Tuhan mau keduanya.

Husna Sarah
Karya Husna Sarah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
Tuhan mau keduanya.

20 Februari 2016

?

Hari ini, tepat satu bulan menjelang, dan aku merasa hilang. Dari peredaran masa yang menuntunku ke hari itu. Hari dimana angka 21 kan utuh menjadi predikat usia. Sama seperti makhluk bernafas lain, aku bermetamorfosa. Dari Farah yang ini ke Farah yang itu, dari Farah yang dulu menjadi Farah yang baru. Terus begitu. Tapi demi apakah perubahan terus dilancarkan? Keluarga, kekasih, sahabat, agama, negara atau bahkan dunia? Sebenarnya mana yang harus lebih dulu diperjuangkan?

Terakhir..

Apakah perubahan selalu menjanjikan kebaikan?

?

20 Maret 2014

Tak peduli dengan teman yang masih sibuk wara-wiri. Meski lemas di kaki, aku pergi ke kelas dengan berlari. Sampai di kelas. Kedua temanku telah bertempat di depan, siap untuk presentasikan hasil tugas. Tinggal aku.?Srabat, srubut,?srabat srubut?ambil pulpen, buku dan flashdisk. Sisa-sisa terigu perayaan ulang tahun masih meremah dibahu kanan dan kiri. Ah sudahlah, tidak peduli. Langsung saja buka forum diskusi di kelas.

Karena dosen meminta rata membagi kerja, maka kompak kami putuskan. Depta membuat makalah, mas Reno menjawab pertanyaan teman-teman di sesi tanya jawab, dan aku yang presentasi. Tampilan serupa berantakan. Materi??Whoa?materi? Aduh aku lupa,?blank?sudah semua yang aku pelajari. Selalu begitu. Selalu. Ahhhhh.

?Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.?

Teman-teman menjawab serempak.

?Oke teman-teman. Di malam hari ini, kami dari kelompok pertama akan mempresentasikan hasil diskusi kami yang berjudul Masalah Struktural Sumber Daya Manusia. Sebelumnya saya perkenalkan terlebih dahulu. Di kanan saya ini ada rekan saya bernama Depta, di sebelah kanannya lagi ada Mas Reno, dan saya sendiri Farah. Udah kenalkan sebenarnya? Hehe. Oke,?next.?

Meski penjelasan selalu ada di slide kedua, ketiga dan seterusnya. Namun slide pertama tentu jadi semacam?cover?yang dapat merepresentasikan keseluruhan isi materi. Maka dari itu di slide pertama sengaja kutempatkan gambar. Hanya beberapa gambar. Gambar pertama tertampil beberapa siswa yang sedang berdemo dan membawa spanduk bertuliskan ?Pendidikan mahal adalah bagian dari kekerasan negara.? Gambar kedua adalah gambar para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang sedang mengantri masuk entah kemana. Gambar ketiga atau yang terakhir ini merupakan gambar anak-anak penderita gizi buruk, terlihat dari mereka tinggal kulit membalut tulang di badan, lengkap dengan perut membusung dan wajah yang tirus. Belum, belum. Belum sempurna potret Indonesia hari ini. Kemudian slide bergeser. Teman yang ditunjuk sebagai operator begitu gesit tanggapi kata-kata?next-ku barusan. ?

?Bisa kita lihat di slide berikut ini bahwa pembangunan sumber daya manusia di Indonesia masih sangatlah minim. Terlihat pada indeks pembangunan manusia atau yang tertampil disana disebutkan HDI atau?Human Development Indeks?bahwa Indonesia menduduki peringkat 107 dari 177 negara dalam tingkat HDI-nya di dunia.?

?Sebelumnya, guna apa sih HDI itu? Seperti yang sudah disebutkan pula di dalam slide tersebut bahwa HDI digunakan untuk mengklasifikasikan negara-negara di dunia dan mengukur efektivitas program dan kebijakan pemerintah terhadap kualitas hidup penduduknya. Maksudnya mengklasifikasikan negara-negara itu gimana sih? Ya maksudnya adalah menggolongkan-golongkan tiap-tiap negara di dunia kedalam tingkat-tingkat atau kelas-kelas berdasarkan kualitas sumber daya manusianya. Juga mengukur itu tadi, efektivitas program pemerintah terhadap peningkatan kualitas hidup para penduduknya. Nah dari HDI itu, bisa disimpulkan bahwa Indonesia menduduki peringkat bawah dalam kualitas sumber dayanya. Jelas sudah bukan bagaimana kondisi sumber daya negara kita hari ini? Lebih jelasnya, kita lihat slide berikutnya.?Next.?

Tarik nafas, baru dimulai tapi nafasku sudah tak beraturan. Mencoba tetap se-pede?mungkin aku berdiri. Tetap pasang?manner?se-apik mungkin. Aku berlanjut. Meski ada yang tetap tak beraturan di hati.

?Di slide berikut ini ditampilkan grafik mengenai perkembangan sektor kesehatan nasional. Terlihat bahwa dari tahun ke tahun sejak 1960 hingga 2005, angka kematian anak dan angka kematian bayi, dari tahun ke tahun itu selalu mengalami peningkatan. Ini menandakan bahwa program-program pemerintah di tahun-tahun itu telah gagal untuk menaikkan atau setidaknya mempertahankan harapan hidup penduduknya. Slide ini semakin membuktikan betapa buruknya kualitas kesehatan sumber daya manusia Indonesia ini jika dilihat dari perspektif statiska seperti ini.?Next.?

Menelan ludah, mencari sisa-sisa wawasan di kepala. Sial, aku masih harus menjelaskan persoal data-data statistik tak berpengharapan ini. Hanya entah kenapa, jiwaku berenergi.

