Cerpen Sartika Syamsudin : Gadis Kerbau

Sartika Syamsudin
Karya Sartika Syamsudin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Desember 2017
Cerpen Sartika Syamsudin : Gadis Kerbau

Terik matahari membakar dengan ganas setiap sudut Adonara Timur Desa Lamahala Jaya. Meski panas matahari itu membakar dengan ganas, namun ada satu masalah  lagi yang membakar perasaan warga Desa Lamahala Jaya. Semua masyarakat yang berada di desa berkumpul di rumah adat Lango Bella Suku Bella Tel’lo yang letaknya berada di tengah Desa Lamahala Jaya.

Semua mata tertuju pada seorang gadis yang oleh orang kampung sering dipanggil  Kewa. Siang itu meski ia yang memutuskan untuk mengorbankan diri namun, air mata tetap berlinang di pipinya. Kewa tahu bahwa akan disembelih dan dagingnya akan dibagikan kepada semua masyarakat. Semua peralatan pemotongan sudah di siapkan, batu yang nantinya akan diletakan leher Kewa sudah dibersihkan oleh warga Desa Lamahala Jaya. Kewa merupakan gadis  ke tujuh dan gadis terahir yang rela berkorban demi panggilan adat budaya Desa Lamahala Jaya.

Kot’a getto, kot’a getto, kot’a getto,  suara begitu kencang terdengar oleh masyarakat membuat hati si gadis malang ini terus berdebar.  Detik-detik terakhir sebelum pemotongan kedua saudaranya belum muncul-muncul juga, yang membut hati Kewa khawatir saat itu saudaranya belum ada di hadapanya. Gelisah terus membara di hati Kewa.

Tidak lama kemudian, muncullah kedua saudaranya dari kerumunan itu.

“ Maafkan kami,’’ kata Husen  terburu-buru lari dari rumah sampai ke Lango Bella Suku Bel’a Tello itu.

“Dari tadi saya mencari kakak berdua. Ada ingin saya sampaikan sebelum saya dicincang, disobek-sobek, dan dibagikan kepada semua warga desa. Tidak boleh ada lagi perempuan yang harus dikorbankan seperti saya. Ini hanya tradisi, biarlah  saya mati menanggung semua tradisi ini. Cukup saya yang terakhir, kalaupun ada yang mau dikorbankan lagi dari desa ini, daging kerbau yang jadi pengganti danging perempuan yang rela berkorban demi tradisi, tapi dari ketiga suku Selolong, Atapukan, dan Malakalu tidak boleh makan daging kerbau itu karena daging kerbau itu sudah menggantikan saudari dan anak perempuan dari ketiga suku itu. Dan apabila ketiga suku itu makan daging kerbau semua rambut (bulu) yang berada ditubuh akan rontok dan tidak tumbuh lagi, ’’ucap Kewa dengan penuh kemantapan hati.

Dari ketiga suku itu, salah satu di antara mereka yang makan daging kerbau sama halnya mereka makan daging saudarinya sendiri. Semua perkataan Kewa selalu menghantui dan diingat terus sama Laga yang cuma berdiri melihat adiknya.

  “Saya sebagai kakak sulung saya hanya bisa menjaga adik sampai di sini. Saya juga gagal sebagai kakak sebab tidak dapat menentang budaya adat Desa Lamahala Jaya. Ini sudah tradisi yang dibangun sejak zaman nenek moyang kita,’’balas Husen penuh penyesalan.

v  

v  

v  

 

Malam itu sebelum upacara pemotongan berlangsung ia berkumpul dengan saudara-saudaranya di depan ruang tamu. Suasana malam itu sangat sunyi,  di antara mereka saling berpandang-pandangan.

“ Kewa, kenapa kamu memandang kami seperti itu! apa yang kamu pikirkan adik ?’’ kata Laga, kakak kedua Kewa.

“ Adik tidak berfikir apa-apa,  hanya memandang wajah kakak sebelum adik disembelih besok,’’ Kewa berkata sambil berdiri mendekati Laga,

“ Andai kata besok akan dipotong lehernya saya siap untuk dibagi-bagikan dagingku kepada semua masyarakat yang berada di Desa Lamahala Jaya itu tetapi jangan ada lagi yang mau dikorbankan oleh desa ini.’’Harapan terbesar Kewa merupakan janji yang terakhir  untuk kedua saudara-saudaranya . Pengorbanan begitu besar yang diberikan oleh Kewa kepada masyarakat Desa Lamhala Jaya.

Kata Kewa sambil memandang wajah Laga yang begitu terharu mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut mungil dan bibir yang begitu tipis dan giginya yang begitu rapih berjejer di depannya seperti tenangnya lautan yang dijejerkan kapal perahu yang begitu banyak dan berwarna terang.

Tak bisa menahan, air mata terus mengalir di pipih Laga setelah mendengarkan perkataan Kewa itu. Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Itu semua sudah jadi tradisi  budaya di Desa Lamahala Jaya. Hanya  karena panggilan adat dan suku kita harus mengorbankan seseorang yang seharusnya tidak boleh dikorbankan. Husen, kakak sulung dari Kewa dan Laga, hanya bisa merenung dan berdiam diri di depan pintu yang berada di ruangan tamu itu.

