MAMA adalah INSPIRASIKU

Debbye Sartikha
Karya Debbye Sartikha Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 13 Agustus 2017
MAMA adalah INSPIRASIKU

MAMA adalah INSPIRASIKU

Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dua laki-laki dan saya sendirian perempuan. Berbeda dengan abang, (waktu itu si bungsu belum ada) saya lebih suka menyisihkan uang jajan karena itu adalah wajib buat saya. Untuk apa? Ya bisa buat beli seragam sekolah yang baru, bisa beli sepatu sekolah yang baru, beli buku pelajaran, bayar spp, beli perlengkapan sekolah saat kehabisan, beli tas baru ketika tas lama bebar-benar sudah rusak, ya itulah kegunaannya. Hingga saya SMA orang tua sering bertanya, "dedek,,, (begitu panggilan saya dulu ketika sibungsu belum lahir), uang bulanannya udah dibayar?". Saya jawab, "udah ayah". Pertanyaan ini sering dilontarkan orang tua ketika si abang minta uang bulanan sekolah, waktu itu disebut spp walaupun cuma 5000-7000/bulan (karena bersekolah di sekolah negeri) tapi cukup membantu orang tua kan jika bisa disisihkan dari uang jajan. 

Jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, waktu SMP saya lebih memilih berjalan kali bersama teman-teman, ketika SMA saya berpikir cerdik, kalau ingin memfotokopi buku pelajaran (karena gak sanggup beli yang baru) saya pasti tunggu angkutan kota teman ayah, tiap naik pasti disapa, "eh anaknya bang khaidir ya (nama ayah saya)". Lalu apa? Ya gratislah. lumayan kan jajan sehari 2000 full ditabung (gila jajan SMA ku dulu 2000, tahun 2003-2006, bayangin SD SMP nya hahaha). Kalau buat beli tas sekolah baru, pulang sekolah jalan ke pasar, lihat-lihat tas mana yang ditaksir, terus ditanya harganya berapa, barulah saya tekad untuk puasa alias tidak jajan sama sekali. Cuma bawa air minum 1 botol aqua kecil.

Lantas mengapa saya lakukan itu? Bukankah ada orang tua yang bertanggungjawab akan semua itu? Ya, saya adalah seorang anak penjual ikan di pasar yang terkadang ayah saya juga turut melaut. Saya berasal dari keluarga tergolong kurang mampu (begitulah identitas saya kalau di sekolah). Saat pembagian sembako, pembagian biaya terhadap anak kurang mampu/orang tua asuh, nama saya pasti terpanggil.

Dengan kondisi orang tua yang seperti inilah mengharuskan saya untuk menabung dengan alasan meringankan beban orang tua. Bayangkan saya yang waktu itu masih SD sudah berpikir sedemikian rupa. Semuanya saya contoh dari perbuatan ibu  yang  berlelah letih mengangkat kerikil dari pinggir pantai sampai ke halaman rumah, tidak terbayangkan lelah perjuangannya demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, anak-anak, dan juga mungkin untuk kebutuhannya sendiri tanpa menyentuh sepersen pun uang belanja pemberian ayah yang hanya 20.000 perhari kalau ikan tidak habis terjual, 30rb-40rb jika ikan habis terjual dan ibu pasti menyimpannya sambil berkata kepadaku,"buat keperluan mendadak, atau pulang kampung".

Perjuangan ibu mengangkat kerikil tidaklah sia-sia, letihnya terbayarkan ketika ia bisa membeli rice cooker, baju bagus buat kondangan, water dispenser merk Lion Star pada waktu itu sangat booming. Salut buat kerja kerasnya tanpa meminta pada ayah. Dan itupun menular padaku. Beroleh pengalaman dari seorang ibu yang tangguh luar biasa, sembari mengantor saya juga menerima pesanan lukisan. Semuanya semata-mata untuk meringankan beban suami. Jadi harus kerjasama, karena suami istri harus jadi teamwork demi masa depan yg cerah buat anak kelak. Dan saya bahagia dengan pengalaman ini. Saya bahagia mempunyai ibu yang luar biasa, saya bangga.


Luv yu mama, luv yu ayah, luv yu papi.
Special thank for mama, and Thank God, Lord.

#BahagiaItuMudah
#wanitacerdas #wanitakreatif #wanitakuat #wanitaindonesia#wanitaluarbiasa #wanitamerdeka #wanitatangguh #wanitainspirasi

  • view 42