?Kemudian slide ini menjelaskan perbandingan usia harapan hidup di asia tenggara dan di asia timur. Bisa dilihat sendiri bagaimana posisi Indonesia disana. Terbawah kedua setelah hanya mengalahkan kamboja di asia tenggara. Dan terbawah pula di banding negara-negara asia timur.?Next.?

?Nah yang berikut ini tabel tentang tingkat komitmen nasional di bidang kesehatan. Juga bisa dilihat sendiri kan, gimana terbawahnya Indonesia bahkan hanya dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Jumlah dokter per 100.000 penduduk pada tahun 2004 aja cuma 13. Bayangkan gimana gak terbelakangnya Indonesia? Persentase alokasi dana APBN untuk bidang kesehatan di tahun 2003 pun cuma 1,1% temen-temen. Ya udahlah, miris lihatnya.?Next.?

?Grafik berikut ini juga masih sama, stagnasi penanganan malnutrisi anak-anak. Seperti yang kita lihat di?slide?ini maupun kita saksikan sendiri dalam realitanya. Penanganannya begitu lamban dan terkesan tidak diperhatikan. Pokoknya kondisi Indonesia, buruk, buruk deh.?Next. Ini di bidang pendidikannya nih. Juga masih sama, indeks pendidikannya menduduki posisi terbawah. Bahkan skor rata-ratanya E. Lihat, Malaysia A, Thailand A. India, seengganya C. Ini E? Astaga Indonesia.?

Tidak sadar aku justru bergumam sendiri. Tapi dengan suara sengaja diperkeras. Spontanitas keluarkan ekspresi tepuk jidat. Huhu. Teman-teman tertawa. Dosennya juga. Memang apa yang lucu ya?

?Sudah-sudah, simak lagi temannya yang sedang presentasi.?

Pak Dosen mengingatkan kelas ini untuk kembali kondusif. Akupun kembali presentasi.

?Masih soal pendidikan. Slide berikut ini menjelaskan tentang re-orientasi output pendidikan. Dalam APBN 2009, pemerintah mengalokasikan dana pendidikan mencapai 20% atau sebesar Rp207.4 triliun. Namun, distribusi diterapkan secara tidak merata pada sejumlah kalangan. Seperti yang kita lihat dan kita rasakan, banyak anak-anak negeri ini yang sungguh masih kesulitan hanya untuk bersekolah. Ini disebabkan oleh distribusi yang tidak merata itu tadi. Sehingga ambang defisit negara dinaikkan menjadi 1.9 persen. Ngerti??

Teman-teman serempak pula geleng-geleng. Gagal, Farah gagal.

?Sama saya juga gak ngerti. Hehe. Makanya yuk,?next. Nah gimana solusinya kalo udah begini? Defisit dimana-mana, indeks pembangunan manusia jauh dari kata rata-rata. Mau gimana? Yaa ini, gak ada jalan lain selain hutang luar negeri. Sipp. Oke.?Next.?

Terdengar riuh rendah tanggapan teman-teman. Aku hanya tersenyum.?Enjoy?menanggapi dengan angguk ringan. Inilah topik yang sedang panas untuk dibahas di ruang kelas akibat demam mata kuliah teori pembangunan.

??Belum lama ini kita sering membahas persoal utang luar negeri ya. Dari perspektif teori pembangunan, terkesan ini amatlah buruk. Emang, apa salahnya ya? Coba apa salahnya? Utang luar negeri nyatanya banyak membantu negara ini untuk memulai pembangunannya. Dimulai pada era orde baru ketika itu. Kalian tau repelita? Rencana pembangunan lima tahunnya Pak Harto, kalian tau kan?

?Tauuuuuuuuuuuu.? Serempak jawab dengan buntut yang dihiperbolakan.

?Nah karena udah tau jadi kalian aja yang ngasih tau saya. Karena saya sendiri gak tau. Hehe.?

?Huuuuuuuuuuuuuuu.?

?Ya pokoknya sejak saat itulah pintu arus utang luar negeri dibuka. Nyatanya gak buruk kok. Meski akhirnya rezim itu ditumbangkan oleh rakyatmya sendiri, bukan berarti program pembangunannya gagal toh??

Ada yang berancang-ancang ingin membantah, tapi sayang harus ditahan karena belum saatnya. Ada yang khidmat mengangguk-angguk, ini lebih banyak jumlahnya. Ada yang sedang rumpa-rumpi sambil tunjuk-tunjuk. Ada yang tangannya bergerak lincah paparkan argumen bersuara rendah dengan teman disebelahnya, yang entah apa. Aku, ya seperti ini, sibuk membaca pola reaksi mereka. Sedang dosenku, memperhatikan, mengorat-oret catatan, mungkin sedang menilai, ah tidak penting bagiku.

?Back to discussion please. Hehehe. Oke, tadi kita telah sepakat bahwa utang luar negeri telah berikan sumbangsih nyata pada pembangunan Indonesia ya. Jadi ya tunggu apa lagi, daripada susah-susah begini. Ya mending utang aja.?

?Oke, oke jangan ribut dulu. Gini deh biar adil. Kita liat dulu konsekuensi-konsekuensi logis yang mungkin terjadi atas utang luar negeri ini. Yang mungkin aja gak terlalu masalah untuk dihadapi. Yap,?next.?

?Nah ini dia konsekeuensi-konsekuensi yang bakal kita terima dari adanya giat utang luar negeri itu. Bisa dibaca kan. Oke tinggal pembahasannya. Nah, di poin pertama itu bunyinya adalah membuat negara tidak hanya ketergantungan secara ekonomi, tapi juga politik. Maksudnya gimana? Jadi gini, saat sebuah negara, sebut aja Indonesia melakukan pinjaman pada luar negeri, bisa pada lembaga, bisa juga pada negara. Maka, otomatis Indonesia terbantu dong perekonomiannya kayak yang awal saya jelasin. Uang dari utang-utang itu dipergunain untuk pembangunan contohnya, terus juga buat kesejahteraan masyarakat. Tapi apakah lembaga atau negara yang mau ngutangin itu semata-semata memberikan kredit sekadar ingin membantu? Hari gini, ngutangin 100 ribu aja bisa pake persetujuan ini itu, apalagi buat pembangunan kan??

