Bukan Tangisan Senyap Pertamaku

Sarrah Febritama
Karya Sarrah Febritama Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Januari 2017
Bukan Tangisan Senyap Pertamaku

Ini bukan kali pertama aku memilih untuk meninggalkan dan ini bukan pula tangisan senyap pertamaku. 

Benar, ini bukan tangisan senyap pertamaku.... 

Sebagian besar orang mungkin berpikir bahwa ditolak dan ditinggalkan adalah hal paling menyakitkan. Aku gak menyalahkan pernyataan itu, karena aku juga pernah merasakan pahitnya ditinggalkan. 

Patah hati memang menyakitkan, tapi bagiku, menjadi alasan di balik patah hati orang lain rasanya lebih menyakitkan.

Lantas bisa apa aku ini kalau ternyata pada akhirnya meninggalkannya merupakan pilihan yang harus kupilih? 

Tentu saja mauku terus membahagiakan dia, dia, dan dia-dia yang lainnya tanpa melanggar aturan-Nya, tapi ternyata ada aturan yang memaksaku untuk sadar. 

Seseorang pernah bilang padaku, katanya kita gak selalu bisa menyenangkan semua orang dengan pilihan yang kita pilih. Benar. Kali ini, ada lagi yang terluka karena pilihan yang kupilih. 

Ini bukan kali pertama, entah keberapa kalinya, tapi selalu terasa sama: menyakitkan, menyesakkan, dihantui rasa bersalah. 

Aku paham, setiap tangisan senyapku selama ini gak mampu menyembuhkan hati yang terlanjur kulukai. Setulus-tulusnya permintaan maaf pun gak berarti apa-apa, tapi aku bisa apa selain terus-menerus meminta dimaafkan? 

Kepada hati yang terluka karenaku, semoga kau akan selalu bahagia meski tak harus denganku... 

 

3 Januari 2017, pukul 00.01 

  • view 78