Dreamers

Sarah R Putri
Karya Sarah R Putri Kategori Renungan
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Dreamers

                    Suatu malam setelah penat bergelut dengan segerombolan angka dan kata dalam file Tugas Akhir ku, sengaja ku alihkan perhatian sejenak dengan menjelajah folder-folder lama di laptopku. Satu folder, dua folder, bahkan lima dan enam folder lama telah kubuka dengan sengaja tanpa ingat makhluk apa yang bersemayam di folder-folder itu. Tiba-tiba, nafasku terasa terhenti sejenak, mataku terpaku pada satu titik di layar laptop dan jariku berhenti menekan keyboard dengan tanda panah ke arah kanan di atasnya. “Foto itu!” ,  antara senang dan sedih aku bergumam. Mataku belum berkedip dan dalam hati aku mulai mengeja namanya perlahan. Aku ingat, file foto itu pernah ku beri nama “Dreamers”.

                “Dreamers” telah benar-benar berhasil mengalihkan perhatianku dan membawa aku menyelam  ke tempat terjauh bagi manusia. Ya, benar tempat itu adalah masa lalu. Bagai mengendarai alat canggih milik Doraemon yang tersembunyi di dalam laci meja belajar Nobita, pikiranku melaju kencang melewati banyak memori yang seharusnya tak aku lupakan walau sejenak. Perasaanku campur aduk bukan main. Aku mulai terisak, dua detik kemudian dua tetes air dari mata mengalir melewati pipi dan jatuh di atas buku referensi untuk tugas Akhirku. Tak kuhiraukan buku itu, aku sudah pergi terlalu jauh untuk kembali dan membereskan buku itu.

                 You may say i’m a dreamer but i’m not the only one, sepenggal lirik lagu Imagine milik Om Lennon semakin jelas terdengar dalam benakku. “Kamvret, gegara elu cha!”, gumamku lagi. Kemudian sudut kanan dan kiri bibirku mulai naik ke atas hingga memaksa bibirku untuk tersenyum. Semakin lama, sosok itu semakin jelas tergambar di otak ku. Aku menyelam lagi lebih jauh. Akhirnya kutemukan dia, sosok perempuan mungil nan aktif yang terabsurd yang pernah aku kenal. Anehnya, keabsurd-an nya tak pernah berbanding terbalik denganku, mungkin karena kami satu frekuensi dan kami sama-sama absurd, pikirku.

                Tak pernah ingat dimana kami pertama kali bertemu. Yang ku ingat, namanya sudah lebih dulu ku kenal daripada sosoknya karena prestasinya selama kami masih duduk di bangku Tsanawiyyah (sama dengan SMP) dahulu. Setiap kali namanya kudengar, aku merasa telah menjadi sangat akrab dengannya padahal aku yakin betul kami tak pernah saling menyapa apalagi main bersama, selama 3 tahun berada di lingkungan sekolah yang sama. Sampai akhirnya, aku ingat pertama kali aku berinteraksi dengannya. Tepat saat kami mulai duduk di bangku Mu’allimien (sama dengan SMA), di lingkungan sekolah yang masih sama dengan lingkungan sekolah kami 3 tahun sebelumnya namun dengan gedung sekolah yang berbeda. Entah hal apa yang membuat kami menjadi saling terikat, yang ku ingat hanya interaksi pertama kami adalah pada saat kami tak sengaja berdiskusi tentang sains islami dan filsafat disale-sela waktu istirahat sekolah yang membuat kami semakin absurd. Semakin lama, yang kami diskusikan tak hanya tentang ke-absurd-an teori-teori eksakta atau filsafat lagi. Ke-absurd-an hidup kami masing-masing pun tak luput jadi bahan diskusi dan guyonan kami.

            Namanya Khairunnisa, perempuan mungil itu akrab ku panggil Icha. Si absurd itulah yang mengenalkan aku lebih dalam pada dunia spiral filsafat, kata-kata puitis nan romantis dalam karya sastra, lagu-lagu jadul tapi cool seperti lagu Imagine milik Jhon Lennon, dunia per-toefl-an yang sampai saat ini masih tak ku pahami, sampai dunia imajinasi yang tak terbatas seperti dunia Bing Bong di film Inside Out. Dia lah yang berhasil membuat aku keluar dari cangkang. Perempuan mungil nan cerdas itu banyak membuka pikiranku. Aku semakin kagum dan menggantungkan banyak harapku padanya. Harapan bahwa kami akan selalu menjalani masa tumbuh kembang kami sampai menua bersama, selalu bersama. Konsep hidupnya yang bisa dibilang lebih rapih dari hidup ku, membuat aku semakin sadar bahwa dia harus kujadikan sahabat sejati ku.

