Menilai Kesastrawanan Denny Lewat Puisi Esainya

Satrio Arismunandar
Karya Satrio Arismunandar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Menilai Kesastrawanan Denny Lewat Puisi Esainya

Resensi Buku:

Menilai Kesastrawanan Denny Lewat Puisi Esainya

Narudin Pituin, Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang: Jejak dan Karya Denny JA (Penerbit: Inspirasi.co Book Project, Jakarta, 2017)

Sudah lama kita tidak menikmati sebuah buku, yang memotret jejak langkah seorang sastrawan Indonesia secara utuh lewat karya-karyanya. Buku karya Narudin Pituin, seorang penulis puisi dan kritikus sastra, telah mengisi kekosongan ini. Namun, buku ini sendiri mungkin akan memancing reaksi, karena sosok sastrawan yang dipotret, dianalisis, dan dinilai jejak langkahnya oleh sebagian komunitas sastra dianggap “kontroversial.”

Buku Narudin ini memotret jejak Denny Januar Ali atau Denny JA dalam perjalanan sastra Indonesia. Dilahirkan di Palembang pada 4 Januari 1963, Denny adalah sosok yang multi-talenta. Publik Indonesia lebih mengenal sosok Denny sebagai perintis jasa dan bisnis survei politik, sekaligus konsultan politik, yang telah sukses memenangkan begitu banyak kandidat di Pilkada dan Pilpres. Ia adalah intelektual yang pengusaha, atau pengusaha yang intelektual.

Oleh karena itulah, ketika Denny kemudian juga terjun di bidang sastra, dengan menulis banyak karya, oleh sebagian sastrawan, ia dipandang sebelah mata dan diremehkan. Denny dipandang hanya sebagai seorang “pengusaha kapitalis yang bermodal kuat” tetapi “tidak cukup serius” untuk dinilai sebagai sastrawan, atau dengan kata lain: “bukan sastrawan profesional.” Jadi sejak awal memang Denny sudah di-underestimate sebagai “pemodal yang ingin dianggap sebagai sastrawan.”

Denny memang bukan tipikal sastrawan, seperti yang biasa kita bayangkan dalam konteks kehidupan sastrawan di Indonesia. Kalau bayangan “romantis” kita tentang sastrawan adalah orang yang hidup pas-pasan, karena semata-mata mengandalkan hidup dari karya sastranya, Denny jauh dari gambaran itu. Karena Denny juga bisa dibilang sebagai pengusaha sukses, yang tidak mengandalkan nafkah dari aktivitas bersastra.

Kalau sastrawan Indonesia dibayangkan sebagai orang yang punya karya, tetapi sulit mencari penerbit yang mau menerbitkan karya-karyanya, Denny juga tidak masuk di kategori itu. Dengan mudah, Denny bisa menerbitkan sendiri karya-karyanya. Bukan hanya dalam bentuk buku, tetapi juga e-book, grafis, video, dan bentuk-bentuk lain, memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Denny sangat paham tentang dampak kemajuan teknologi digital dan Internet. Ia sangat mengapresiasi ilmu pengetahuan. Maka dengan segenap gairah, ia memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk menyebarkan karya-karyanya, bukan cuma di level nasional tetapi jauh melampaui batas-batas negara.

Berkat pemanfaatan teknologi itulah, pada 2015, Denny JA dinobatkan TIME Magazine sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di internet. Ia bersanding bersama Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, Perdana Menteri India, Narendra Modi, dan sekian selebriti dunia seperti Shakira, Justin Bieber, serta Kim Kardashian. Karya-karya puisinya pun tersebar luas di media sosial dan media online.

Buku Narudin ini ingin menilai Denny sebagai sastrawan secara lebih fair. Artinya, Narudin tidak ingin penilaiannya dipengaruhi oleh hal-hal lain di luar sastra, walau hal-hal lain itu bukan lantas dinafikan begitu saja. Tetapi, cara penilaian paling pas tentang aktivitas kesastraan seseorang adalah dengan menilai karya-karyanya. Dan itulah yang dilakukan Narudin, lulusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung (2006) ini, terhadap Denny.

Narudin membaca jejak kesastraan Denny dari 27 buku puisi yang ditulis Denny dan puluhan buku puisi esai yang ditulis orang lain, yang terdorong atau termotivasi oleh upaya Denny mensosialisasikan genre puisi esai. Juga, aneka karya film, teater, dan lukisan yang terinspirasi atau merupakan wujud pengembangan dari karya-karya puisi esai Denny.

