan sejenisnya-- barulah kita bisa berpindah ke mode produktivitas generik yang lebih menuntut. Mode yang lebih menuntut ini mencakup penerimaan terhadap model generik tersebut, namun pada saat yang sama juga menerima berbagai bentuk pengembangan dan tantangan terhadapnya.  Mode produktivitas yang terakhir ini biasanya adalah yang menarik perhatian kita dan memancing pujian estetik. Namun, kita tidak boleh melupakan faktor-faktor yang membuka jalan bagi bentuk-bentuk primer produktivitas generik itu: yakni, bentuk-bentuk sekunder produktivitas generik.

Perbedaan antara bentuk-bentuk primer dan sekunder produktivitas generik bukan hanya memungkinkan kita untuk memahami karakteristik dinamis kelahiran sebuah genre dengan lebih baik.  Namun, hal ini juga dapat mengarah ke sebuah revisi penting atas pandangan-pandangan tertentu yang sudah diterima tentang tahapan krusial “kelahiran” sebuah genre baru.

Kelahiran sebuah genre biasanya diasosiasikan dengan “nama-nama besar” atau “bapak-bapak pendiri” genre tertentu: Homer dengan puisi epik, Sophocles dan Euripides dengan tragedi; Petrarch dengan soneta, dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya, kelahiran sebuah genre akrab dikaitkan dengan pencapaian impresif, dan kadang-kadang bahkan bersifat heroik dan dramatik. Sebuah puncak estetik.

Tetapi, pendapat ini sebenarnya salah arah. Pendapat ini didasarkan pada kebingungan dalam membedakan antara “kelahiran” sebuah karya seni besar (atau kelahiran karya seorang pengarang atau seniman besar), dan kelahiran sebuah genre. Sebuah genre mungkin (dan mungkin juga tidak) lahir dari sebuah karya seni besar. Namun, kita tidak  boleh menganggap dua hal itu identik.

Kelahiran sebuah karya besar memang sebuah puncak estetik dan kreatif yang menggairahkan. Namun tidak harus ada korelasi antara kelahiran sebuah karya besar dan kelahiran sebuah genre. Ulysses, karya besar Joyce, misalnya, tidak menandai lahirnya genre baru.

Maka berdasarkan berbagai uraian di atas, kelahiran sebuah genre jauh lebih kusam dan merupakan proses yang kurang dramatik ketimbang yang mungkin kita bayangkan. Genre baru biasanya melibatkan seniman dan pengarang yang biasa-biasa saja, bukan seniman jenius yang luar biasa, mengingat kita berurusan dengan berbagai bentuk terjemahan, adaptasi, dan parodi dari karya-karya tertentu.

Dengan kata lain, lahirnya sebuah genre pertama-tama dan terutama ditandai dengan bentuk-bentuk sekunder produktivitas generik. Meski demikian, arti penting bentuk-bentuk sekunder ini tak boleh direndahkan. Mereka memainkan peran penting dan vital dalam pembentukan genre-genre baru. Tanpa bentuk-bentuk sekunder ini, tidak ada bentuk-bentuk primer produktivitas generik.

Bentuk-bentuk sekunder ini menyiapkan landasan, sebut saja begitu, bagi bentuk-bentuk primer. Atau, jika kita menggunakan metafora yang lebih bernuansa biologis, bentuk-bentuk sekunder itu menyuburkan lahan bagi bentuk-bentuk primer. Faktanya, kedua bentuk itu bersifat esensial bagi berfungsinya genre yang produktif.

Masing-masing memenuhi bagian tugasnya dalam proses produktivitas generik yang beraneka-ragam, dialektis, menakjubkan serta kompleks. Proses itu mencakup imitasi, adaptasi, terjemahan, dan juga relasi dialektis, yang melampaui (transcend) batasan-batasan genre --yang untuk sementara waktu sudah mapan—dan membawanya ke arah cakrawala-cakrawala baru.

Puisi Esai Sebagai Genre Baru

Dalam kaitan dengan puisi esai, menurut kerangka Fishelov, apakah puisi esai bisa disebut mewakili genre baru? Menurut Denny JA, yang dianggap sebagai penggagas puisi esai, ada sejumlah alasan mengapa tahun 2018 ini bisa dianggap sebagai tonggak lahirnya angkatan baru puisi Indonesia. 

