Apa Itu Sastra dan Bukan Sastra? (Perdebatan di FB Grup Apresiasi Sastra)

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 07 November 2017
Apa Itu Sastra dan Bukan Sastra? (Perdebatan di FB Grup Apresiasi Sastra)

Perdebatan tentang isu-isu sastra di kalangan para sastrawan dan penikmat karya-karya sastra adalah hal biasa, malah bisa berarti positif. Termasuk perdebatan tentang hal yang paling mendasar dalam sastra, yaitu merumuskan konsep apa itu “sastra” dan “bukan sastra.”

Beberapa waktu lalu, salah seorang seniman yang lebih dikenal sebagai penyanyi dan pembuat lagu, Bob Dylan, memenangkan penghargaan Nobel di bidang Sastra. Dylan memang punya karya berbentuk novel dan buku puisi, namun dia memenangkan penghargaan Nobel justru karena lirik-lirik lagunya itu. Artinya, lirik lagu Bob Dylan pun oleh panitia Nobel dianggap sebagai “sastra.”

Politisi terkemuka Inggris, Winston Churchill mendapatkan Nobel Sastra karena buku reportase perang dan pidatonya, yang dianggap bernilai sastra. Oleh karena itu, rumusan tentang apa itu “sastra” dan “bukan sastra” tampaknya terus berubah. Kita tidak perlu heran jika sekarang dan di masa mendatang akan muncul konsep-konsep baru tentang “sastra.”

Kali ini Denny JA, yang menggagas dan mempopulerkan genre puisi esai di Indonesia, memicu polemik baru tentang batasan apa itu “sastra” dan ”bukan sastra.”  Denny  melepaskan diri dari batasan-batasan konvensional dan mengatakan, mengulas film itu sama dengan mengulas karya sastra.

Sudah terbit buku soal Movie as Literature, yang mencoba mendefinisikan ulang sastra untuk juga masuk ke kategori visual art. Bahkan sudah ada kelasnya. “Orang boleh setuju atau tak setuju atas inovasi definisi itu, atau tak setuju dengan definisi yang mati. Tapi ruang publik tidak apa diisi oleh keberagaman pandangan,” tulis Denny.

Awal polemik ini adalah ketika Denny membuat review atas drama seri House of Cards, yang dibuat berdasarkan novel karya Michael Dobbs dengan judul yang sama. Denny mereview 5 seasons (yang masing-masing terdiri dari 13 episode) drama seri tersebut dalam enam buah artikel, yang kemudian disebar ke berbagai media sosial, termasuk ke FB grup Apresiasi Sastra.

Bagi Denny, membahas film itu adalah membahas novel yang divisualkan, juga membahas karya sastra. Denny merasa tidak ada yang salah, jika ia membahas novel yang divisualkan dan dishare di grup FB ini. Admin yang membolehkannya tetap konsisten dengan aturannya bahwa ini adalah grup untuk diskusi sastra, dan memberi ruang lebih luas soal definisi sastra. Tak salah jika admin bersetuju dengan jalan pandangan Denny yang merupakan jalan tengah: Bahwa film yang berbasiskan novel adalah novel yang divisualkan.

Ketika review drama itu masuk ke grup FB Apresiasi Sastra, muncullah polemik dan reaksi penolakan dari sejumlah sastrawan. Beberapa nama yang menolak konsep sastra yang ditawarkan Denny, di antaranya: Saut Situmorang, Malkan Junaidi, Ujianto Sadewa, dan lain-lain. Diskusi atau perdebatan itu cukup hangat dan menarik, bahkan terkadang tajam (diselingi beberapa serangan personal).

Karena cukup menarik, saya akan mencoba menguraikan pandangan Denny dan argumen penolakan dari sejumlah nama yang sudah saya sebut di atas. Saya mohon maaf bahwa argumen mereka yang saya angkat mungkin bukan merupakan bentuk pemikiran yang utuh, karena ini hanya dirangkum berdasarkan keping-keping ucapan, kritik, dan komentar yang disajikan dalam format chat di FB grup.

Tetapi saya tetap berharap bahwa meski dengan cara yang kurang sempurna ini, paling tidak para pembaca bisa memperoleh gambaran terhadap diskusi yang berkembang. Untuk lebih jernih menangkap isi pendapat atau argumen tersebut, hal-hal yang menyangkut pemberian julukan negatif atau label personal yang ditujukan kepada siapapun anggota FB grup ini tidak akan saya masukkan.

Di bawah ini sejumlah argumen atau pendapat yang muncul:

Saut Situmorang dalam perdebatan ini menolak mentah-mentah pendapat Denny, tapi sayangnya Saut sendiri juga tidak mengajukan pandangan baru. Bagi Saut, film adalah film, dan sastra adalah sastra. Walaupun sesudah film dibuat berdasarkan karya sastra (baik novel, cerpen, ataupun drama), tapi bentuk adaptasi itu namanya film, bukan sastra.

Film adalah sebuah genre tersendiri, otonom, dengan hukum-hukum, kaidah-kaidahnya sendiri. Begitu juga dengan sastra. “Mengatakan bahwa film adalah juga sastra karena berdasarkan adaptasi karya sastra akan membuat semua orang film marah,” tulis Saut.

