Wajah Islam Denny JA dalam Film “Mencari Hilal”

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Budaya
dipublikasikan 12 September 2017
Wajah Islam Denny JA dalam Film “Mencari Hilal”

 

Meski lebih dikenal publik sebagai konsultan politik dan perintis bisnis survei politik untuk pemilu, pilkada, dan pilpres di Indonesia, Denny JA ternyata juga punya kiprah di dunia yang tak terduga: film. Ia tidak berkiprah menjadi aktor, sutradara, atau penulis skenario, tetapi lebih sebagai film maker, atau lebih spesifik sebagai Produser Eksekutif.

Meski demikian, Denny bukannya tidak punya kontribusi dalam hal-hal yang menyangkut pilihan tema, skenario (jalan cerita), dan pesan-pesan yang mau disampaikan film itu ke khalayak. Juga, tentu saja aspek-aspek estetika dari film tersebut sebagai sebuah karya seni.

Meski tidak berurusan langsung dengan teknis pembuatan film, campur tangan atau pengaruh Denny dalam hal-hal itu sebagai film maker cukup besar, untuk tidak mengatakan sebagai penentu.

Ada sejumlah kiprah Denny yang tercatat di dunia film. Yaitu, pembuatan lima film pendek, masing-masing berdurasi 40 menit, bersama sutradara Hanung Bramantyo, pada 2014. Hanung adalah sineas yang terpilih sebagai Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Brownies dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005. Pada FFI 2007, ia kembali terpilih sebagai Sutradara Terbaik melalui film Get Married.

 Selain itu, ada dua film layar lebar untuk bioskop di mana Denny JA berkiprah, yakni film Mencari Hilal dan Ayat-ayat Adinda. Tulisan ini mencoba menyimak wajah Islam Denny JA dalam film Mencari Hilal. Film ini dipilih karena banyak mendapat nominasi dalam FFI.

Mencari Hilal sebenarnya bukan film agama atau film dakwah dalam arti konvensional. Namun, karena aspek agama (Islam) dalam film itu menonjol dan mewarnai cerita, maka saya tertarik untuk membahasnya. Mencari Hilal adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 2015.

Film di mana Denny JA bertindak sebagaI Produser Eksekutifnya ini dibintangi oleh Deddy Sutomo, Oka Antara, dan Torro Margens, dan sempat mendapat tujuh nominasi dalam FFI 2015. Yaitu, untuk kategori penata musik terbaik, pengarah artistik terbaik, penyunting gambar terbaik, aktor utama terbaik, sutradara terbaik, penulis skenario terbaik dan film terbaik.

Film arahan sutradara Ismail Basbeth ini dibuat dalam rangka pencerahan pentingnya “Islam Cinta” dan “Indonesia Tanpa Diskriminasi,” dua tema pokok yang diusung Denny. Menurut Denny, Indonesia (saat film itu dirilis) dinilai oleh lembaga internasional semakin buruk dari sisi toleransi agama. Maka gagasan itulah yang diangkat.

Film ini mengisahkan hubungan antara Mahmud (60), yang dimainkan secara apik dan pas oleh Deddy Sutomo, dan putra bungsunya Heli (28), yang dimainkan oleh Oka Antara. Mahmud adalah pedagang tua dan sosok Muslim religius, yang ingin menerapkan ajaran Islam secara kaffah (utuh menyeluruh) dalam semua aspek kehidupan.

Mahmud selalu mendakwahkan pada setiap orang bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk semua persoalan hidup. Namun, sidang Isbat Kementerian Agama, yang menelan dana Rp 9 miliar untuk menentukan hilal awal masuknya bulan Ramadhan, membuat Mahmud terpukul.

Soal sidang isbat ini memang ada basisnya dari kejadian nyata, yang dimuat di media massa. Waktu itu sempat muncul polemik di media, mengapa hanya untuk merapatkan kesepakatan awal mulainya  bulan Ramadhan harus menghabiskan biaya begitu besar dan boros. Ini bertentangan dengan semangat Islam sebagai solusi yang diyakini Mahmud.