Dari sebanyak 170 puisi, yang akan diterbitkan dalam 34 buku itu, memunculkan lima ciri yang sama. Pertama, semua 170 puisi ini menghadirkan fakta dan fiksi. Meski ada satu peristiwa sosial yang nyata di dalamnya, dalam puisi ini tetap kisah fiksi yang utama. Kedua, semua 170 puisi ini panjang minimal 2.000 kata. Umumnya puisi di zaman ini bisa ditulis cukup satu atau dua halaman. Tapi 170 puisi ini memakan hingga 10 halaman, bahkan lebih. Ketiga, semua 170 puisi memiliki minimal 10 catatan kaki. Seperti makalah ilmiah, hadirnya catatan kaki menunjukkan peristiwa sosial di dalam puisi adalah nyata. Ada sumber informasi yang bisa dilacak. Ada riset minimal dalam puisi ini. Keempat, semua 170 puisi memiliki drama. Ada hubungan pribadi yang berkembang dalam puisi. Ini layaknya cerita pendek yang dipuisikan. Kelima, ini tambahan, semua 170 puisi lahir di momen yang sama. Ia menjadi penanda sebuah masa. Ia menjadi karya sebuah generasi.

Berdasarkan kriteria Fishelov, syarat kelahiran sebuah genre dalam dunia sastra sudah terpenuhi. Memang, kelima ciri puisi di atas bukan sama sekali baru. Masing-masing ciri sudah pernah ada. Namun, kombinasi lima karya itu dalam satu kesatuan, itu yang membuatnya memberi corak baru. Lima ciri itu tak bisa dimasukkan lagi dalam kerangka genre sebelumnya, yang sudah pernah ada.

Jika Fishelov menyebut kelahiran sebuah genre baru ditandai oleh bentuk-bentuk sekunder produktivitas generik (terjemahan, adaptasi, parodi, dan sebagainya), kemunculan puisi esai juga melahirkan pro dan kontra. Kritikus, komentator, dan analis datang untuk memberikan ulasan, baik yang mendukung maupun menentang.

Penyair Sapardi Djoko Damono (2012) termasuk yang mendukung. Ia menulis, “Ini sejenis karangan yang belum pernah saya dapati dalam kesusastraan Indonesia sebelumnya.” Sedangkan Sutarji Calzoum Bachry menulis: “Bagi saya puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi bisa memberikan kepintaran bagi pembaca untuk memahami..."

Belasan pro dan kontra para pakar soal puisi esai sudah dibukukan dalam buku “Puisi Esai, Kemungkinan Baru Puisi Indonesia,” dengan editor Acep Zamzam Noor. Dalam buku ini terdapat tulisan Ignes Kleden, Leon Agusta, Maman S Mahayana, Jamal D Rahman, Agus Sarjono, dan sebagainya.

Puisi esai juga sudah menjadi topik seminar internasional di Sabah, Malaysia. Kritikus dan sastrawan Asia Tenggara secara khusus membahas 22 buku puisi esai Denny JA. Itupun sudah dibukukan dalam “Temu Sastrawan Asia Tenggara: Isu Sosial Dalam Puisi.” Inilah bentuk-bentuk sekunder produktivitas generik, yang disebutkan Fishelov.

Ada nilai tambah dari puisi esai. Puisi esai bukanlah eksklusif milik “penyair karir” atau “penyair profesional,” tetapi banyak orang dan anggota masyarakat bisa terlibat dan menulis puisi esai. Mereka termasuk akademisi/dosen, aktivis sosial, jurnalis, dan peneliti. Sosok-sosok ini adalah mereka yang biasa bergulat dengan data.

Jadi lahirnya angkatan baru dalam puisi ini telah mengembalikan puisi, untuk juga diapresiasi, dinikmati, ditafsirkan, dan ditulis oleh publik yang luas. Bukan hanya penyair karir. Maka, mereka yang merasa “bukan penyair karir” tidak perlu merasa kecil hati dalam terjun di dunia sastra, khususnya dengan menulis puisi esai! ***

Januari 2018

  • view 405