Bui leling dan Sampering

Sardia Lau
Karya Sardia Lau Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Desember 2017
Bui leling dan Sampering

                                                                     Bui leling dan sam pering

                         Pada zaman dahulu, hiduplah dua orang wanita kakak beradik di sebuah gubuk bersama dengan seekor anjing   kesayangan mereka. kedua wanita tersebut bernama Bui Leling dan Sam Pering, mereka sehari-harinya bekerja sebagai petani.

     Ketika musim panas tiba, kedua kakak beradik ini mulai membersihkan ladang bersama dengan anjing kesayangan mereka. saat matahari mulai menyengat kulit,mereka berencana untuk istirahat sejenak sambil menikmati santapan siang di bawah pohon yang berada di tengah ladang. akibat terlalu banyak makan merekapun kehausan. Sang adik memberitahu ke pada sang kakak bahwa Persediaan air minum sudah habis, dan karena kelelahan setelah membersihkan ladang merekapun tidak sanggup untuk pulang lagi ke rumah untuk mengambil air, dan pada saat mereka sedang bersusah payah untuk mendapatkan air tiba-tiba datanglah anjing kesayangan mereka dengan tubuh yang basah kuyub. Setelah  mereka melihat anjing itu basah kuyub mereka mengambil sebuah bakul kecil dan melubangi bagian bawah bakul itu  mengisi abu tunggu untuk memberi jejak.mereka menggantung bakul itu di leher anjing tersebut dan mulai menyuruh anjing berjalan dan kedua kakak beradik ini mulai mengikuti langkah anjing kesayangan mereka dengan mengikuti jejak yang di tinggalkan anjing tersebut hingga kedalam hutan lebat.

      Di dalam hutan yang lebat itu kedua kakak beradik itu menemukan air yang sangat jernih di atas daun talas. Akibat terlalu kehausan,mereka langsung berebutan untuk mengambil air dan air itupun tumpah di atas tanah dan membentuk kolam kecil. Mereka menggali kolam itu hingga membentuk kolam yang cukup besar dengan air yang sangat jernih. Bui Leling dan Sam Pering meminum air tersebut hingga rasa haus merekapun hilang, setelah rasa haus mereka hilang bui leling mengajak sam pering untuk mandi di kolam tersebut hingga sore hari karena cuaca saat itu sangat panas.

    Bui Leling dan Sam Pering sangat terkejut tiba-tiba awan hitam menutupi daerah tersebut, guntur dan petir di mana-mana.karena sangat ketakutan kedua kakak beradik ini memutuskan untuk pulang ke rumah. Bui Leling dan Sam Pering kehujanan saat pulang ke rumah, ketika mereka tiba di kampung logog, orang-orang kampung sangat terkejut karena hanya mereka berdua saja yang kehujanan walaupun mereka berada di dalam rumah,  Bawah kolong tempat tidurpun mereka tetap kehujanan .

   Masyarakat  setempatpun  memutuskan untuk membawa Bui Leling dan Sam Pering ke rumah kepala suku logog. Sesampainya mereka di rumah tetua adat dan di tetua adatpun bertanya bagaimana ini bisa terjadi dan kedua kaka beradik ini menceritakan apa yang telah menimpa mereka. dan tetua adat dan masyarakat setempatpun memutuskan untuk membawah Bui Leling dan Sam Pering ke kolam tersebut untuk melaksanakan upacara adat sebagai permintaan  maaf. keesokan harinya mereka berdua dibawah ke kolam di mana mereka minum dan mandi  dan mulai melaksanakan upacara adat, ketika semua orang sedang serius melakukan upacara adat terdengar suara dari arah kampung logog   ”abang adwasing”  yang artinya kampung terbakar. ketika semua orang berbalik dan melihat kearah kampung  akan tetapi kampung mereka tidak terbakar sama sekali.  Dan setelah mereka melihat kembali ternyata Bui leling dan Sam Pering telah hilang bersama dengan air yang di kolam tersebut dan di sekitar kolam itu terdapat banyak kayu kecil, kayu besar, daun kemiri, dan buah kemiri. Mereka  sangat sedih  kehilangan Bui Leling dan Sam Pering,  mseluruh masyarakat dan tetua adatpun memutuskan untuk pulang namun sebelum meninggalkan tempat upacara  kepala suku logog mengambil salah satu kayu yang berada di kolam tersebut untuk di jadikan tongkat. Ketika sampai di rumah kayu tersebut di letakan di samping tempat tidur. Ketika tetua adat bagun ia melihat  kayu itu sudah berubah menjadi sebuah parang yang sangat bagus, mereka sangat menyesal, dan mereka baru menyadari bahwa benda yang berada di sekitar kolam tempat mereka melakukan upacara adat tersut  adalah belis(mas kawin) yang di berikan ke pada mereka. masyarakat dan tetua adatpun memutuskan untuk pergi ke kolam tersebut lagi namun sesampainya mereka di sana benda-benda tersebut sudah tidak ada lagi.