Tak lupa, Narudin juga mengulas heboh besar dalam dunia sastra yang melibatkan Denny. Hal ini terkait dengan terpilihnya Denny JA sebagai satu dari 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia, bersanding dengan Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, Sutan Takdir Alisjahbana, dan W.S. Rendra.

Pemilihan yang dilakukan Tim 8 itu dituliskan dalam buku terbitan Gramedia setebal 777 halaman untuk PDS H.B. Jassin. Terbitnya buku ini telah memicu polemik yang panjang, bahkan aksi protes sejumlah komunitas sastra. Narudin mencatat berbagai aksi protes itu dalam bukunya. Yang disayangkan, para pemrotes ini tidak mau repot-repot menilai karya-karya Denny.

Pada bukunya yang terbagi dalam empat bab ini, Narudin membahas: Kehadiran Denny JA dalam puisi Indonesia; evolusi puisi Denny JA; pemikiran Denny JA dalam puisinya; dan kontribusi Denny JA dalam puisi Indonesia. Di sini Narudin secara rinci menggambarkan ikhtiar dan inovasi Denny membawa puisi menjadi karya yang semakin bersuara.

Narudin menilai, Denny sungguh-sungguh berhasrat mengembalikan puisi ke tengah gelanggang budaya. Latar belakangnya, sejumlah kritikus puisi di level dunia banyak yang mengeritik puisi yang sudah berhenti sebagai agen penting perubahan budaya. Puisi makin tersingkir, menjadi karya yang beredar hanya di kalangan penyairnya serta komunitas peminat yang semakin tipis.

Maka, semangat Denny menghadirkan genre puisi esai sepatutnya mendapat apresiasi. Genre yang diklaim mengandung unsur kebaruan ini juga sempat jadi bahan polemik dan serangan terhadap Denny. Namun, ada beberapa sosok sastra yang mengapresiasi genre yang diangkat Denny ini. Sebut saja Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden, di antaranya.

Menurut Sapardi, buku puisi esai karya Denny penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita. Denny sudah menawarkan suatu cara penulisan baru. Sedangkan menurut Sutardji, puisi esai ialah “puisi pintar,” yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi, dapat memberikan kepintaran kepada pembacanya. Terakhir, Ignas Kleden, menyatakan, puisi Denny JA memperlihatkan wataknya yang menyimpang dari kebiasaan, dan percobaan yang dilakukan Denny itu layak mendapat apresiasi.

Jelas, dari ketiga tokoh sastra senior itu, yakni dua penyair dan satu kritikus menegaskan satu kata secara serempak sebagai komentar ringkas terhadap buku puisi esai karya Denny. Yaitu, “mengapresiasi,” dengan frasa-frasa: “cara penulisan baru” (Sapardi), “puisi pintar” (Sutardji), dan “percobaan yang layak” (Ignas).

Kalau kita cermati, sebetulnya makna dan arti penting puisi esai karya Denny melampaui sekadar estetika sastra. Seperti Rendra yang melakukan kritik sosial lewat puisinya, Denny juga melakukan hal yang sama lewat puisi esai. Ditinjau dari segi ilmu sosial, Denny telah menyuguhkan sekian isu sosial yang kontroversial bagi publik Indonesia lewat puisi-puisi esai itu.

Diharapkan, lewat puisi esai itu pembaca menjadi sadar realitas sosial, sehingga lebih menghayati problem-problem sosial yang faktual, sebagai bagian dari kehidupan manusia seluruhnya. Denny secara tak langsung juga memberikan ruang-ruang percik permenungan kepada pembaca, agar turut memecahkan masalah sosial yang disajikannya dalam serangkai puisi-puisi esainya.

Mungkin di sinilah letak sumbangan Denny bagi sastra dan kebudayaan, serta bagi upaya kita mengatasi tantangan zaman. Puisi esai Denny hanyalah salah satu genre. Ia tidak lebih superior, dan juga tidak lebih inferior dari genre yang lain. Namun, dengan isu sosial yang harus disuntikkan ke dalam puisi esai, ini merupakan tanda bahwa puisi esai ialah karya sastra berisi. Yakni, karya sastra yang diharapkan dapat mengungkapkan realitas zamannya. ***

  • view 70