Media Dakwah Kekinian

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Agama
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Media Dakwah Kekinian

Seiring perkembangan jaman, media dakwah mulai beragam. Berbeda pada jaman Rasul dulu, media dakwah sangat terbatas. Biasanya media yang digunakan hanya lisan atau tulisan. Itupun jumlahnya sedikit. Media dakwah lain yang efektif pada jaman itu adalah perilaku atau contoh/uswah. Seperti tata cara sholat, dan berbagai ritual islam lainnya.

Saat ini umat islam bisa leluasa memilih media dakwah yang sesuai dengan minat atau kemudahan. Bahkan terkesan tidak perlu pergi ke surau untuk mengikuti kajian, cukup melalui usapan jari, informasi yang diinginkan mengenai islam bisa diperoleh. Tidak hanya itu, seringkali yang mengakses informasi melalui media online mendapatkan informasi lebih lengkap dan akurat dibandingkan yang mengikuti kajian.

Bisa jadi hal inilah yang mengakibatkan minat mengikuti kajian islam menjadi menurun. Jika dihubungkan dengan sebuah hadits yang memberikan ganjaran pahala bagi siapa saja yang hendak ke masjid atau hadits yang mengatakan barangsiapa keluar rumah untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah, mungkin hanya hadits semacam ini yang menjadi motivasi seseorang tetap mengikuti kajian islam di luar. Sekiranya tidak ada perubahan dalam sistem dakwah baik isi maupun penyampaian, niscaya kajian dakwah tidak akan mampu bersaing dengan media dakwah non langsung. Lantas apa yang menjadi keunggulan dari kajian dakwah? Apakah yang dilakukan para penggiat dakwah untuk menghidupkan kajiannya ketika dihadapkan persaingan dengan media dakwah non langsung seperti media online.

Menurut pengamatan saya, salah satu kelemahan media dakwah langsung adalah pada aspek konten. Kebanyakan media dakwah hanya memfokuskan pada pembiasaan tradisi materi dan kegiatan yang sudah pakem/lazim seperti kajian mingguan, mengaji, hafalan, qiroati, sholawatan dan nasyid. Tema yang dibahas pun juga cenderung monoton seperti momentual PHBI atau penanaman nilai2 yang sudah mentradisi seperti wasilah, bid’ah, dll. Dampaknya problem solving atau penyikapan terhadap masalah umat yang update sangatlah sedikit. Andaipun ada biasanya tetap menggunakan pendekatan yang sama dan kembali ke dogma atau doktriner. Faktor inilah yang membuat kajian dakwah langsung makin ditinggalkan.

Beberapa keunggulan yang hanya dimiliki kajian dakwah adalah aktifitas yang menghidupkan dakwah. Dalam kajian dakwah, kita tidak hanya menjadi konsumen tetapi kita dituntut untuk menjadi produsen dan distributor. Umat islam yang mengikuti kajian dakwah senantiasa diajak untuk aktif menghidupkan kajian dakwahnya, selain itu didorong untuk mengajak lingkungannya untuk mengikuti kajian dakwahnya, setidaknya ikut mendakwahi/menyeru kepada yang ma’ruf. Selain itu pola dakwah 2 arah atau timbal balik jadi andalan juga. Sehingga dari kajian dakwah mampu melakukan koreksi atau evaluasi terhadap pemikiran obyek dakwahnya. Berbeda dengan media dakwah online yang berisi informasi 1 arah dan memiliki banyak kendala untuk membntuk komunikasi 2 arah. Namun keunggulan itu hanya akan efektif apabila ada perbaikan konten di kajian dakwah. Konten yang segar dengan pendekatan dan tema yang senantiasa update dibutuhkan untuk menyaingi konten media dakwah. Namun tetap memberikan penguatan nilai ideologi agar tidak semata menarik tetapi tidak ada spirit menggerakkan masyarakat.

Bagi remaja yang memiliki energi besar dan waktu luang, kajian dakwah ini sangat cocok. Karena mampu memberikan kegiatan untuk mengarahkan energi dan waktu mereka ke jalan yang baik. Sehingga mampu memproteksi dari ideologi di luar islam yang berbahaya.

Ranu Brianaga - STAIM Bandung

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 950