Naskah Drama Sartika Syamsudin : Gadis Kerbau

Sartika Syamsudin
Karya Sartika Syamsudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Januari 2018
Naskah Drama Sartika Syamsudin : Gadis Kerbau

 

 GADIS KERBAU

(Pada siang itu, pukul 02 matahari begitu panas di desa Lamahala Jaya. situasi saat itu cukup ramai di depan rumah adat Lango bella Suku bella tell’o. semua masyarakat desa Lamahala Jaya berkumpul di depan rumah ada untuk menyaksikan pemotongan si gadis malang ini,,,orang kampung sering memanggilnya dengan sebutan kewa. Hati dan perasaan begitu tegang dan gelisah yang digambarkan pada wajah kewa. Tetapi dengan keberanian untuk mengorbankan dirinya pada panggilan adat dan tradisi membuat semua masyarakat menjadi bangga pada dirinya).

Kewa   :  Dimanakah kalian saudara-saudaraku.

                 (Gelisah terus membara di hati kewa, bertanya-tanya kepada dirinya kemana kedua        saudaranaya pergi sedangkan pemotongan mau berlangsung. Kotta getto, kotta getto, kotta getto semua sorakan itu terdengar keras pada semua masyarakat yang berada di desa Lamahala Jaya yang tadinya berada di rumah semua pada meranjak dari tempatnya masing-masing menuju ke rumah adat bella tello itu.. semua yang berkumpul di depan rumah, tidak terlihat oleh kewa pada kedua saudaranya itu. Tiba-tiba kedua saudaranya husen dan laga keluar dari kerumunan itu)..

Kewa     : Kemana saja kakak pergi? Dari tadi kewa mencari kakak bedua.

(raut wajah yang senang dan memberikan senyuman begitu lebar kepada kedua saudaranya)

 

Husein : Kakakmu ini dari tadi sudah berada di tempat ini, tetapi karena tidak bisa melihat adiknya yang mau disembelih dan dagingnya akan dibagikan kesemua masyarakat desa Lamahala Jaya kami berdua menyembunyikan diri dari adiiknya dan semua masyarakat yang berada di temapat ini.

(sambil memeluk kewa dengan erat-erat dan raut wajah yang sedih.)

Kewa : Biarpun Kewa akan di sebelih dan dagingnya akan dibagikan oleh semua masyarakat Kewa ikhlas asalkan kakak berjanji cukup kewa yang menjadi korban terakhir dari tradisi desa ini.

(Berkata sambil menatap wajar husen dan laga sambil berjanji dengan berpegangan tangan dengan kedua saudaranya. Husen dan Laga hanya bisa tersenyum untuk adik mereka, senyuman yang membawa hanya bisa membawa kesedihan nantinya. Husen kakak pertama hanya bisa melihat adik berduanya, dipikirannya kenapa harus adiknya yang harus dikorbankan bukan Husen atau Laga saja yang harus di sembelih Cuma karena pangilan adat dan tradisi desa Lamahala Jaya ini. banyak gadis yang harus dikorbankan kenapa harus adikku, ? Husen perlahan-lahan selalu memikirkan tetang hal itu.Tiba-tiba lonceng yang berada di di rumaha adat suku bella tello bunyi, semua masyarakat sudah berkumpul di depan rumah adat itu. Husen yang tadinya melamun dan berfikir tentang hal itu terbangun karena sentakan tangan kewa ke bahu Husen).

Kewa   : Apa yang kakak pikirkan ?

Husen  : Kakak hanya memikirkan selama ini kakak tidak berhasil sebagai kakak dan sampai detik ini kakak tidak bisa menjaga Kewa dari penyembelihan ini yang Cuma hanya pangilan adat ini.

Kewa : Ini semua bukan salah kakak ! kewa ikhlas kalau kewa disembelih dan dagingnya akan dibagikan kesemua masyarakat desa ini, bukankah ini adalah jalan yang terbaik untuk tradisi adat desa ini, dan kawa berharap gadis malang yang akan mengorbankan dirinya ini adalah peristiwa yang terahir pada didesa ini adalah Kewa.

(Kewa berjanji dengan penuh harapan di hadapan kakaknya, tetesan air mata begitu deras diwajah gadis malang itu. dengan bola mata yang bulat bagikan rembulan dimalam hari, dengan rasa yang kuat membuat dirinya menjadi tegar dihadapakan kedua kakaknya itu).

Husen : Kakak berjanji peristiwa ini terakhir di desa lamahala jaya ini. sebenarnya ini semua tidak akan terjadi, karena kita anak keturunan suku bella tello satu diantra kita harus dikorbankan untuk masyarakat dan itu harus perempuan bukan laki-laki. Itu semua tradisi yang sudah di bangun oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala. Kakak hanya berharap seperti kewa katakan bahwa perstiwa ini adalah terakhir.

