Ayah Ibu, Aku Kuat Karena Kalian.

Debbye Sartikha
Karya Debbye Sartikha Kategori Puisi
dipublikasikan 09 Desember 2017
Ayah Ibu, Aku Kuat Karena Kalian.

Bertaruh nafas dalam lingkaran antara air dan api
Kadang dingin kadang panas namun menyisakan titik air dan abu
Bertarung dengan waktu memilah hal yang berarti dan yang sia-sia
Bukan goyah atau tidak pasti namun mampukah bertahan?

Aku mengikuti perang hidup antara tawa dan tangis
Luka lama yang kadang kambuh membuatku teringat kembali akan masa itu
Pada setumpukan memori yang usang menyebabkan kepedihan 
Seharusnya dilupakan tapi tidak dapat oleh ku membuangnya
Mengapa? Mereka sekeras batu hingga buat hati ini meringkuk dalam kesedihan

Kejam dan sakit bila ku kenang
Suntuk dan berat bila ku ulang
Sangat dalam luka itu ketika kulihat mereka berpisah
Lidah tak lagi mampu berkata-kata
Hati ini sudah sangat perih dan terlalu parah
Pikiran ku hanya satu ingin mereka bersatu seperti dulu
Tapi takdir telah membuat perjanjiannya
Terkecoh, bukan keinginanku tapi keputusan mereka
Jadi inilah mimpi yang kelam itu?

Tawa.
Hah, topeng terkuat untuk memberanikan diri menghadapi kenyataan dunia
Hidup ini bukan tentang mereka saja tapi juga tentang masa depan ku
Mengarungi kota demi kota mencari apa yang berkenan di hati
Sembari berjuang mengalahkan benci dan memelihara kasih
Aku larikan pikiran kelam demi menjadikan hidupku terang
ku titipkan kekelaman pada hiruk pikuk jalanan perkotaan
Perlahan hilang digilas lalu lalang kebisingan dan lenyap diterpa hujan badai

Ayah,,, 
Ibu,,,
Aku sekuat batu karang yang dihempas gelombang namun tetap kokoh
Aku  tetap berjalan melanjutkan langkah yang sempat terhenti 
Aku  Setegar akar pohon besar yang berpegang pada bebatuan di gunung
Hatiku seluas samudra lautan menerima pahit yang kuanggap hanya setetes
Kenyataan pahit yang kalian berikan menjadikanku seorang anak perempuan yang tegar
Beroleh hikmat atas kejadian yang kurasakan getir
Ternyata kekuatanku menang dan kelemahanku terkalahkan


Tahukah Ayah Ibu?
Betapa berat hari-hari yang kulalui tanpa kalian
Betapa sunyi hati tanpa kasih sayang kalian
Aku bertahan hidup dalam tekanan dan desakan dunia
Aku harus bisa menyesuaikan diri terhadap dunia yang jahat ini
Tanpa aku mengadu kepada kalian, betapa ringkuhnya aku

Benar, Tuhan itu teramat baik
Dia topang aku saat ku tak bersama kalian
Dialah penolong sejatiku ketika aku dalam kelam itu
Dialah perisaiku saat badai hidup menerpa
Dialah yang telah menyentuh hatiku saat ku rapuh
Dia yang selalu hadir menemani tiap langkah hidupku
Dia ada bersamaku, selalu menyertaiku, dan memberikanku kekuatan itu.
Dan aku bisa tersenyum lepas, bebas seperti burung yang lepas dari sangkarnya.

Ayah Ibu,,,
Terima kasih, 
Karena kalian aku terdidik jadi wanita yang kuat.

  • view 61