             “Dreamers”, foto itu bercerita tentang aku dan Icha yang saling berjanji akan berpisah untuk bertemu kembali. Berpisah dari kebersamaan di dunia sekolah yang menyenangkan lalu melewati masa kuliah yang lebih serius dan kembali bertemu di dunia orang-orang dewasa yang lebih realistis. Kami berjanji akan bertemu di sebuah kota romantis di negeri orang, Paris. Entah untuk melanjutkan studi atau bekerja ataupun hanya menjadi turis. Yang penting, dulu kami berjanji akan bertemu di Paris, tepatnya di depan Menara Eifell suatu hari nanti di tahun 2018. Mimpi itulah yang membuatku semangat untuk menjalani masa-masa awal kuliah meski aku tak bersama Icha lagi. Namun, kenyataan berbeda kampus dan jurusan yang memisahkan kami membuatku sedikit demi sedikit lupa akan mimpi-mimpi kami, bahkan lupa akan janji Paris kami. Maafkan aku Cha, aku benar-benar lupa. Aku menyesal. Saat mulai memasuki “kepala dua” aku berubah menjadi orang yang tak menyenangkan lagi, aku masuk ke dalam cangkang ku lagi. Kenyataan hidup realistis a-la manusia dewasa dan sekelumit ujian hidup yang singgah di hidupku membuat aku lupa untuk tetap terus menghidupkan mimpi-mimpiku. Ini salahku.

Dulu kita pemberani, Cha. Berani bermimpi tanpa khawatir hal apa yang akan menghalangi. Dulu kita adalah pemimpi yang baik, Cha. Belajar bermimpi dengan mata terbuka, katamu kala itu.

 Apa kabar dirimu Cha? Apa kamu masih ingat tentang janji Paris kita?

Apa kamu masih gigih dalam menghidupkan mimpi-mimpi mu dan mimpi kita?

Maafkan aku Cha, sungguh! aku lupa.

Bisakah kita batalkan saja janji Paris kita? Atau setidaknya ganti tujuan janji kita, jangan Paris lagi.

Aku sudah terlalu banyak kehilangan waktu untuk mempersiapkan bekal kita disana. Bekal ilmu, bekal harta, bahkan bekal restu dari orang tua ku pun aku lupa pinta.

Aku semakin jahat ya Cha? Lupa ku pada mimpi dan tujuan hidupku membuat aku semakin jahat ya?
Relakah kamu masih menganggap aku sebagai sahabatmu meski aku tak menepati janji Paris kita?
Maukah kamu tetap menepati janji Paris kita meski aku mengingkarinya?
Maafkan aku Cha, aku sedang kacau. Mungkin tepatnya, aku sudah terlalu lama kacau. Akan ku susun kembali aku yang dulu dan akan ku nyalakan lagi mimpi-mimpi yang meredup itu. Ku usahakan semampuku untuk mengejar kamu. Mengejar waktu untuk mempersiapkan segalanya demi menepati janji Paris kita.

Maafkan lupa ku. Aku akan berusaha dulu semampuku.

Dreeet..dreeeeeettt...dreeeeeeettt...tanda getar dari handphone ku yang mengisyaratkan masuknya sebuah pesan segera membawa aku kembali ke masa sekarang meninggalkan kenangan-kenangan yang tetap berada di tempatnya, masa lalu. Ku intip sedikit pop-up pesannya, nama pengirimnya membuatku segera manyambar handphone ku itu. Si absurd! Pesan dari Si Absurd! Ku buka pesannya dan ku baca setiap kata nya. Dia menanyakan kabarku, kabar keluargaku, kabar ke-absurd-an hidupku dan menanyakan kabar janji Paris kami. Sungguh! aku merasa sangat diberkahi atas persahabatan ini. Hati ku meleleh saat mencerna semua kejadian ini. Hati kami masih terikat satu sama lain. Alhamdulillah..Rabb ku memang Maha Baik, syukurku. Rabb ku Maha Tahu apa yang sedang aku butuhkan sekarang.

Malam itu pun kami habiskan dengan berdiskusi kembali tentang mimpi-mimpi kami, kali ini kami memilih lebih menyertakan ridho Rabb kami dan ridho orang tua kami dalam revisi catatan mimpi-mimpi kami.

  • view 145