?Lanjut di poin kedua. Beberapa studi membuktikan bahwa semakin besar utang suatu negara, semakin besar pula potensi korupsi dan penyalahgunaan dana utang tersebut. Gimana caranya? Kalian taulah jaman orde baru kayak gimana kan? Gini deh, karena pas jaman orde baru mungkin kita masih?orok,?atau masih balita sebutan kerennya, jadi gak ngerti deh tuh apa utang negara, ngertinya cuma uang mama dan papa. Haha gak lucu. Oke, karena itu kita bahas yang hari ini aja.?

?Langsung aja, tau gak kalo utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai 276.588 juta dollar? Wedeeh berapa tuh ya??

Bisik-bisik keras teman-teman terdengar gaduh hingga aku harus kembali membawa mereka menyimak lagi.?Whats? Tapi wajar jika kegaduhan ini hadir karena nominal angka utang yang (sepertinya) fantastis. Aku pun terperangah saat pertama kali melihat data ini dari salah satu terbitan poros statistik. Meskipun intonasi tetap harus se-enjoy?mungkin saat presentasi, tapi tetap saja, jeri rasanya.

?Nominal itu sama dengan kurang lebih 3.500 trilyun rupiah, kawan. Beuh, bisa buat beli teh racek berapa kontainer ya? Hehe. Pokonya itu utang kita dan beban pembayarannya ada pada kita. Pada wajah-wajah yang ada di hadapan saya semua ini nih. Kok bisa? Ya iya, mereka para pemimpin hari ini kan manusia juga, pasti wassalam toh nantinya? Yaudah, kitalah gantinya. Jadi mulai dari sekarang pada nabung masing-masing deh di celengan, tulis di depan celengannya: cicilan buat bayar utang negara. Gitu baru namanya cinta Indonseia. Haha. Korelasinya dengan korupsi atau penyalahgunaan apa? Kita tau bahwa elite negeri ini menjadikan uang sebagai Tuhan, sedangkan di tangan mereka-lah tampuk kekuasaan dipegang. Buktinya? Kembali lihat hari ini, utang luar negeri kita bejibun, sumber daya alam kaya, tapi pendapatan Negara? Kok deficit ya? Selain karena penyalahgunaan uang itu tadi, jebakan pembodohan utang luar negeri pun menjerat. Bak digerogoti lintah darat, begitulah Indonesia membuat giur banyak bangsa barat.?Next. Eh belum, bahas poin ketiga dulu.?

Riuh rendah tanggapan yang membahana selalu redup tepat saat aku berlanjut paparkan materi. Mungkin takut pada raut dingin dosen ekonomi kami yang siap menyikat gaduh jika saja suasana berubah ricuh.?

?Kalo ditulis disana bahwa pada setiap pemberian utang, negara-negara kreditor selalu mewajibkan Indonesia untuk membeli barang-barang dan penggunaan konsultan dari negara-negara kreditor, yang tarifnya relatif tinggi, saya akan jawab; itu bohong. Karena sampe hari ini saya gak tau tuh tarif konsultan itu berapa. Ada yang bisa kasih tau? Nah jadi makanya kita gak bisa?suudzon?ya. Hehe.?

?Tapi mungkin gini. Mungkin saya emang gak tau tarif konsultan itu berapa. Tapi yang dimaksud disini bukan sekadar konsultan, tapi juga harga pembelian barang dan mungkin tenaga profesional. Apa iya? Kok banyak gadget pintar bertebaran di Indonesia dengan harga rendah? Tenaga profesional, hmm lanjut slide berikutnya aja dulu yuk.?Next.?

Bagaimanapun caranya, jangan sampai presentasi kali ini membuat bosan dan monoton seperti presentasi-presentasi sebelumnya. Bagaimanapun, entah energi dari mana, kata bagaimanapun menjadi pemicu isi kepalaku bekerja lebih keras.

?Konsekuensi-konsekuensi berikutnya. Gak perlu dibahas per poin ya, saya langsung sebutin aja. Disana tertulis bahwa dengan giat utang luar negeri ini, dampaknya antara lain yang tersisa: Terampasnya kedaulatan dalam pengelolaan ekonomi Indonesia, kemudian negara-negara kreditor atau lembaga-lembaga kreditor seperti World Bank dan IMF itu akan mendesak pemerintah dalam perumusan setiap kebijakan ekonomi Indonesia untuk harus disesuaikan dengan keinginan mereka, keinginan negara dan lembaga kreditor tersebut. Adapula salah satu perjanjiannya adalah pelarangan pengelolaan blok-blok atau ladang-ladang minyak di Indonesia untuk dikelola negara, yakni haruslah dikelola pihak swasta asing seperti misalnya Exxon, Shell, dll.?

Entah memang ada cercah antusiasme di wajah-wajah dihadapanku ini, atau aku saja yang tertipu perhatian palsu mereka. Entahlah, jelasnya aku hanya ingin guratkan pemahaman. Bukan saja teruntuk mereka, tapi juga teruntuk aku sendiri.

?Terus? Kok bisa ngomong kayak gini? Emang ada buktinya? Gak usah jauh-jauh sih, inget konvensi WTO akhir 2013 kemarin di Bali? Tau salah satu keputusannya kan? Penghapusan subsidi secara total. Jadi, setiap individu-individu dari masyarakat, diwajibkan untuk bersaing. Gak perlu itu yang namanya subsidi lagi. Kita semua, dipersilakan untuk kaya masing-masing. Gitu, bagus toh? Menanamkan pola pikir mandiri. Revolusi mental bahasa kerennya.?