 

(Husen dan Laga langsung merangkul kedua tangan kewa menuju rumah adat suku bella tello itu. semua peralatan sudah disediakan diatas batu yang nantinya akan disembelih leher kewa. Husen dan laga selalu memegang erat tangan adiknya seakan akan tidak mau berpisah dengan kewa).

Kewa : Cukup kakak memandang kewa jangan engaku mengelurkan air mata begitu banyak, Kewa tidak mau perpisahan ini menjadi beban pikian kakak berdua.

Laga : Kakak tidak bisa melihat adik kakak disembelih, sudah sekian lama kita bersama dan kenapa perpisahan ini begitu menyakitkan ? apakah ada seorang kakak yang mau melihat adiknya dicincang, disobek-sobek tubuhnya dan dibagikan begitu saja?

 

Kewa : Sudahlah kakak ! sekarang tidak ada yang bisa menghalangi lagi semua sudah di atur dan kita sebagai keturunan raja hanya bisa berdiam diri mengikuti perintah dari rumah adat suku bella tello.

 

(Ketiga bersaudara itu saling berpelukan untuk terakhir kalinya. Husen dan laga mengantar adiknya menuju batu ceper yang sering digunakan untuk acara pemotongan yang tadinya sudah disiapkan itu. tanpa husen dan laga melihatnya, kelewang yang panjang itu sudah mencincang daging kewa, daging kewa berhamburan di depan rumah, darah yang begitu kental tersemprot keluar dari mulut dan kepala kewa. Semua masyarakt begitu senang dengan daging tubuh kewa yang bersih dan berisi itu).

 

Laga : Kakak aku tidak bisa melihatnya,! air mata begitu deras dipipi Laga karena ia sendiri menyaksikan pemotongan itu.

 

(Tidak perpanajang kata husen langsung menarik laga pulang dari kerumunan itu. dirumah husen dan laga hanya bisa berdiam diri memikirkann kejadian itu. sorakan begitu ramai masih terdengan samapai dirumah, semua masyarakat pada senang dengan penyembelihan daging kewa.. Setelah beberapa minggu daging yang tadi dimakan oleh semua warga masyarakat desa lamahala jaya itu sadar akan kejadian yang selama ini berlangsung di desa mereka. Pengorbanan yang begitu ikhlas  memuat semua masyarakat menyadari akan tradisi yang selama ini dilakukan itu salah. Akhirnya semua masyarakat kembali berkumpul dirumah adat suku bella tello oleh kepala suku itu).

Sabon ( kepala suku ) : Semuanya sudah menyaksikan sendiri pemotongan yang terjadi pada dua minggu kemarin. Begitu besar pengorbanan kewa membuat kita semua menjadi sadar akan kejadian yang selama ini dilakukan oleh desa  ini. tradisi ini sudah lama dibagung oleh nenek boyang kita, jadi dari detik ini adat tradisi ini dihentikan tapi bukan selesai pemotongan terus berjalan tetapi penyembelihanya digantian dengan daging kerbau dan dengan satu syarat untuk ketiga suku selolong ,atapukan dan malakalu tidak boleh memakan daging kerbau itu kalau pun dari ketiga suku ini memakan sama halnya mereka memakan daging saudara atau anak perempuan mereka sendiri. Ini semua meruapakan tradisi yang sudah dibangun oleh nenek moyang kita dan kita tidak bisa memusnahakannya.

(Dari situ semua masyarakat menyadari bahwa pengorbanan seoorang gadis yang begitu tulus bisa merubah suatu tradisi yang selama ini di bangun dan dipelihara oleh nenek moyang yang berada di desa lamahala itu. Husen dan laga senang mendengarkan hal yang diutuskan oleh kepala suku itu. setiap hari apa yang husen dan laga lakukan selalu mengingat kewa. Karena yang mereka lakukan selalu dengan kewa. Sudah beberapa bulan husen dan laga tidak bisa bekerja sebagaimana yang dikerjakan sebelumnya. Apa yang mereka lakukan selalu saja ingat bayangan kewa. Dirumah itu ada banyak kenangan yang dilakukan bersama kewa. Sudah sekian lama mereka tidak bisa berkerja akhirnya husen dan laga memutuskan untuk pergi dari desa itu. dan tidak jauh dari desa lamhala husen dan laga akhirnya bisa hidup seperti biasa pada sebelumnya. Akhirnya harapan kewa yang begitu besar bisa diwujudkan juga , husen dan laga pun hidup gembira seperti sedia kalah meski masih ingat sosok seorang kewa itu).

 

 

  • view 88