Sidang isbat itu mengingatkan Mahmud pada tradisi mencari hilal yang dilakukan pesantrennya dulu. Tradisi itu sudah tidak berjalan lagi, sejak pesantrennya bubar puluhan tahun lalu. Mahmud ingin mengulang tradisi itu untuk membuktikan bahwa ibadah tidak dibuat untuk memperkaya diri. Hilal bisa ditemukan tanpa biaya mahal.

Mahmud pun pergi mencari hilal hanya ditemani Heli, yang sudah lama pergi dari rumah karena selalu bertentangan dengannya. Heli adalah aktivis lingkungan hidup yang kritis dan berorientasi “sekuler liberal,” sehingga hubungannya tidak serasi dengan sang ayah. Cara penyikapan bebas a’la Heli itu membikin jengkel dan dituding “sesat” oleh ayahnya.

Konflik, gesekan, dan dinamika hubungan ayah-anak, menjadi benang merah utama cerita film ini. Keduanya mewakili dua generasi yang berbeda, dan mewakili dua perspektif yang berbeda pula dalam memahami dan menerapkan ajaran agama.

Ini adalah isu tentang perbedaan dan bagaimana menangani perbedaan, khususnya yang terkait dengan agama. Isu ini memang relevan dengan berbagai kejadian sosial yang ada di masyarakat Indonesia yang beragam. Nyatanya, sebagian masyarakat kita sulit menerima keberagaman, atau mereka justru cenderung membesar-besarkan perbedaan.

Namun, sebesar-besarnya perbedaan itu toh tetap dalam satu “keluarga,” yang seharusnya bisa belajar mencari titik temu. Jadi, bukan malah makin memperluas perbedaan. Ini disimbolkan dalam hubungan keluarga antara Mahmud dan Heli, yang mengalami masa konflik dan friksi, namun juga bisa mengalami masa saling pemahaman. Mereka melakukan perjalanan fisik bersama, yang sebetulnya juga menyimbolkan proses perjalanan batin  bersama.

Meskipun cukup berhasil secara estetis, sayangnya Mencari Hilal tidak sukses secara komersial. Nilai plusnya, Mencari Hilal terbukti dapat diputar di berbagai festival film internasional, termasuk di Tokyo International Film Festival. Artinya, film ini tidak mengecewakan secara kualitas. Pesan-pesan yang mau disampaikan tampaknya juga sampai ke publik dan kalangan perfilman mancanegara yang mengapresiasinya.

Paling tidak, Denny sudah membuktikan untuk dirinya sendiri dan orang lain bahwa ia juga punya talenta dan passion di bidang film, sesudah sukses di bidang-bidang lain. Lalu, mengapa Denny memilih medium film untuk menyampaikan pesan dan gagasan-gagasannya?

Hal ini karena, menurut Denny seperti disampaikannya kepada para wartawan, medium film lebih dimungkinkan untuk meraih lebih banyak publik guna diajak merenung, dibandingkan berbagai medium lain. Denny mengharapkan, film ini bisa ikut menggairahkan jenis yang disebutnya “film pencerahan.” Yaitu film yang mengangkat isu sosial penting sebuah bangsa melalui kisah drama yang menyentuh.

Sudah 35 tahun lebih Denny JA berkarya, sebagai peneliti, kolomnis, konsultan politik, penyair, film maker, dan intelektual (1982-2017). Banyaknya profesi itu menunjukkan, Denny memang punya banyak bakat. Dan, yang juga penting, ia punya kesempatan dan sumber daya yang memadai untuk mengembangkan bakat-bakat itu.

Berkat teknologi informasi, publik sangat dipermudah jika mau membaca, mendengar, melihat karya-karya Denny JA. Cukup dengan satu klik di link online, publik bisa mengakses 51 buah buku yang pernah ditulisnya (fiksi maupun non fiksi), 50 video pidato dan pembahasan diskusi, dan tujuh film termasuk dua film layar lebar. Ditambah lagi, 26 buku yang ditulis orang lain tentang Denny JA, puisi esai; juga akses pada teater, lukisan dan lagu yang pernah ia ciptakan.

Denny termasuk pelopor dalam penggunaan teknologi informasi ini, untuk akses simpel terhadap khasanah karya-karya yang bersangkutan. Khususnya, akses terhadap film Mencari Hilal yang kita ulas saat ini. Mungkin teknologi ini bagus juga jika diterapkan untuk para sineas dan seniman lain. ***

 

 

 

  • view 39