?Tapi sebelum?next, dan sebelum kita terkagum-kagum sama cara ini. Saya cuma mau ngajak kalian inget-inget sesuatu deh. Sesuatu yang didalamnya terlingkupi banyak hal. Apa itu? Realita. Untuk sementara, buang semua teori yang ada. Injak-injak semua data pasif statistik berupa angka. Tenggelamkan semua definisi. Mari ingat-ingat aja. Kita mahasiswa, kita mahasiswa ilmu pemerintahan. Tak asing lagi ditelinga kita label-label ini; freeport, newmont, exxon, shell, dan nama-nama keren lainnya. Kalian juga tentu tau apa yang mereka lakukan di negara kita. Yap, membangun industri pengolahan, berinvestasi, mengadakan kerjasama internasional, bla bla bla. Dan masih banyak lagi hal-hal baik yang mereka lakukan di negara ini sebagai topeng manis dari busuknya penjajahan.?

?Berlebihan ya? Tapi itu kenyataan. Sahabat-sahabat kita di Irian, gerah bukan kepalang. Mereka jadi budak di bumi kelahiran yang amat dicintainya itu. Karena kerjasama-kerjasama menggiurkan pemerintah dan para negara dewa atau sang adikuasa, generasi hari ini terpaksa harus lahir sebagai budak.?

Marah. Aku mulai marah. Diam, semua teman-teman berdiam. Seperti sedang menghadap hakim di muka pengadilan?Landraad, aku terbawa atmosfer pledoi Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat-nya ketika itu.

?Kita dilarang untuk mengolah sumber daya sendiri akibat ikatan kontrak utang luar negeri ini. Masyarakatnya di propagandai kebodohan setiap hari. Bahwa kita bangsa bodoh, bahwa kita bangsa malas, bahwa kita bangsa yang terbelakang, karenanya kita tidak pantas untuk berdiri sendiri. Elit-elit kita disuapi janji posisi dan materi. Anak-anak bangsa dijejali asupan liberalisasi dengan model gaya hidup dan tontonan yang menggerogoti moral. Setiap kebijakan yang lahir dalam bumi pertiwi ini, haruslah mintai restu dari para penguasa global. Pencabutan subsidi, harga pangan yang dengan lembut melonjak tinggi, merebaknya korupsi, remaja yang tidak kenal lagi hidup nyata karena ponsel pintar menjanjikan segala yang maya, pola pikir hedonis. Buruh upah rendah dengan waktu kerja mencapai 12 jam per hari. Apa semua ini kurang menjadi bukti bahwa penjajahan hari ini tampil dalam wujud seperti pembunuh berdarah dingin? Okelah terlalu banyak retorika,?next.?

Desas-desus suara kembali menjadi gema. Aku tidak pernah sadar arah bicaraku ini kemana. Masih nyambung atau tidak dengan pembahasannya, aku juga tidak tau. Aku hanya ingin berbagi masalah yang semoga dapat dipikirkan bersama.

?Kalo udah begini. Apa iya utang luar negeri menyelesaikan masalah? Tidak ada beda dengan renternir kampung. Utang luar negeri eksis dalam wujud raksasanya, dalam wujud elit, modern, dan berkelas. Bagai lintah di darat, Indonesia tinggal menunggu habis darahnya. Tumbang tak bersisa. Bergantilah nama NKRI menjadi NGI, Negara Gagal Indonesia.?

Sebetulnya cuap-cuapku ini belum sampai pada masalah inti, pada substansi. Karena seperti judul di depannya yaitu masalah struktural SDM (Sumber Daya Manusia), presentasi itu baru akan mensinkronisasikan pemaparannya sedari tadi dengan masalah struktural sumber daya manusia.

?Udah muter kemana-mana nyatanya kita belum sampe ke pembahasan intinya. Okelah, masalah intinya ya itu tadi, masalah struktural SDM. Apa yang dimaksud masalah struktural? Sebelumnya, apa korelasinya dengan pembahasan barusan? Jadi gini, sengaja di tampilkan diawal mengenai tindakan pemerintah mengenai penanganan masalah-masalah struktural, dan kondisinya secara global, secara statistik, lewat penjabaran angka-angka. Nah yang akan dijelaskan berikut ini adalah pengertian dan contoh nyata. Lanjut aja,?next.?

Slide?menampilkan sebuah kerangka bangunan di bagian bawahnya, bagian yang biasa disebut fondasi. Tertanam kuat dalam tanah, konstruksi sebuah fondasi tertampil rumit dalam desainnya.

?Bayangkan sebuah bangunan yang kokoh, megah, dan menjulang. Bangunan-bangunan di kampus kita ini misalnya. Dipoles sedemikian cantik atapnya, dipahat sedemikian menarik dinding-dindingnya, dipilihkan keramik termahal untuk lantainya. Tapi, semua tidak akan berguna. Tidak akan berguna jika fondasinya gak ditanam kuat. Dua tiga tahun, segala kemewahan itu mungkin saja amblas dan menjadi pemandangan sia-sia. Begitu pula dengan konsep sebuah negara. Bagaimanapun bagus rupa elitnya, begitu ternama para petingginya, terus menjulang pertumbuhan ekonominya, tapi jika sengsara kondisi rakyatnya, percuma semua. ?

Mulai khidmat lagi pada pembahasan, pikiranku terus mencari-cari kata yang tepat untuk korelasikan materi dengan kondisi Indonesia hari ini.

?Inilah hakikat masalah struktural. Masalah-masalah dasar sebuah negara. Fondasi penunjang berdirinya sebuah negara. Jika kembali lagi pada analogi, bagian fondasi memang tidak pernah-lah tampak, namun kehadirannya begitu berdampak. Penentu kokoh rapuhnya sebuah bangunan. Ini mengapa analogi ini dianggap tepat untuk menggambarkan konsep masalah struktural. Segala masalah yang berdampak langsung pada rakyatnya. Salah satunya ialah sumber daya manusia. Tonggak utama dalam sebuah pembangunan negara.?Next.?