 

“ Kenapa bukan kami bangsa laki-laki saja yang harus di korbankan dalam tradisi itu. kenapa perempuan yang harus dikorbankan dan kenapa yang di korbankan itu adik kami Kewa? Padahal Kewa  adik perempuan satu-satunya kami sedangkan masih banyak gadis  diluar sana yang bisa disembelih dan dagingnya dibagikan ke semua masyarakat Desa Lamahala Jaya itu,’’ kata Husen dalam hati dengan raut wajah yang ganas. Dengan keganasan seperti harimau memakan mangsanya tiba-tiba berubah ketika Kewa memegang bahu Husen dengan tangan yang begitu halus dan lembut membangunkan Husen dari dunia hayalnya.

 

“ Apa yang kakak pikirkan? Besok adik akan disembelih, adik harap malam ini di antara kita tidak ada yang bersedih dan menangis.’’

 Mendengar perkataan adiknya, Hesen dan Laga berusah mengembalikan suasana menjadi riang dengan penuh canda tawa yang selalu di inginkan Kewa malam itu.  Tiba-tiba suasana yang tadinya menegangkan  berubah menjadi senang dan gembira biarpun ada rasa yang tertanam di batin mereka rasa sedih dan kehilangan.

 Kue dan teh sudah disiapkan di atas meja makan yang tadinya sengaja dibuat Kewa untuk saudara-saudaranya. Husen dan Laga begitu senang dan gembira  cuma  menyenangkan hati adiknya.

v  

v  

v  

 

 

Tepat pukul dua siang, suara gong terdengar semua masyarakat Lamahala Jaya,  itu bertanda upacara pemotongan segera dilaksanakan. Semua kepala suku baik dari suku Selolong, Atapukan, dan Malakalu hadir menempati  kursi paling depan pada rumah adat suku Bella Tel’lo. Husen dan Laga memegang erat tangan kiri dan kanan Kewa untuk diserahakan kepada kepala suku. Tubuh Kewa diletakan di atas batu besar berbentuk ceper seperti piring yang sering digunakan oleh desa tersebut untuk upacara pemotongan.

Dengan klewang panjang  tubuh Kewa sudah dicincang, setelah beberapa saat darah dan daging Kewa berhamburan di depan rumah adat itu.

Husen dan Laga hanya bisa melihat situasi yang begitu rame berkumpul untuk mendapatkan bagian dari daging tubuh saudaranya. Hanya  karena mereka keturunan raja, mereka harus mengorbankan saudara perempuannya untuk disembeli seperti itu. Memakan daging manusia terkhususnya daging seorang perempuan keturuan raja itu wajib dan akan menambah kekuatan untuk desa itu.

Tradisi masyarakat Desa Lamahala Jaya, kaum laki-laki merupakan penerus keturunan sedangkan kaum hawa tidak di anggap pada pada desa itu.  Berulang-ulang kali dilakukan upacara pemotongan itu dan dengan kejadian yang dirasakan oleh Husen dan Laga merupakan kejadian terakhir untuk Desa Lamahala Jaya itu.  sudah beberapa bulan selang pemotongan daging Kewa, upacara yang dilakukan tiap bulan tidak diperbolehkan lagi.

Daging Kewa merupakan daging manusia terakhir yang dimakan masyarakat Desa Lamahala Jaya itu.  Dengan dasar ikhlas pengorbanan Kewa untuk masyarakat biarpun saudara-saudaranya tidak merelakannya tapi itu merupakan tradisi budaya yang terakhir di desa itu. Rasa kesadaran itu muncul pada saat  semua masyarakat memakan daging Kewa.

Dengan kejadian yang disaksikan langsung oleh Husen dan Laga pada upacara pemotongan saudaranya. Tiap hari Husen hanya bisa berdiam diri solah-olah ia tidak berhasil dalam menjaga adiknya itu. Ia sebagai kakak pertama dari kedua adiknya itu merasa tidak berhasil dalam menjaga dan melindungi adik-adiknya. Tiap kali ia melakukan sesuatu yang sering dilakukan Kewa membuat Hesen merasa bahwa Kewa masih ada di sisi mereka.

 

Husen mengingat kembali, waktu Kewa berusia 8 tahun, Kewa tumbuh menjadi seorang anak gadis yang begitu bahagia. Karena Kewa anak bungsu, Kewa selalu dijaga oleh kedua saudaranya  Husen dan Laga.  Ia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik seperti ibunya. pada saat Kewa berusia 2 tahun kedua orang tuanya meninggal dan pada saat itulah Kewa dirawat oleh kedua saudaranya. Hari demi hari mereka lalu dengan canda tawa dan susah senang bersama.. Setiap kali Kewa memintah untuk dibelikan tidak pernah Husen dan Laga menolaknya biarpun dengan susah paya untuk mendaptkannya.

Air yang tadinya panas sudah dingin. Keinginan untuk membuat teh hilang, air mata terus mengalir seperti derasnya sungai tak henti-hentinya. Semua yang dilakukan dan dikerjakan Husen selalu mengingatkan akan kejadian pada waktu itu.

Husen dan Laga akhrinya memutusan untuk pergi dari Desa Lamahala Jaya. Banyak kenangan besama Kewa di desa itu yang  membuat mereka tidak bisa lupa akan kenangan bersama saudarinya. Mereka berdua memutuskan untuk pergi dari desa itu. Di desa baru itulah mereka berdua mulai kehidupan baru dan meninggalkan semua kenangan tentang Kewa.

 

 

 

 

  • view 170