Arvan Pradiansyah: Penderitaan Tidak Membuat Orang Bunuh Diri

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 Oktober 2017
Arvan Pradiansyah: Penderitaan Tidak Membuat Orang Bunuh Diri

 

Ada pandangan keliru di masyarakat bahwa penderitaan –sebut saja, karena frustrasi masalah ekonomi, putus cinta, atau keluarga tidak harmonis—menyebabkan orang bunuh diri. Padahal semua itu bukan penyebab, tetapi hanyalah pemicu bunuh diri.

Hal itu diungkapkan Motivator Nasional di bidang Leadership dan Happiness, Arvan Pradiansyah, kepada wartawan kabinetnews.com di Jakarta, Rabu (27/9). Arvan dimintai komentar sekitar banyaknya kasus bunuh diri di Indonesia dan di dunia belakangan ini.

Yang cukup menggegerkan adalah bunuh dirinya vokalis grup musik Linkin Park, Chester Benington. Orang bingung mengapa dia bunuh diri, padahal dia sudah memiliki segalanya. Punya kekayaan, keterkenalan, dan fans yang selalu mengelu-elukan dirinya.

Menurut Arvan, yang juga sebagai CEO di Arvan Pradiansyah Institute ini, bunuh diri memang  masalah serius. Setiap tahun di dunia ada 800.000 kasus bunuh diri. Berarti setiap jam ada 91 orang bunuh diri, dan setiap 40 detik ada satu orang bunuh diri.

Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Arvan menjelaskan, di Indonesia tiap tahun ada 10.000 orang bunuh diri. Berarti tiap 52 menit ada satu yang bunuh diri. Ini belum menghitung percobaan bunuh diri yang gagal. Untuk setiap satu bunuh diri, ada 20 usaha bunuh diri yang gagal.

Kembali ke soal penyebab, jadi sebenarnya ada empat  faktor yang menyebabkan seseorang bunuh diri. Keempat faktor ini saling berkaitan dan keempatnya harus ada, untuk seorang bisa nekat memilih bunuh diri.

Faktor pertama adalah feeling hopeless, atau merasa tak ada harapan sama sekali. “Orang itu melihat semua pintu sudah tertutup dan tidak ada jalan keluar. Seperti orang yang menunggu sesuatu, yang tak akan pernah terjadi,” tutur Arvan, motivator nasional ini.

Orang itu merasa terbatas dan tidak punya apa-apa. Padahal sebenarnya manusia itu memiliki Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak terbatas. “Jadi ketiadaan harapan itu sebenarnya cuma cara pikir, atau opini, bukan kenyataan yang sebenarnya,” jelas Arvan, yang jasanya saat ini telah dimanfaatkan oleh tak kurang dari 300 perusahaan ternama di Indonesia.

Faktor kedua adalah feeling meaningless, atau merasa tak berarti, tak bermakna, dan tak berguna. Hidup rasanya seperti sia-sia. Perasaan itulah yang mendorong orang untuk  bunuh diri, karena tak tahu hidup buat apa lagi. Padahal sebenarnya ada tujuan mengapa Tuhan mengirim kita ke dunia.

“Kita semua ini adalah utusan Tuhan. Bukan cuma nabi dan rasul, tetapi semua manusia adalah utusan Tuhan, yang hadir di dunia untuk menyelesaikan  suatu misi di bumi. Jika kita masih hidup, berarti misi itu belum selesai,” ucap Arvan, yang selama 13 tahun pernah menjadi dosen di FISIP Universitas Indonesia ini.

Faktor ketiga, feeling lonely, selalu merasa kesepian. Jangan keliru, sendiri (alone) tidak sama atau identik dengan kesepian. Kita bisa sendirian tanpa merasa kesepian. Sebaliknya, kita juga bisa merasa kesepian, sekalipun di sekeliling kita ada banyak orang.

Faktor terakhir adalah fearless, atau tak kenal takut. Ini adalah suatu kemampuan untuk membunuh diri sendiri. Karena membunuh diri sendiri itu memang memerlukan kemampuan tertentu. Menggantung diri atau menenggak racun itu kan rasanya sakit.

Arvan mengingatkan, orang yang mau bunuh diri selalu menunjukkan tanda-tanda, misalnya lewat pesan atau status di media sosial, dan sebagainya. Sebetulnya si calon pelaku bunuh diri ini ingin agar orang tahu. Kitalah yang harus peka terhadap tanda-tanda itu. Jangan menganggap remeh.

Pada akhirnya, untuk mencegah bunuh diri, orang harus sadar bahwa yang membuat penderitaan dan seolah-olah tak ada harapan itu adalah pikiran. “Harapan selalu ada. Jika seolah-olah tak ada harapan, itu artinya justru kita yang menutup diri terhadap rahmat Tuhan,” jelas Arvan.

Arvan saat ini juga menyebarkan inspirasi dan motivasi melalui radio. Arvan, menjadi narasumber tetap untuk talk show Smart Happiness, yang disiarkan di SmartFM Network setiap Jumat pagi pukul 7.00-8.00 WIB. Siaran itu disambungsiarkan ke lebih dari 30 kota di Indonesia. ***

 

 

  • view 29