Menghayati Kembali Peranan Ulama

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Agama
dipublikasikan 07 Desember 2016
Menghayati Kembali Peranan Ulama

Di masyarakat indonesia kedudukan ulama sangatlah tinggi. Mereka bahkan memiliki partai politik tersendiri yang memiliki suara yang tidak kecil. Beberapa fenomena yang dijumpai seperti artis yang sedang stress atau sedang dirundung masalah pasti akan mencari ulama untuk dijadikan rujukan pemecahan masalah. Istilah yang populer saat ini adalah guru spiritual. Beberapa ulama bahkan sering tampil di televisi dan memiliki bayaran yang tinggi. Tidak jarang mereka bahkan memamerkan kekayaannya. Jika merujuk pada pertanyaan di atas, terdapat asumsi bahwa ulama-ulama itu bisa menjadi setenar, sepopuler dan sepenting sekarang karena peran mereka dianggap besar yakni sebagai juru kunci untuk menafsirkan ayat Al-Quran.

Seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat dengan sangat mudah mengakses berbagai ilmu yang mereka butuhkan. Termasuk juga dalam hal ilmu agama. Pada jaman dahulu, seseorang jika ingin belajar agama harus mendatangi pesantren atau guru agama. Biasa disebut sebagai ulama atau kyai. Namun saat ini untuk memahami agama bahkan tidak perlu menjadi ulama, bahkan bisa belajar Islam kepada orang non Islam. Dan mereka yang memberikan wawasan ilmu agama ini berani untuk mempertanggung jawabkan pemikirannya. Bentuknya bisa berupa seminar-seminar atau menerbitkan buku.

Dengan perkembangan semacam ini maka peranan ulama menjadi semakin sempit. Ulama hanya menguasai panggung mimbar dan pesantren mereka saja. Di luar itu, masyarakat sudah semakin cerdas dan tidak mudah terbawa pemikiran ulama. Bahkan sering dijumpai sesama ulama berbeda pendapat dan saling menyerang pemikiran masing-masing. Misalnya pada fenomena Aksi Super Damai 212 lalu. Terdapat perbedaan yang cukup tajam di kalangan ulama. Ada yang mendukung, dan ada pula yang menolak. Namun benarkah peranan ulama semakin sempit bahkan menuju nihil.

Pertama kita harus memahami terlebih dahulu makna ulama. Ulama yang dimaksud dalam Al-Quran berasal dari kata alama yang berwazan dengan ilmu. Ulama adalah merujuk pada subyek yang memiliki ilmu. Hal ini dapat kita lihat dari pemaknaan surat Fathir ayat 28. Tidak mungkin ulama yang dimaksud disana adalah orang yang hanya memahami ilmu agama semata. Tetapi ilmu tentang binatang melata dan binatang ternak seperti ilmu biologi. Inilah yang menjadi makna ulama sesungguhnya.

Entah sejak kapan dan darimana asalnya, makna ulama yang berarti luas yakni orang yang berilmu, menjadi sangat sempit yakni orang yang mendalami ilmu agama. Penulis tidak akan membahas itu. Tetapi yang perlu diperhatikan disini adalah dampak yang dihasilkan dari pengertian tersebut. Satu-satunya yang memiliki hak untuk menafsirkan ayat Allah adalah ulama. Hal itu berasal dari pemahaman bahwa yang memiliki ilmu tentang agama adalah ulama semata. Dan mereka telah teruji selama bertahun-tahun dengan berbagai sistem pendidikan yang telah mereka jalani di Indonesia maupun di timur tengah (dianggap sebagai pusat kajian tentang agama islam karena islam lahir disini). Sehingga setiap orang yang hendak menafsirkan Al-Quran dengan ilmunya sendiri akan dianggap bersalah dan tidak memiliki kapasitas dibandingkan dengan ulama yang didefinisikan seperti ini. Dari sinilah ketundukan terhadap ulama terbentuk.

Jika definisi ulama dikembalikan seperti semula yakni orang yang berilmu, maka peranan mereka akan sangat vital bagi kehidupan masyarakat ini. Ayat-ayat dalam Al-Quran akan didekati dengan ilmu terkait sesuai dengan keahlian di bidang mereka masing-masing. Bukan hanya ayat-ayat yang tertulis melainkan juga ayat Qauniyah (ayat yang tidak tertulis seperti hukum alam, dsb) juga akan dipelajari seluas-luasnya. Dan islam akan bisa menjadi rahmat bagi alam semesta. Karena dengan demikian, setiap umat islam akan berlomba untuk mendalami setiap cabang ilmu pengetahuan. Dan berlomba dengan kapasitas keilmuan yang dia miliki untuk mendalami ayat-ayat Al-Quran. Dampaknya islam akan kembali berjaya.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa peran ulama masih sangat dibutuhkan dalam masyarakat. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah makna ulama itu sendiri. Ketika pemaknaan terhadap ulama itu salah maka islam akan menjadi kerdil dan dihegemoni oleh sekelompok manusia yang mengatasnamakan agama mengurung dan membatasi manusia yang lain. Bukan hanya itu saja, bahkan ulama pun saat ini sudah banyak dimanfaatkan sebagai alat politik untuk memenangkan pertarungan politik yang ada. Padahal dulu ulama pernah menjadi ujung tombak yang menggerakkan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu penulis berharap pemaknaan terhadap ulama sebaiknya diluruskan kembali. Dan memberikan jalan bagi setiap orang untuk menjadi ulama yakni orang yang berilmu pengetahuan dan pakar di bidangnya masing-masing.

Ranu Brianaga

Mahasiswa STAI Muhammadiyah Bandung

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 163