?Lihat retorik-retorik di slide ini.?Judgement?yang terus mengungkung kita sehari-hari terkait masalah sumber daya manusia di Indonesia. Benerkan? Yap, bangsa tidak bermutu. Bangsa dengan manusia-manusia yang tidak profesional, bodoh, dan malas. Benar begitu kan anggapan kita selama ini? Anggapan atas alasan mengapa Indonesia tak bisa maju hingga hari ini. Anggapan atas alas an mengapa Indonesia masih jauh tertinggal hingga saat ini.?Next. Tapi bagaimana dengan ini??

Fokus slide yang satu ini sempurna terbagi empat atas hadir beberapa gambar. Gambar dikanan atas adalah foto Presiden Ketiga Republik ini, Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Foto itu menggurat ekspresi sang mantan Presiden yang sedang memegang miniatur pesawatnya. Pesawat buatannya, pesawat N250 yang gagal diproduksi Indonesia. Gambar disebelah kirinya adalah potret ibu-ibu di salah satu daerah di sudut Indonesia. Mereka adalah ibu-ibu pekerja kasar di daerah Parengan. Terlihat dari rekam gaya atas batu-batu terhampar dan ibu-ibu yang sedang memegang palu, mereka sedang memecah batu. Kemudian gambar di sebelah kanan bawah, lukis nyata para buruh yang sedang berdemo menuntut penghapusan sistem kerja?outsourching. Gambar yang terakhir, gambar disebelah kiri bawah. Gambar ini adalah rekam memori atas keberhasilan empat anak muda yang memegang medali emas atas giat olimpiade fisika di Amerika. Keempat gambar ini kuambil dari internet saja, dari proses menjelajah dunia maya. Lengkap dengan kisah dibalik masing-masing fotonya, kukira ini cocok untuk dibagi di kelas saat presentasi, begitu bunyi batinku saat menemukan foto-foto ini.

?Ya, bagaimana dengan ini? Bagaimana dengan bapak presiden kita yang ketiga ini? Apa beliau bisa dibilang tidak profesional, bodoh, dan malas? Apakah bisa? Sedangkan Jerman saja begitu tergiur dengan pemikirannya. Kemudian ibu-ibu pemecah batu dari desa Pareang ini, setiap hari, siang dan malam mereka sibuk pecahkan batu untuk penuhi kebutuhan sehari-hari dengan upah yang hanya 50ribu per minggu, dengan terlebih dulu memecah batu sejumlah 500kg. Apakah mudah memecah batu seperti itu? Bergulat pula dengan terjang arus sungai, memecahkan batu dari siang sampai malam dengan upah yang hanya segitu? Apa bisa ibu-ibu itu dikategorikan sebagai orang-orang malas? Apa bisa? Ini hanya salah satu potret. Terkadang tersaksi pula banyak kisah-kisah nyata semcam ini, di pemberitaan atau yang kita saksikan sendiri. Mereka malas??

Menelan ludah, kumpulkan sisa-sisa suara.

?Kemudian gambar para buruh ini. Kalian tidak tau kan rasanya jadi buruh itu kayak gimana? Saya juga gak tau rasanya menjadi mereka seperti apa. Berdemo untuk menuntut hak yang sudah seharusnya mereka dapat. Tapi saya pernah menjadi buruh. Berdiri dari 9 pagi sampai 10 malam. Cuap-cuap pada setiap yang lewat tawarkan barang jualan. Menjadi buruh marketing, SPG di salah satu pusat perbelanjaan terpadat di kota asal saya dulu. Waktu itu saya kerja sambil sekolah, ada beberapa hari yang terpaksa saya harus boloskan diri. Bersihkan toko, rapikan?display, layani cerewetnya?customer, lari-lari dari satu cabang ke cabang toko lain di beda lantai untuk temukan barang yang di mau. Belum lagi bereskan barang yang habis dicoba-coba oleh sang calon pembeli. Menghitung stock, menghitung penjualan. Salah sedikit ulang dari awal. Jika ada yang kurang, karyawan menombok patungan. Haha itu belum ditambah omelan dan sindiran. Dengan gaji 30ribu rupiah per hari. Bagi saya ketika itu, lumayan banyak. Bahkan malu saya akui kalau bagi saya ketika itu, nominal 30ribu adalah nominal gaji yang sangat banyak. Walaupun saya tau omzet per satu cabang toko itu mencapai angka ??15 juta per harinya.?

Tarik napas, ingat-ingat. Seperti terbawa ke lorong waktu, aku sampai pada situasi itu. Situasi dimana tidak ada pilihan lain selain, bekerja. Demi impian, segala apapun harus rela dikorbankan. Tenaga, waktu, mental, dan perasaan. Bahkan terkadang impian itu harus rela digadai, yang entah akan ditebus kapan dan dengan cara yang bagaimana, manusia luput dari kuasanya. Jalan menuju impian itu sendiri terkadang harus rela kita tinggali. Seperti memutuskan untuk bolos-bolosan sekolah ini. Merajam hati. Jalan menuju impian adalah sebuah pilihan yang sulit. Bagaimana lagi? Tak ubahnya seperti berjudi, bermimpi memiliki arti untuk mempertaruhkan segalanya di meja kehidupan. Hah, mengapa pula aku masih bersedih hati? Aku tidak melankolis, tapi aku hanya ingin menangis. Segera lanjutkan pembahasan, aku tidak ingin terlampau larut pada sesaknya batin dikelaluan.

