Surat Untuk Papa Mama yang tidak lagi serumah.

Debbye Sartikha
Karya Debbye Sartikha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Desember 2017
Surat Untuk Papa Mama yang tidak lagi serumah.

Dan ketika orang tua membuat sebuah keputusan yang mengguncang batin.  Satu kata tapi menorehkan luka dalam hati yakni 'perceraian'. Luka yang tidak bisa hilang dan tidak dapat sembuh. Ntahlah apa obatnya. Sebagai seorang anak korban Broken Home, setiap sisi kehidupan dibawa mellow  bahkan kadang tanpa sebab. Merasakan kurangnya kepercayaan diri dan bahkan malu kepada dunia. Walaupun ada yang berkata, "Hei, biasa aja kali. Bukan lo doang yang paling menderita di dunia ini" . Please jangan bandingkan kami dengan banyak kisah di luar sana. Anak-anak broken home itu bukan berlebihan menanggapi kisah hidupnya tapi inilah yang dirasakan, sakit yang mendalam yang tidak tahu sampai kapan dapat sembuh. 

Bayangkan saja, ketika kami punya masalah di sekolah, di kuliah, di tempat bekerja harus kepada siapa kami mengadu? Kepada siapa kami berbagi suka dan duka perjalanan hidup kami. Kepada siapa kami harus mencurahkan isi hati kami ketika dihadapkan kepada jahatnya dunia. Kepada siapa kami harus belajar??? Dan karena itulah kebanyakan dari kami mencari kesenangan lain diluar sana, bahkan jikalau bisa hidup sehancur-hancurnya. Siapa lagi yang peduli akan keberadaan kami jika Papa dan Mama sibuk dengan rumah tangga mereka sendiri. Mereka yang tinggi ekonominya terkadang hanya bisa memberikan hak materi kepada kami. Mencukupi segala apa yang kami butuhkan. Tapi sejujurnya, bukan itu yang kami harapkan. Kami hanya ingin diperhatikan, dikasihi, disayangi, mendapatkan pelukan hangat, selalu ada saat kami butuh sandaran bahunya.  Mendengarkan nasihatnya, Mendapatkan kecupan kasih dipipi dan dikening, merasakan harum tubuhnya. Mendengarkan celotehannya karena yang kami lakukan itu salah, bukan hanya meng'iya'kan segala yang kami perbuat lantas lepas tangan.

Dan ketika kami diberikan pilihan, ikut Papa atau Mama??? Ini adalah sebuah ketidak-adilan bagi kami. Untuk apa kami dilahirkan jika kami harus memilih orang tua mana yang harus kami pilih, Papa atau Mama. Ini membingungkan sekaligus menyakiti hati dan perasaan. Yang kami rindukan adalah kelengkapan keluarga dalam satu rumah. Dimana ada sosok seorang Papa yang berlelah letih mencari rejeki, ada sosok seorang yang lemah lembut, Mama, yang setiap hari ada menemani. Rindu saat-saat dulu ketika masih bersama-sama bercanda ria di ruang tv, makan bersama. Rindu itu datang seketika jika kami datang bermain ke rumah teman dan melihat keharmonisan keluarganya. Saat itu terjadi, kami hanya bisa kembali ke memori 'usang' yang bernama masa lalu.

Lagi yang membuat kami minder baik di hadapan guru sekolah, diantara teman-teman, jika mereka bertanya, "mana orang tuamu?". Melihat teman berbahagia berjalan didampingi Papa Mamanya, ketika pembagian raport, wisuda atau acara sekolah yang perlu dampingan orang tua, sementara kami hanya diwakili oleh kakak/abang, saudara orang tua, atau kadang ibu kos. Tahukah Papa dan Mama perasaan kami ini? Bisakah kalian merasakannya?

Dan ketika kami beranjak dewasa, muncul dipikiran akan seperti apa rumah tangga yang kami jalani nanti? Rasa takut muncul menghantui pikiran. Banyak dari kami bahkan hanya menyia-nyiakan hidup dengan beralih ke obat-obatan, bermain dikehidupan malam, banyak kehidupan aneh , kehidupan yang dianggap orang  tidak waras/menyimpang dari norma-norma yang sewajarnya hanya untuk mencari kebahagiaan. Yang tanpa kami sadari dapat menjerumuskan. Namun bagaimana lagi, hanya itulah yang membuat kami bahagia.

Ahh,,, kalau dipikir-pikir lagi sungguh diluar kemampuan kami untuk menghadapi ini.  Buat para orang tua, jika tidak ingin anak-anakmu mengalami 'cacat mental' karena keegoisan kalian tolong pikirkan beribu kali jika ingin pisah dengan pasangan hidupmu. Pikirkan anak-anak kalian, maukah kalian melihat mereka dipandang sebelah mata oleh dunia? Tidak banyak dari kami yang lulus untuk ujian ini, karena sangat sakit, menyedihkan dan rasanya seperti hidup tidak ada artinya lagi. Tolonglah untuk sekali saja memikirkan masa depan kami, bukan kepentingan kalian pribadi, hanya demi memenangkan ego kalian rela menjadikan kami tumbal.

Buat Orang tua diluar sana, sekalipun kalian sudah punya kehidupan masing-masing, tolonglah perhatikan kami juga, kami butuh kasih sayang kalian, bukan uang kalian.

  • view 178