Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 12 Desember 2017   12:35 WIB
Bila Sekali Ku Pandangi Langit Senja (I)

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Aku teringat masa kanak-kanak. Masa dimana aku dapat tertawa lepas tanpa penat dan letih, bersenda gurau bersama teman-teman, bermanjaan dengan ayah dan ibu. Masa yang tidak dapat diulang, penuh riang tawa, berlari kesana kemari, bermain petak umpet, memanjat pepohonan tetangga jika berbuah, tidak ada keresahan disana, takut bahkan khawatir. Seolah hari esok tidak pernah ada hingga segalanya dilakukan dalam satu hari tanpa lelah. Yang terjadi ya terjadilah. Tanpa harus pusing apa yang terjadi esok. Yang penting masih bisa tertawa dan selalu bersama orang tua.

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Kuingat kala sore kumpul keluarga menikmati cemilan dan teh hangat buatan ibu. Bercerita, canda tawa dan gurauan. Bermain teka teki bersama,  "teka teki teka teko, ular mati pandai merokok", lagi, "bersisik bukannya ikan berpayung bukannya raja", teka teki paling familiar kala itu. Suasana yang romantis bagiku. Kumpul bersama keluarga sambil menikmati matahari terbenam diufuk barat diiringi deburan ombak tepi pantai dan lagu tembang kenangan masa muda ayah dan ibu.

BIla sekali ku pandangi langit senja.

Makan malam pun tiba. Aku dan ibu segera menyiapkan hidangan makan malam. Masih segar dalam ingatanku, setiap hendak makan selalu meminta ayah meniup nasiku yang masih panas, bukan aku tidak bisa melakuknnya sendiri, tapi inilah bentuk dari sifat manjaku terhadap ayah. Ya, makan malam bersama keluarga sangat menyenangkan, terlihat disana keutuhan sebuah keluarga, ada interaksi dan saling dekat.

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Kuingat sepeda motor butut ayah yang sudah usang dimakan waktu. Jika ada uang lebih barulah diservice, jika tidak sepeda motornya hanya jadi pajangan saja. Pernah sekali ketika ayah menjemputku sepulang sekolah, ditengah perjalanan pulang sepeda motor ayah mogok, "pulang duluan ya nak, ayah titip pakai angkot teman ayah?". Aku menggelengkan kepala, walaupun perut sudah keroncongan aku tetap menemani ayah memperbaiki sepeda motor tua itu dipinggir jalan. Bengkel? oh, tidak. Ayah masih bisa perbaiki semampunya, paling busi motornya ditiup-tiup dibersihkan lalu nyala. Yah begitulah, apapun itu kalau sudah tua pasti sering sakit kan?

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Ayah menjemputku dengan kuda besinya yang sudah tua. Tapi ketika ia sampai disekolah tidak ia dapati aku disana. Ia bingung kemana harus mencari anak perempuannya. Benar kata orang, kekuatan batin orang tua dan anak pasti lebih kuat. Ayah menghampiri ku di rumah teman. Dijalan ia menasehatiku, katanya, "kalau sudah pulang sekolah tunggu ayah di sekolah jangan kemana-mana sampai ayah datang. Kalau mau main kerumah teman bisa antar nanti." Aku tahu ia marah, tapi ia tidak menunjukan itu, ia penuh kasih pada ku. Lantas kupeluk ia erat sambil mencium aroma tubuhnya yang khas.

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Ketika demam panas menyerangku. Ayah adalah orang yang paling siap siaga menemani. Pulang jualan, yang ia tanyakan pasti aku. Orang yang ia cari pasti aku. "Sudah makan, mau makan apa nak?" selalu pertanyaan ini dilontarkan jika aku sakit. "Mau makan mie goreng ya?" Ayah paling tahu kesukaan ku. Sakit yang paling lama ku derita adalah alergi di kuku tangan hingga membuat semua kuku tanganku lepas. Itu sangat sakit rasanya. Pernah ayah membawaku berobat ke sebuah desa di Aceh Selatan, Kota Fajar namanya. Disana ada seorang pintar yang katanya bisa mengobati. Tanganku dicelupkan ke dalam minya kelapa panas, sangat luar biasa rasanya, tak terkatakan. Sementara ibu hanya bisa menangis melihatku mengerang kesakitan. Apapun ayah perbuat, begitupun ibu. 

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Pernahku pulang terlambat, karena ada kerja kelompok di rumah teman. Aku meminta ayah untuk tidak menjemputku sepulang sekolah hari itu, sudah dipesan dari rumah sebelum berangkat sekolah. "Nanti pulangnya bagaimana? Bisa naik angkot kan?' tanya ayah padaku. Dengan percaya diri aku jawab "iya ayah". Ibarat pepatah, Pengalaman adalah guru terbaik. Benar, aku salah menaiki angkot. Arahnya berlawanan dengan arah rumahku. Aku minta diturunkan di pasar. Beruntung kernet tidak meminta ongkos, ia memberitahuku bahwa angkot ke arah rumah bernomor 05. Dari pasar aku berjalan sedikit ke arah terminal dimana angkot ngetem. Yes, itu pengalaman pertamaku naik angkot. Usiaku baru 10 tahun. Sampai diterminal, aku perhatikan nomor angkot 05, lalu bertanya,"bang, ini ke Lhok Bengkoang (nama kelurahan tempat tinggalku) ?" Si abang mengangguk, "eh, anaknya bang Khaidir yo?". Syukurlah mereka kenal ayahku.  Berarti aku aman pikirku.  

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Pesona seorang ibu yang pintar memasak. Kasih sayangnya yang hangat menemani. Kekuatan tangannya seolah memiliki sihir yang bisa mengobati. Aku berlari-lari pelan ketika jam akhir belajar usai. Meringis kesakitan. Jarak sekolah ke rumah ditempuh 30 menit berjalan kaki. "Haduuhhh maakkk, perut ku sakit melilit, sepertinya ada yang berputar-putar di dalam" rengekku pada ibu. Lalu ibu mengambil minyak tanah dari kompor dan mengoleskannya ke perutku sambil berkata,"sembuh, sembuh, sembuh,,,huff huff huff". Seperti jampi-jampi yang mujarab, sakit perutku hilang seketika. Waktu ini terjadi rumah kami berada di kelurahan Jambo Apha. Dulu kami sering berpindah rumah.

Bila sekali ku pandangi langit senja.

Ku terbawa ke masa kecil yang penuh cinta kasih orang tua. Yang masih hangat kurasakan dalam hati. Bilakah dapat diulang kembali, semuanya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun. Oh langit, Sekarang aku sudah dewasa, kenangan indah masa kecilku jauh, sejauh pandangan ku antara langit yang kupandang disini dan langit yang dipandangi ayah ibu di mana pun mereka berada. Langit senja, sampaikan kerinduan anak perempuan ini, katakan pada ayah dan ibu, aku baik-baik saja. Langit sampaikan kehangatan jinggamu dihati mereka. Katakan, aku sangat mengasihi mereka.

Bila kupandangi langit senja. Ada rindu yang membara.

Karya : Debbye Sartikha