?Yaa, untuk cerita ini saya hanya ingin katakan bahwa ada sangat banyak masyarakat kita yang hari ini masih harus bekerja 12jam per hari dengan upah yang tak seberapa. Kerja keras untuk memperkaya perusahaan, kerja keras untuk memperkaya bos-bos terkenal. Kita telah menjadi budak di tanah kita sendiri! Ini nyata, bukan sekadar jargon promosi elit politik yang hendak mencalonkan diri. Lantas masih pantaskah kita men-judge?saudara sebangsa dengan sebutan malas? Bukan dipikirkan nasibnya, kita para mahasiswa hanya bisa memberi stempel bodoh dan malas kepada saudara setanah air sendiri atas kegagalan pencapaian negeri. Ini mahasiswa??

??????????? ??Yaaahhh orang Indonesia-nya aja yang masih bego, males, beda sama bangsa-bangsa lain yang udah maju itu. Beda banget.? Jujur saya sakit hati setiap kali ada anak muda yang bilang kayak gini. Makanya saya gak mau denger kata-kata itu lagi apalagi dari mulut-mulut temen saya sendiri. Makanya saya sisipkan ini di slide presentasi. Yang kebetulan emang masih sejalan sama materi. Oke?next. Oh ya lupa lagi, ada satu gambar yang belum dibahas. Gambar yang berada di sebelah kiri bawah itu.?

??????????? ?Ini adalah gambar para anak muda, para siswa lebih tepatnya, yang menjuarai olimpiade fisika tingkat internasional. Sebenernya ini cuma contoh. Banyak banget kejuaraan yang udah dihasilkan anak-anak bangsa di tingkat kejuaraan dunia. Kayak Pak Habibie, selain penemu pesawat beliau juga adalah penemu dari Teori?Krack Progression. Tau gak itu apa? Cari makanya, nanti kasih tau saya karena saya juga gak tau itu teori apa, pokoknya kerenlah. Di film-nya ada tuh. Terus ada Ken K. Sutanto, beliau adalah profesor peraih gelar 4 doktor di Jepang. Kita, sarjana aja kayaknya susah banget ya, ini doktor bro, 4 gelar sekaligus. Terus lagi ada ibu Sri Mulyani, salah satu direktur Bank Dunia. Meski kita gak tau apa yang bisa beliau perjuangkan untuk Indonesia di lembaga renternir dunia itu, tapi jelasnya sumber daya manusia kita gak cacat kemampuan. Masih mau bukti? Oke.?

??????????? Tidak seperti diawal, kali ini ruang-ruang senyap dalam pikiran dan nuraniku begitu berenergi untuk mengabarkan pada teman-teman tentang kabar gembira bangsa ini. Bangsa yang selama ini dihujati saja, dipandang hina, bahkan oleh mereka yang menyebut diri sebagai anak yang lahir dari rahim ibu pertiwi. Meski aku mengerti, aku belum banyak belajar, aku belum banyak mengkaji. Ada banyak hal yang tidak aku tahu di dunia ini. Aku seperti hanya melihat lewat lensa potensi, tanpa sedikitpun peduli pada bingkai konsekuensi atau tantangan yang harus dihadapi. Aku tau itu. Tapi aku hanya rindu. Kerinduan yang bukan berasal dari putar memori akan kenangan masa lalu, melainkan dari cita-cita orang terdahulu akan masa depan negeri ini. Masa depan bangsa yang telah diperjuangkan lebih dulu dengan keringat, darah dan airmata.?

??????????? ?Berikutnya ada Khoirul Anwar, penemu teknologi 4G. Terus ada lagi Artina Pratiwi, penemu vaksin penghambat virus flu burung. Pamela Halomoan, kenal gak? Dia itu salah satu desainer internasional asal Indonesia. Terus ada yang suka film-film animasi dunia disini? Jangan salah, ngehina dunia perfilman tanah air, tapi nyatanya film-film animasi dunia itu dianimatori oleh animator-animator Indonesia. Siapa dia? Rini Sugiarto, dia itu animator film tin-tin, iron man, sama the hobbit. Ada juga Andre Surya, dia animator-nya film transformer. ?Mau apa lagi? Dian Sastrowardoyo, kenal kan? Dia itu?brand ambassador?L?Oreal Paris. Di dunia otomotif, ada Yudhistira dan M. Fadli, juara?asian cup of racing. Di bidang olahraga, ada Greysia Poli dan Nitya Krishinda, peraih emas bulutangkis di ASIAN Games 2014. Terus ITB yang juarai kompetisi robot di Kairo. Dan masih masih masih banyak lagi. Sekali lagi, ini cuma sampel. Raksasa Garuda kita telah mulai jentikkan jari-jarinya. Hanya tinggal membuka mata, bangun, dan mengaum garang pada dunia. Jadi, yang kemudian jadi pertanyaan terakhir ialah, masih pantaskah bangsa kita disebut bangsa yang malas dan bodoh??

??????????? ?Oke. Karena semesta ini berjalan dalam dinamisasi hukum dialektika. Maka selalu ada pertanyaan dibalik pertanyaan yang belum selesaikan jawaban. Selalu ada bantahan di muka perdebatan yang belum temukan sepakatan. Begitu dialektis, begitu dinamis, begitu kritis. Karenanya, tak cukup hanya katakan bahwa? Indonesia punyai modal sumber daya manusia yang berkualitas. Tak cukup hanya katakan kita bisa, kita mampu. Masih ada yang rancu. Tentang doktrin keuletan yang diajarkan bangsa-bangsa maju pada kita. Tentang doktrin kata rajin dan gigih dari setiap penguasa modal di negeri ini. Orang-orang kapital.?Next. Simak pernyataan berikut ini.?

??????????? Sebelumnya aku terlebih dulu mencari tahu tentang dilematika dari antonim kata rajin vs malas, pintar vs bodoh, dan kaya vs miskin. Dari definisi hingga banyak kisah inspirasi. Dari perjuangan hidup hingga capaian hasil mimpi. Ahh, ini menarik dan, terbalik.

