Dakwah bil Hal

Naga Senior
Karya Naga Senior Kategori Agama
dipublikasikan 20 September 2016
Dakwah bil Hal

Selain dakwah bil lisan terdapat pula metode dakwah bil hal yakni artinya adalah dakwah dengan perbuatan. Dakwah ini menekankan pada pemberian contoh kongkrit atas apa yang disampaikan melalui lisan. Hal ini bisa dilihat dari ayat berikut ini:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Q.S. Fushilat: 33).

Pada ayat tersebut dapat diperhatikan bahwa mereka yang menyeru (da’a/dakwah) harus diimbangi dengan amal saleh (perbuatan). Jika diperhatikan kalimat bahasa arabnya berbunyi “da’a ilallahi wa amila sholiha” dimana terdapat kata “wa” disana yang bermakna “dan” atau menyatakan bahwa kata sebelumnya dan sesudahnya saling berkaitan. Sehingga jika dimaknai seharusnya kalimat itu berbunyi siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan diiringi denga mengerjakan amal sholeh (dari perkataan dia tersebut). Sehingga dari pendekatan bahasa disimpulkan bahwa orang yang baik perkataannya adalah ketika dakwahnya dihiasi dengan amal sholeh.

Dalam sejarah Rosul senantiasa melaksanakan dakwah bil hal ini. Seperti misalnya Rosulullah mengajak sholat tarawih dan itikaf adalah bentuk dakwah bil hal yakni membiasakan umat islam untuk mengilahkan Allah. Dalam bentuk lain adalah melalui moralitas Rosul yang totalitas membangun masyarakat. Contoh lain dapat diamati fenomena Gerhana Matahari. Sebelumnya masyarakat mempercayai bahwa adanya Gerhana Matahari memiliki keterhubungan dengan fenomena ghaib yakni adanya musibah atau peristiwa buruk akan terjadi. Tetapi Allah dan Rasul-Nya menegaskan bahwa fenomena itu adalah bentuk kebesaran penciptaan Allah sehingga mengajak masyarakat Arab saat itu untuk mensyukurinya. Dan Rasul mendakwahkan dengan metode mengajak sholat gerhana.

Dakwah bil lisan tanpa bil hal tidak akan mampu memberikan kesadaran terhadap umat. Karena dianggap seperti tong kosong nyaring bunyinya. Saat ini banyak sekali ulama atau ustadz yang pandai dalam memberikan kata-kata ajaib yang mampu memberikan motivasi kepada khalayak atau umatnya. Tetapi seringkali perkataan dia tidak diimbangi dengan perbuatan baik. Contoh kasus terbaru tentang kisah seorang motivator ternama yang harus hancur karirnya hanya karena masa lalu dia yang tidak mengakui anaknya sendiri. Terlepas dari itu bukan anak biologisnya seharusnya sikap dia tetap baik kepadanya. Karena tidak mungkin tiba-tiba seseorang mengadu kepada masyarakat dengan lantang dan berani berbicara “saya tidak dianggap anak oleh ayah saya sendiri”. Semoga ini bisa menjadi renungan bagi kita semua khususnya yang menginginkan perubahan di Indonesia menjadi lebih baik melalui jalan dakwah islamiyah.

 

Ranu Brianaga – Mahasiswa STAIM,

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

  • view 359