Kapitalisasi Simbol Agama

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Agama
dipublikasikan 22 September 2016
Kapitalisasi Simbol Agama

Perintah Allah mengenai jilbab sudah sangat jelas. Hal ini tertulis dalam surat An Nuur (24) ayat 31 dan Al Ahzab (33) ayat 59. Bahkan dalam ayat tersebut Allah memberikan petunjuk hingga teknisnya dalam hijab dan siapa saja yang diperbolehkan melihat aurat wanita. Salah satu tujuannya adalah disebutkan pada surat Al Ahzab ayat 59 adalah “supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu”. Sehingga pakaian berjilbab/hijab merupakan identitas muslimah dan islam itu sendiri.

Dulu, kekuatan jilbab ini sangat luar biasa. Seorang muslimah bahkan sampai takut mengenakannya karena merasa tidak siap untuk konsisten menjalankan syariat islam. Beberapa dari mereka mengungkapkan kekhawatiran jika sudah berjilbab ternyata perilakunya tidak sesuai dengan pakaiannya akan menyebabkan buruknya citra islam dan resikonya justru mereka malah ikut menanggung dosanya. Sehingga jika diperhatikan, mereka yang setelah berhijab terjadi perubahan perilaku yang drastis pada dirinya dibanding sebelum memakai hijab. Dari kualitas dan intensitas ibadah makin baik, dari perilaku keseharian juga makin menjunjung tinggi norma sosial, dan hampir tidak ada yang terjebak kasus asusila. Dengan demikian, jilbab sudah menjadi simbol agama islam itu sendiri, sama seperti sholat dan haji.

Hal yang berbeda terjadi saat ini. Fenomena yang penulis amati adalah kapitalisasi simbol agama berupa jilbab ini. Saat ini mereka yang berjilbab tidak selalu identik memiliki motif keagamaan (menjalankan perintah Allah) tetapi sudah beragam motif yang mendorong seseorang berjilbab. Salah satunya adalah motif fashion. Pernah penulis menjumpai obrolan ibu-ibu di warung yang bicara pada anak gadisnya “kamu kalo ke sekolah pakai jilbab ya, biar putih kulitnya. Kalo main keluar g perlu g’papa”. Alangkah terkejutnya mendengar perkataan tersebut. Semurah itukah nilai jilbab? Fenomena lain yang pernah penulis jumpai adalah anak yang mengaku menggunakan jilbab karena di sekolah tiap hari jumat diwajibkan pakai busana muslim untuk yang perempuan, sehingga dia beralasan “kagok” (dalam bahasa sunda artinya: terlanjur atau terpaksa) kalo harus lepas-pakai di hari senin-kamis sehingga sekalian aja dipakai biar irit baju juga. Dan si anak ini bahkan ketika ada festival cosplay, dia mengenakan baju sexy yang memamerkan betis dan paha. Masya Allah, naudzubillahi min dzalik.

Saat ini tren busana berjilbab sangat tinggi, bahkan banyak sekali butik dan rumah mode yang bisa go internasional berkat pakaian jilbab ini. Sekilas memang tidak ada masalah akan hal ini, tetapi jika diamati upaya kapitalisasi jilbab ini akan berdampak besar terhadap kesakralan simbol islam ini. Umat islam akan kesulitan untuk membedakan mana muslimah yang benar2 berjilbab untuk menegakkan hukum Allah, versus mereka yang berjilbab hanya untuk memuaskan kebutuhan mode semata. Contohnya mode jilbab ibu-ibu pejabat, selebritis yang suka buka tutup jilbab. Belum lagi beberapa kasus asusila yg pernah saya baca di berita seperti video porno remaja SMP yang aktris ceweknya memakai jilbab, video/gambar cewek sekolahan berjilbab tapi merokok, dan masih banyak lagi kasus serupa. Mereka inilah korban kapitalisasi jilbab karena menganggap jilbab hanya sebatas fashion saja, tetapi tidak benar-benar menjalankan konsekuensi jilbab itu sendiri.

Meskipun demikian, penulis masih beranggapan masih lebih baik pakai jilbab daripada tidak pakai, karena setidaknya mampu mengurangi zina mata. Namun perlu ditekankan bagi yang sudah memutuskan berjilbab, hendaklah menjaga motif/niat dalam berjilbab. Harus benar-benar ada pendasaran ilmiahnya, bukan gara-gara ikut-ikutan, fashion atau ingin kulitnya putih. Karena sesungguhnya pendasaran ilmiah dalam beragama itu menunjukkan bahwa kita manusia yang memiliki akal, bukan hewan atau tumbuhan. Wassalam

Ranu Brianaga - Mahasiswa STAIM Bandung

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 252

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    10 bulan yang lalu.
    di ganggu => diganggu
    islam => Islam
    sholat => salat

  • agus geisha
    agus geisha
    10 bulan yang lalu.
    Konon, apa yang tak bisa dikapitalisasi maka hal tersebut adalah kriminal.

    Salut, kak.

    • Lihat 2 Respon