Pernikahan Dini Dalam Perspektif Islam

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Agama
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Pernikahan Dini Dalam Perspektif Islam

Sebanyak 4,8% wanita usia di bawah 14 tahun tercatat pernah menikah. Artinya dari 1000 wanita, 48 diantaranya telah menikah. Dan provinsi dgn peringkat kedua pernikahan dini terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat yakni sebanyak 50,2% penduduknya yang sudah menikah, melakukan pernikahan dini.

Seorang teman pernah bercerita tentang tema ini. Dia menceritakan seorang wanita, teman sekampung dia yang baru saja meninggal beberapa hari pasca melahirkan. Sebabnya karena usia dia saat itu masih sangat muda, 15 tahun. Katanya dia dinikahkan oleh ortunya karena MBA (Maried By Accident - suatu kondisi dimana pasangan wanita hamil duluan sebelum menikah dan terpaksa dinikahkan oleh pihak keluarga biasanya karena malu). Suaminya tak lain adalah teman sekolahnya yang masih berumur 17 tahun. Yang menjadi perhatian saya orang tua si wanita ini adalah Kepala Desa yang menyandang gelar HAJI. Bahkan kata teman tadi, kejadian itu bukan yang pertama di kampungnya. Sudah lama tak pulang kampung, dia menjumpai perubahan yang dahsyat di kampungnya, dalam hal pergaulan remajanya. Orang tua tidak takut anaknya bergaul dengan siapapun bahkan hingga larut malam sekalipun. Bahkan ada istilah dalam bahasa jawa “lek kedaden yo kari dikawino lak beres” (kalau terlanjur terjadi – MBA itu – ya tinggal dinikahkan saja kan beres). Mungkin cara berpikir seperti inilah yang menjadikan angka pernikahan dini di Indonesia cukup tinggi.

Pernikahan adalah solusi yang disyariatkan dlm agama sebagai solusi terhadap pengendalian nafsu sexual. Tapi saya yakin, bukan seperti ini cara yang dimaksud oleh Allah dan Rasul. Dampak yang ditimbulkan sangat besar dari pernikahan dini. Diantaranya dampak terhadap  kesehatan, psikologis suami-istri, budaya/norma masyarakat, ekonomi keluarga dan masyarakat, dan paling penting dakwah islamiyah.

Jika diruntut, setidaknya ada 2 sumber terjadinya masalah ini. Sumber internal dan sumber eksternal.

Sebab internal meliputi:

  • kesalahan dalam memahami hukum Allah - khususnya hukum tentang pernikahan
  • kurangnya pengendalian terhadap nafsu.

Sebab eksternal meliputi:

  • pengondisian nilai hedonisme
  • sosialisasi nilai/aturan agama yg salah
  • politisasi budaya

Kita kaji sumber internal terlebih dulu. Pemahaman umat islam terhadap hubungan lawan jenis cenderung ekstrem kanan dan kiri. Ada yg ekstrem mengharamkan dan langsung mewajibkan menikah. Contoh anak seorang Ulama ternama yang menikah di usia 17 tahun karena memandang haram pacaran. Dan ada yang cenderung sekuler seperti cerita teman saya di atas. Hal ini karena mereka tidak melihat hukum islam sebagai kesatuan aturan untuk mengatur masyarakat. Sehingga hubungan lawan jenis tidak diposisikn dengan seimbang sesuai dengan orientasi pembangunan masyarakat. Jika diposisikan sesuai orientasi pembangunan masyarakat seperti yang tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 30 yang menyebutkan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah sebagai Khalifah di muka bumi, seharusnya ada pertimbangan rasional seperti usia dan kesehatan, kemapanan ekonomi, psikologis dan karir. Dan hal ini sudah diatur dalam Al-Quran surat 24:32-33 yakni Allah mensyaratkan untuk menikah harus layak dan mampu. Hal lebih teknis terhadap itu pun diatur Rasulullah pada jamannya. Di Indonesia, pemerintah pun juga telah memiliki ukuran-ukuran yang mempertimbangkan aspek kondisi sosio-demografis Indonesia.

Sebab internal kedua, mengenai kurangnya pengendalian terhadap hawa nafsu. Islam sudah banyak mengatur masalah ini. Diantaranya adalah dengan puasa dan hijab. Masih berhubungan dengan ayat di atas, pada ayat sebelumnya QS. 24:30-31 Allah mengatur tentang hijab untuk laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki diwajibkan menahan pandangannya, sedangkan untuk perempuan diwajibkan mengenakan pakaian menutup auratnya. Dengan kata lain, ayat-ayat ini saling berkaitan sebagai bentuk pemecahan masalah masyarakat.

Dari uraian di atas, maka salah besar jika islam dijadikan sebagai biang keladi penyebab pernikahan dini. Karena syariat tidak menganjurkan demikian. Sebaliknya jika dipahami dengan benar, islam bisa menjadi solusi terhadap kasus pernikahan dini di masyarakat.

Sekarang marilah kita kaji sumber eksternal. Jika melihat kasus yang terjadi banyak disebabkan pernikahan tersebut didorong oleh “kecelakaan”.  Darimanakah dorongan ini berasal, mengingat budaya Indonesia tidak mengajarkan hal tersebut - norma pacaran yang menjurus tindakan asusila. Tak lain ini disebabkan karena nilai hedonisme yang cukup kuat di masyarakat. Kebebasan dalam menyalurkan hasrat sexual makin tidak terbendung. Bahkan kontrol orang tua terhadap pergaulan anak juga makin longgar. Kemudahan akses internet semakin mendorong masuknya budaya hedonisme kepada kaum muda. Dampaknya perilaku pacaran remaja menuju pada tahap yang memprihatinkan. Sehingga menjadi sebab pernikahan dini karena orang tuanya tidak ingin menanggung malu melihat anaknya sudah terlanjur hamil diluar nikah.

Sebab eksternal kedua adalah sosialisasi aturan agama yang salah. Hal ini disebabkan pemahaman agama seperti sebelumnya saya jelaskan. Demi menghindari zina, justru dibawa ke pernikahan dini. Padahal aspek psikologis dan kesehatan blm siap. Sikap yang ekstrem ini berdampak pada psikologis anaknya tidak fokus memikirkan masa dpn, khususnya remaja putri. Karena ditanamkan pada diri mereka bahwa takdir mereka adalah menjadi istri dan berkarir di dapur. Sedangkan untuk remaja putra ditanamkan bahwa ketika sudah menikah, rejeki akan datang sendiri (diambil dari khutbah salah seorang Ulama ternama dalam pernikahan anaknya).

Sebab eksternal ketiga adalah politisasi budaya. Maksudnya disini adalah upaya untuk menyimpangkan atau mengganti budaya Indonesia menjadi budaya barat. Salah satunya adalah jika melihat 2 propinsi yakni Jabar dan Banten menempati urutan ke 2 n 3 sebagai propinsi dengan kasus pernikahan dini terbesar di Indonesia. Pdhl 2 propinsi ini trkenal akan budaya sunda yang menjunjung tinggi nilai-nilai islam. Disini trlihat adanya pergeseran budaya sehingga seolah-olah islam mendukung pernikahan dini.

Hikmahnya, marilah kita menjaga diri kita dr pemahaman islam yang  terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan tanpa didukung pendasaran yang kuat. Dan menjaga diri kita dari pengondisian hedonisme yang mampu menggeser nilai islam dalam diri kita. Jangan sampai kita sebagai umat islam justru terperosok dalam jurang kesesatan karena pengaruh nilai hedonisme yang kuat.

Ranu Brianaga - STAIM Bandung

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 346