??????????? ?Baca ini: Jadilah sedikit malas dan paksa diri anda untuk berpikir ?bagaimana segala sesuatu dapat berjalan tanpa saya.? Lagi ya, yang itu: ?orang-orang yang bebas uang & bebas waktu adalah orang? yang malas. Mereka bukanlah orang rajin bekerja seperti yang kita bayangkan.? Mereka begitu malas bekerja & hanya ingin bersenang-senang sepanjang hidup mereka. Sifat malas yang mereka miliki mendesak mereka untuk berpikir kreatif, membuat UANG BEKERJA UNTUK MEREKA!? Kebiasaan mereka untuk berpikir bagaimana segala sesuatunya dapat BERJALAN TANPA SAYA.??Nice.?

??????????? Sambil menunjuk-nunjuk layar, air mukaku berseri ingat-ingat si pengucap kata-kata ini. Bong Chandra. Siapa yang tak kenal beliau. Motivator termuda nomer 1 se-Asia. Wirausahawan sukses yang punyai banyak ladang uang di berbagai bidang. Akupun menemukan kata-kata ini dari bukunya sendiri,?Unlimited Wealth. Berapa profesi sudah? Motivator, entrepreneur, dan penulis. Semuanya ia jalankan secara total. Kenapa aku bisa berkata begini? Karena aku mengikuti segala giat tentangnya semenjak masih duduk di bangku putih abu-abu. Yap, dia idolaku. Begitu banyak inspirasi dan motivasi yang ia tularkan. Pernah aku bertemu dengannya, terlihat begitu ramah dan bersahaja. Genggam tangannya pasti dan penuh rasa percaya diri. Lebih dari itu, ia begitu menghargai. Bincang satu dua kata membuatkan simpulkan, beliau benar akan hebatnya. Tapi bukan itu poin yang ingin kubahas dalam presentasi ini. Melainkan suatu misteri dibalik makna kata rajin, pintar, dan kaya. Krisis pengertian yang terus melanda kita hingga sekarang.

??????????? ?Ini kata-kata dari seorang wirausahawan muda yang amat sukses. Bong Chandra. Gak peduli kalian kenal atau engga. Aku cuma mau bilang, kita terlalu lama memakan doktrin pembodohan. Sedari kecil kita terbiasa dicekoki nasehat. Rajin belajar, kerja keras, sekolah yang tinggi biar bisa jadi orang yang kaya, jadi orang sukses. Hah,?bullshit?semua itu. Kok bisa? Liat Bong Chandra, dia bahkan pernah dihujat gurunya bahwa isinya otaknya ini kosong. Baru masuki dunia perkuliahan pun ia di DO. Terus pada kenal Bob Sadino kan? Bahkan beliau ini mengutuk keberadaan sekolah tinggi sebagai sesuatu yang amat sia-sia. Mereka orang kaya. Tapi jika kategori pintar adalah mereka yang menghamba pada buku-buku pelajaran, maka bisa dipastikan bahwa orang-orang ini adalah tergolong orang bodoh. Tapi kenapa mereka kaya, ternama, dan bebas untuk melakukan apa saja??

??????????? ?Belum lagi kata-kata Bong Chandra yang tadi dikutip itu. ?Orang-orang yang bebas uang & bebas waktu adalah orang yang malas.? Ya, lihat banyak potret pengusaha. Mereka punya pulau pribadi, sibuk berjalan-jalan keluar masuk negeri, sedangkan uang mengalir sendiri ke kantong pribadi. Yang bekerja siapa? Pekerja kerah putih dan pekerja kerah biru, sama aja. Mereka semua adalah orang-orang yang diupah perusahaan untuk menjadi babu. Mereka bekerja untuk mengalirkan rupiah ke kantong-kantong majikannya. Pekerja kerah putih biasanya adalah orang-orang ?pintar? seperti kita, bias any disebut karyawan. Sedangkan pekerja kerah biru adalah pekerja proletar, kaum upah rendah, buruh.?

??????????? ?Pada intinya, dikotomi antara malas dan rajin itu tidak serta merta terarah otomatis kearah miskin dan kaya. Begitupun dengan bodoh dan pintar. Kita digeber untuk kerja keras, kerja keras, berharap tuai kekayaan. Kita digeber untuk 12 tahun bergulat pada matematika, bahasa, sejarah, dan lain semacamnya. Kita dipaksa untuk ikuti, bahkan boleh jadi diharuskan lanjut di perguruan tinggi. Ini bukan masalah teruntuk mereka yang berorientasi akademik. Tapi bagaimana dengan anak-anak dengan?passion oriented?yang lain? Belum lagi pengkotak-kotakkan seperti, golongan anak eksak adalah golongan anak pintar. Sedangkan sosial humaniora atau bisnis, dianggap lebih terbelakang. Padahal di kenyataan? Semua punya andil masing-masing dalam kemajuan. Tidak bisa diperbandingkan.?

??????????? ?Pada akhirnya, semua berporos pada satu hal, bukan rajin bukan pintar yang dikejar banyak orang. Bukan rajin bukan pintar yang menjadikan orang-orang ini maju dan menjadi orang menang. Tapi??

??????????? Terdengar ada yang menggumamkan kata tekad juang.?That so positively. Tapi jika bicara ekonomi, lain lagi.

??????????? ?Tapi, modal..?

??????????? Dan harus ada yang mengubah paradigma itu.

***

20 Februari 2016

Handphone mengerjap-ngerjap. Tanpa dering, mencipta hening. Tidak, biarkan saja nada tut tut tut di seberang sana menggapai-gapai sambungan. Sampai habis sabarnya menunggu ketidakjelasan. Aku tersenyum. Semakin mengembang, semakin terdesak bulir lakrima diujung mata, bersiap terjun bebas, basahi paras.