       Walaupun Bui Leling dan Sam Pering sudah tinggal di dunia lain akan tetapi mereka berdua masih berhubungan baik dengan masyarakat di kampung logog. Jika ada pesta perayaan  Bui Leling dan Sam Pering seringkali di undang bersama dengan keluarga mereka untuk sama-sama merayakan pesta tersebut. Suatu ketika mereka di undang untuk merayakan pesta hasil kebun yang di adakan di kampung logog. Saat itu  Bui Leling sudah memiliki seorang anak yang berumur tiga bulan, sedangkan Sam Pering belum memiliki anak . mereka datang ke pesta itu malam hari Bui Leling datang bersama suami dan anaknya.di saat masyarakat sedang merayakan pesta dengan menari tarian lego-lego, Bui Leling juga ingin sekali bergabung untuk menari lego-lego bersama masyarakar setempat, sehingga ia menidurkan anaknya di sebuah ayunan yang sedang tergantung di dalam sebuah kamar. sebelum ia keluar dari kamar dan meninggalkan anaknya dan memesan kepada seorang nenek yang berada di dalam kamar tersebut “bila anak ini menangis jangan sekali-kali kamu membuka kain penutupnya tetapi jika dia menagis cukup goyanglah ayunan ini maka dia akan berhenti menangis”. Setelah itu Bui Leling pun pergi untuk bergabung dalam tarian lego-lego. Tidak lama kemudian, anak itupun  menagis dan sang nenekpun pergi untuk mengoyang ayunan tersebut namun sang anak itu tetap saja menagis dan sang nenekpun membuka kain tersebut namun yang di lihat bukanlah anak manusia melainkan seekor ikan yang berada di dalam kain tersebut. Sang nenek sangat terkejut melihat ikan tersebut  sang nenekpun mengambil pisau dan mulai mencungkil mata ikan tersebut untuk di makan.

     Perasaan Bui L eling sangat gelisah sehingga ia pergi untuk menegok anaknya, ketika ia masuk kedalam kamar ia menayakan keadaan anaknya kepada sang nenek, namun sang nenek mengatakan bahwa tidak ada anak kecil dalam ayunan itu melainkan hanya ada seekor ikan dan ia telah mencungkil mata ikan tersebut untuk di makan. Bui leling sangat ketakutan, ia takut memberitahukan masalah ini kepada suaminya. Sehinnga ia hanya memberitahukan kepada  sesama mereka yang berasal dari kolam tersebut bahwa hari hampir pagi sehingga mereka harus cepat pulang.ia lalu  mengambil anak tersebut dan meminta kepada suaminya untuk berjalan paling belakang sehingga sampai ke kolam tersebut.iya menutup gerbang yang biasa di gunakan untuk keluar dan berhubungan dengan manusia dengan batu besar. Sesampainya di rumah ia memberitahu ke pada suaminya bahwa anak mereka telah mati karena matanya di cungkil oleh seorang nenek ketika ia sedang lego-lego. Suaminya sangat marah sehingga iya mengundang semua warga untuk menyerang kampung logog namun gerbang itu sudah di tertutup dan terjadilah banjir yang sangat besar sehingga terbentuklah sebuah sungai yang menuju ke pantai IRGIMIM  di TAMALABANG. Sampai sekarang ketika orang-orang pergi ke mata air tersebut dan menyebutkan kampung logog maka air akan membesar dan seolah-olah ingin menarik orang tersebut kedalamnya.

 

  • view 136