Menanggapi Denny, Saut menegaskan, cuma ada tiga genre dalam sastra, yatu puisi, prosa, dan drama. Jadi semua teks yang berbentuk tertulis. Tidak ada disebut “film” sebagai bagian dari sastra, sebagai genre sastra. Untuk mendukung pendapatnya, Saut menyertakan link definisi tentang sastra dari Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/Literature), kamus Oxford (https://en.oxforddictionaries.com/definition/literature), ensiklopedi Britannica (https://www.britannica.com/art/literature), dan kamus Merriam-Webster (https://www.merriam-webster.com/dictionary/literature).

Saut lalu keluar dari grup FB itu, dengan alasan Denny sudah melanggar aturan grup. Yaitu, posting Denny dianggap Saut tidak ada hubungannya dengan sastra. Sedangkan admin grup dianggap Saut membiarkan saja dan tidak menegakkan aturan grup.

Denny sendiri memandang, definisi atau konsep tentang sastra itu seharusnya tak perlu diperlakukan seperti tulisan di atas batu, yang tak berubah sepanjang masa. Studi menunjukkan, definisi atas Tuhan sepanjang sejarah peradaban juga terus berevolusi. Juga definisi atas sastra atau apapun konsep besar dalam hidup manusia.

Menurut Denny, Saut masih berpegang pada definisi yang menyatakan semua sastra adalah yang tertulis. Saut tidak melihat bahwa asal usul definisi yang ia kutip itu datang dari satu masa, ketika film belum ditemukan. Tentu saja seni dalam bentuk visual yang bisa direkam tak pernah terbayangkan oleh pencipta awal definisi sastra.

Sementara itu, Malkan Junaidi berpendapat, film adalah film, baik skenarionya berasal dari novel atau bukan. Buat Malkan, ini jelas sekali. Sedangkan tentang review drama seri House of Cards yang ditulis Denny JA itu, Malkan menilai, itu hanya sekelas sinopsis film dan bukan esai sastra.

“Sastra berarti tulisan. Adaptasi tulisan (sastra) ke dalam bentuk seni selain tulis (misalnya, lukis, teater, sinetron) akan mengubah definisinya. Puisi yang diinterpretasikan ke dalam bentuk lukis namanya lukisan, bukan puisi,” tulis Malkan.

Dalam hal lirik lagu karya Bob Dylan, menurut Malkan, memang sebagian lirik lagu memiliki kualitas sastrawi. Tetapi dengan itu tak serta merta ia menjadi karya sastra. Lirik lagu bisa jadi puitis, namun secara umum tak disebut puisi. Lirik lagu ya lirik lagu. Seorang penyanyi akan bilang "maaf, saya lupa liriknya." Bukan "maaf, saya lupa puisinya."

Sedangkan Ujianto Sadewa punya pandangan lain. Film yang diangkat dari novel istilahnya ekranisasi. Namun tidak serta merta dan secara otomatis lalu diklaim begitu saja sebagai karya sastra. “Sejak dulu novel War and Peace dibuat filmnya. Tetap saja yang dianggap sastra ya novelnya. Filmnya hanya sebagai satu tafsiran sutradara saja. Yang karya sastra ya novel aslinya,” tulis Ujianto.

Ujianto berpendapat, memang ada batasan karya sastra itu sendiri mengacu kepada teks/tulisan. Maka genre umum yang kita kenal adalah puisi, prosa (cerpen/novel), dan naskah drama (catat: naskahnya). Ketika bicara film, naskah bukan satu-satunya, tetapi ada artistik, keaktoran, sutradara, dan lain-lain, sehingga tidak bisalah itu dibilang (hanya) sastra. Film Rambo "First Blood" juga diangkat dari naskah novel, tapi tidak serta merta disebut karya sastra, tetapi film eksyen.

Iwan Partiwa lain lagi. Ia mempertanyakan, siapa yang mempunyai otoritas untuk membuat definisi sastra atau menentukan ini karya sastra atau bukan? Bagi Iwan, selama tulisan siapapun dan si pembaca mendapat pengetahuan dan batinnya mendapat pencerahan/menikmati tulisan tersebut, berarti itu karya sastra kata si pembaca. Jadi, semua relatif. Lebih bagus tidak usah meributkan karya orang kalau niatnya hanya untuk menjatuhkan. Lebih bagus semua individu dan semua kelompok berkarya saja. Tinggal pembaca/masyarakat yang menikmati dan menilai, kata Iwan.

Ada beberapa komentator atau sastrawan lain yang menanggapi Denny. Namun, karena tanggapannya tidak fokus membahas topik “film sebagai sastra” yang diperdebatkan, maka tidak saya masukkan di pembahasan ini. Mereka lebih banyak mengeritik Denny secara personal. Ada juga yang cuma membahas selintas, satu dua kalimat, yang terlalu sumir dan terbatas untuk diuraikan di sini.  ***

Notes: Isi lengkap perdebatan/perbincangan di FB grup Apresiasi Sastra diunggah di postingan terpisah karena terlalu panjang.

  • view 321