Aku tersenyum. Semakin mengembang, semakin tingkatkan daya putar memori ke tanggal itu, 20 Maret 2014, tertinggal satu tahun 11 bulan yang lalu.?Hari itu betul meriah. Bukan saja disebab oleh sahabat di kanan kiri yang sukses menghantar euforia peryaaan hari kelahiran. Namun karena longgarnya perasaan yang telah sukses deklarasikan impian. Sebetulnya bukan impian, lebih tepat jika dikatakan keresahan. Tentang negeri ini, tentang kondisi, tentang potensi, dan harapannya pada kami semua, generasi siap pakai yang menentu kelanjutan bangsanya. Halaahhh itu kemarin, bukan hari ini. Mudah betul terbolak-baliknya hati.

?Rah, maunya apa sih pemerintah hari ini? Apa-apa mahal, apa-apa rumit, apa-apa untuk kepentingan elite. Rah, dilihat dari realita hari ini, menurutmu Indonesia bisa maju??

Aku tersenyum tanggapi celoteh riang teman dekatku itu. Sebetulnya tidak sekali, banyak teman-teman lain yang beretorik seperti itu meski dengan redaksional yang berbeda. Aku tersenyum saja. Tidak ada gairah pikiran untuk tanggapinya. Lelah.

?Aku gak tau, yang jelas Indonesia punya masa depan kan??

Dan semua mendadak diam. Termasuk bibirku yang terbiasa menjadi wahana atas segala yang bergeliat di kepala. Termasuk jari jemariku yang terbiasa lincah guratkan keresahan-keresahan yang terekam oleh rasa menjadi kata. Termasuk langkah yang membelok arah.

Aku, memang masih mahasiswa. Tapi pikiranku sudah tak lagi berorientasi sebagaimana mereka yang memegang teguh ?idealisme mahasiswa?. Yap, agent of change, social control, iron stock dan bla bla bla yang katanya demi membawa perubahan bangsa dalam waktu kilat bagaimanapun caranya. Halaahh khas mimpi-mimpi utopis mahasiswa. Gencar deklarasi dimana-mana, tanpa peduli bahwa laku dan langkahnya persis sama dengan apa yang mereka hujat pada akhirnya. Prestasi, ambisi dan eksistensi, pada kenyataannya yang dikejar mahasiswa ya ini. Untuk dirinya sendiri. Meski tak dapat di generalisasi.

Namun bukan itu sebenarnya alasanku merapatkan mimpi. Mengurungnya dalam laci terkunci. Bukan.

?Tapi modal...?

?...dan kenyataan?

Sebetulnya malas betul menceritakan bagian ini. Bagian yang membuatku mengingat-ingat lagi persoal usia dan masa. Bagian tentang keluarga. Bagian yang tidak mungkin betul-betul bisa berpredikat sempurna. Namun yang aku tau tentang bagian itu hanyalah bahwa setiap keluarga harus diperjuangkan, lewat beraneka ragam jalan. Dan jelang 21 tahun ini aku masih mahasiswa, dengan embel-embel tak mengenakkan dibelakangnya, jalur beasiswa, yang bisa diartikan sendiri maksudnya. Masing-masing keluarga pun punya karakteristiknya. Karakteristik itulah yang menjadi tolak ukur tentang bagaimana memperjuangkannya. Dan diantara kesemua, hanya aku yang berkesempatan menyenyam pendidikan hingga jenjang sarjana. Aku bungsu, dan ?harapan adalah kamu?

?Farah, kamu kemana aja? Ditelpon kok gak diangkat-angkat??

?Masih di kantor tadi. Kenapa??

?Papa sakit. Darah tingginya kambuh.?

Berpikir tentang perubahan bangsa, atau bahkan sistem ekonomi politik dunia, tapi disana di salah satu kamar rumah itu terbaring ia yang selama ini menjadi salah satu bahan bakar pemikiranku untuk tetap menyala. Di kiri kanannya, seorang manusia lagi yang juga sudah berkeriput kulitnya kebingungan harus berbuat apa lagi setelah berpuluh tahun sibuk kerahkan upaya untuk anak-anaknya, kemudian kakak sulung dan kakak tengah. Mereka tersenyum. Juga dengan kerah daya luarbiasa di kelaluan. Hari ini kenyataan banyak berikan benturan.

?Gimana Rah magangnya??

Papa mengelus rambutku pelan. Mama seperti biasa, sikap sederhananya selalu mendahulukan kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.

?Kamu makan dulu, Rah.?

?Iya, ma. Oh ya pa, baik-baik kok pa Farah magangnya. Papa cepet sembuh. Harus itu.?

?Kamu ngurusin apa disana??

?Cuma mengkaji soal Freeport.?

?Wihhh keren, rah.? Kedua saudara serahimku itu serempak tanggapi.

Dalam hati, aku hanya mengkaji, dan sudah tak peduli dengan apa yang sejak dulu aku kritisi. Miris. Aku hanya berpikir persoal kecepatan lulus, bekerja, dan kaya. Sebab masa, tak pernah baik pada mereka yang kusebut cinta hanya dengan pemikiranku yang seolah bisa menjadi mukjizat bagi dunia. Pemikiran harus berbanding lurus dengan realita.

Lantas?

Tuhan menghukumku, giat magangku tak karu-karu.

Berantakan, justru berpotensi menghancurkan apa-apa yang telah kurancang.

Haha karena Tuhan tau, mimpi itu tak pernah benar-benar padam. Mimpi itu hanya tersimpan, untuk suatu hari kembali digenggam.

Sebenarnya mana yang harus lebih dulu diperjuangkan?

Dunia, dan dunia terdekatmu adalah keluarga. Namun tidak berarti, mimpi-mimpimu sekaliber lingkup negara harus mati. Ini hanya persoal waktu, dan tunggu menunggu. Karna ternyata, bermimpi bukan berarti pergi dari yang nyata. Mimpi adalah menggenggam erat nilai-nilai yang hendak kau gapai.

??????????? Wahai Tuhan, demi mimpi-mimpiku, aku mencintai keluarga itu. Keluargaku.

  • view 263