Liburan bersama Kopi

Ikhsanul  Huda
Karya Ikhsanul  Huda Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 18 April 2016
Liburan bersama Kopi

Tetesan embun membasahi segenap rerumputan di taman depan rumah, semerbak harum muncul dari pucuk bunga seulanga yang mulai mekar menguning warnanya. Pesona nya membuat taman itu tenang, damai, dan penuh cinta dirasa. Pepohonan sebelah barat rumah seperti mulai bernafas. Mobil & sepeda motor mulai berlalu lalang di jalan raya. Suara burung kacer mulai bersahutan di antara pepohonan dekat sawah. Merpati merpati gemuk itu mulai mengepakkan sayapnya turun ke area depan rumahku. Kehidupan rumah ku terasa lebih bergairah pagi itu.

Seorang perempuan berjilbab merah berpakaian daster membuka pintu yang terbuat dari besi seperti jeruji penjara. Dia adalah ibu ku. Ia bangun selalu lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Aroma masakan khas nya dan ceplokan telur sangat enak untuk dinikmati. Keahliannya dalam memasak tidak diragukan lagi, mulai memasak eungkot teupeuseum, ceplokan telur, kuah pliek, ikan sambalado, keumamah, hingga membuat bolu gulong pun sangat terampil. Apalagi bulan Ramadhan menyapa, segenap meja dapur dipenuhi dengan berbagai macam sayur mayur, buah buahan, ikan sure yang siap dipanggang, hingga buah mangga dari hasil pohon depan rumah. Aku berpikir betapa bangganya ayah ku menikahi ibu.

Dari arah timur rumah terlihat seorang lelaki memakai kaos hitam bercelana training merah sedang menghidupkan api mesin rosting kopi, ia adalah pekerja di Pabrik kopi ayah ku. Ayah ku sering memanggilnya Gilang. Gilang adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Tapi ia sudah ditinggal oleh ayah ibu nya sejak ia masih berumur 18 tahun.

Sesaat kemudian Ibu ku mengatakan kepadanya, “ Gilang, Pudep laju apui. Siat teuk ijak isan dibantu. Dengan sopan gilang menimpal, “ Jeut Buk. Ibu bertanya tanya dalam hati, apakah si isan sudah bangun dari tidurnya?. Kelihatannya Isan masih terlelap. Isan terkadang sangat susah bangun pagi. Namun terdengar suara pintu kamar tengah dibuka, itu aku yang masih mata tertutup tutup . Ibu ku langsung mengatakan, “ Ka sembahyang suboh aju kedeh, ka poh 6 lewat hare. Aku dengan perasaan malas menjawab, “ Jeut mak. Kemudian aku ke kamar mandi mengambil air wudhu,lalu aku menggelar sajadah dan bertakbir. Selesai shalat subuh dua rakaat, aku meninggalkan kamar ku menuju tempat Rosting kopi.

Liburan selama satu bulan tidak aku sia sia kan, aku disuruh ayah untuk menghadiri acara walimah di bandung. Perasaan suka senang muncul dari hati yang paling dalam. Berlalu liburan satu minggu di kota jakarta dan bandung akhirnya aku pulang ke kampung halaman. Selama liburan ku di kampung halaman, diriku hanya ingin membantu kedua orang tua meskipun kadang kadang dalam keadaan malas. Karena aku berpikir ini adalah kesempatan baik bagi ku belajar banyak dari pabrik Kopi indaco yang telah diwariskan turun temurun. ayah dan kakek ku orang yang paling semangat dalam bekerja dan mencari nafkah, pagi hari hingga pekat malam pun tidak pernah menunda orderan kopi yang diminta oleh langganan langganan yang tersebar di timur, barat, dan selatan aceh. Aku mengakui kakek & ayah ku adalah pekerja keras. Tapi semangat kerja keras tidak turun kepada ku. Tapi aku terus berharap bisa menjadi seperti ayah & kakek.

Dari balik pintu depan muncul seorang lelaki bersarung hijau berpakaian coklat yang tertatih tatih berjalan dengan tongkat. Itu adalah ayah ku yang dirawat di rumah sakit satu minggu lamanya. Ia memanggil ku untuk mengangkat kopi seberat 57 kg dengan trolly kopi. aku terus bergegas mengambil trolly dan merebahkan goni kopi tersebut. Dengan sedikit berat terus aku tolak trolly ke tempat rostingan kopi. Lalu aku memasukkan kopi sebanyak 6 kg ke tempat rostingan yang sudah dihidupkan api.

Merosting kopi merupakan hal yang sangat susah dilakukan bagi orang yang belum berpengalaman sedikit pun dalam merosting kopi dengan baik. Mulai dari menghidupkan api dengan sumbu api yang sedikit jauh dari tumpuan kita dan bagaimana melihat kopi yang sudah matang hingga cara mendinginkan kopi yang matang harus terampil agar kopi yang dihasilkan enak untuk dinikmati.

Bercampur senang, capek dan malas aku melakukan rostingan di sepanjang liburan ku di rumah. Aku senang karena bisa belajar tapi kadang kadang perasaan capek dan malas juga menguasai diri ku. Ini terus aku lakukan dari pagi hingga setengah petang. Terkadang kami bisa merosting kopi satu hari sebanyak dua goni besar. Tetapi kerja keras itu tidak sia sia. Kami bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah dalam sehari.

Wajah ayah dan ibu tampak berseri seri melihat ku yang sudah mulai terampil dalam memainkan seluk beluk mesin rosting kopi, memasukkan kopi dalam kemasan, mengikat goni dengan rapi, dan memaikan mesin Espresso yang lagi buming di caffee caffee. Perasaan senang pun muncul dari diri ku karena bisa langsung belajar di lapangan tanpa harus ada teori teori yang harus dihafal dan dipahami. Ini lah sekelumit cerita ku “liburan bersama kopi” .

 

  • view 153