Fenomena transportasi Bandung

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Motivasi
dipublikasikan 20 September 2016
Fenomena transportasi Bandung

Pengalaman pertama penulis di bandung yang paling bikin stress adalah transportasinya. Hampir seumur hidup penulis tinggal di surabaya tidak pernah mengalami namanya macet seperti di Bandung. Padahal kemacetan itu sangat merugikan, baik masyarakat maupun pemerintah dan swasta. Macet menguras fisik, psikis, dan uang. Bensin dibakar tetapi motor/mobil jalan di tempat. Waktu terbuang sia-sia hanya untuk berjemur di jalan. Belum lagi psikis pengendara sangat diuji disana. Inginnya sampai ke tempat tujuan dengan cepat tetapi apa daya jalanan sangat padat. Sangat tidak efektif dan efisien.

Pemerintah kota Bandung yang baru menawarkan berbagai solusi untuk mengurai kemacetan kota ini. Diantaranya revitalisasi bus, pembangunan jalan layang, kereta cepat, dan berbagai inovasi lain. Tetapi yang penulis rasakan selama 3 tahun ini masih kurang terasa dampaknya. Namun upaya pemkot layak diapresiasi karena percepatan pembangunan di Bandung cukup signifikan dalam 2 tahun terakhir ini.

Salah satu sebab kurang suksesnya upaya pemkot adalah kurangnya penanaman kesadaran masyarakat tentang transportasi. Berdasarkan pengalaman pribadi, tiap pagi pada rush hour, selalu penulis jumpai mobil dengan hanya 1 penumpang yaitu sopirnya. Yang terbersit pada benak penulis itu penumpang entah niat pamer mobil, atau tidak punya kendaraan lain, atau tidak punya ongkos naik angkutan umum. Yang jelas jumlah fenomena ini sangat banyak. Dan menurut penulis, cara berpikir orang di dalam mobil inilah sebab utama kemacetan di kota Bandung. Sepertinya faktor kapitalisme atau materialisme turut berperan dalam menyuntikan pemikiran ini. Penulis jadi berandai-andai, bagaiaman jika pajak kendaraan motor dinaikkan 200%-300%, apakah orang-orang masih mau beli mobil? Dengan kemudahan dan keringanan kredit mobil saat ini, memiliki mobil ibarat orang beli krupuk untuk teman makan, sangat mudah. Atau jika perlu diberlakukan pembatasan jalan terhadap angkutan pribadi seperti di jakarta, biar kapok orang-orang itu stress sendiri jika pakai mobil cuma sendirian.

Intinya perbaikan sistem juga harus diimbangi dengan perbaikan paradigma, sehingga moralitas individu juga maju. Bukan hanya sistemnya saja yang maju.

Ranu Brianaga - Mahasiswa STAIM Bandung,

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 178