Meningkatkan Tradisi Islam di Nusantara

Sarah Alifia
Karya Sarah Alifia Kategori Agama
dipublikasikan 05 Juni 2017
Meningkatkan Tradisi Islam di Nusantara

Zaman sekarang di era globalisasi semakin pesat perkembangan  ilmu pengetahuan dan teknologi semakin perlunya meningkatkan iman islam kita, juga semakin perlunya menghayati Islam Nusantara agar menjaga dari kemerosotan moral, budaya dan akhlak yang dapat menghilangkan karakter diri kita sebagai muslim Indonesia yang baik, yang toleransi dan menjaga nilai-nilai keislaman.

          Istilah Islam Nusantara ini hadir agar kita tercegah dari hal-hal yang disebutkan diatas. Islam Nusantara yaitu islam yang menghormati seni budaya dan tradisi serta menghormati kearifan lokal, selama tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat islam dan tetap menjunjung Bhineka Tunggal Ika.

          “Kita punya Islam Nusantara, Islam yang menjaga budaya, kearifan lokal, punya karakter, jati diri, islam yang menghormati ukhuwan wathaniyah dan insaniyyah.” Kata KH. Said Aqil Siraj saat menyampaikan sambutan pada Kongres ke-3 Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Rabu (3/5).

          Dizaman ini juga, sebagian kelompok umat islam ada yang menolak bahkan mengharamkan tradisi, ada juga yang menerima bahkan menjadi kegiatan rutinan. Mereka yang mengharamkan beralasan karena pada zaman Rosulullah SAW tidak pernah diajarkan, dan yang memblehkan didasari bahwa semuanya adalah sarana dakwah. Dengan perbedaan ini, kita sebagai generasi islam harus mensikapi secara bijaksana dan penuh toleransi.

          Para ulama dan wali pada zaman dahulu bukanlah orang awam yang tidak tahu hukum agama. Mereka mampu menerjemahkan pesan islam kedalam tradisi dan seni budaya yang ada pada masyarakat, mereka juga memadupadankan dengan tradisi dan seni budaya masyarakat, secara perlahan meraka menyebarkan agama Allah.

          Seperti tradisi Talqin dan Tahlil, hal ini bertujuan untuk mendoakan agar arwah yang meninggalkan dunia selamat dan diterima di sisi-Nya. Juga menyelenggarakan selametan pada waktu tertentu seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari sampai 1000 hari. Yang didalamnya yaitu membaca ayat-ayat al-qur’an, berdzikir kepada Allah SWT dan bersedekah. Maksud dan tujuannya adalah menghibur keluarga dan mendo’akan mayit. Kenapa seperti itu? Karena kewaiban kita salah satunya yaitu mendoakan saudara, bukan hanya yang masih hidup saja tetapi yang sudah meninggal juga.

          Jika tradisi ini dikatakan bid’ah karena tidak ada dizaman Rosulullah SAW, maka ini adalah bid’ah hasanah karna tidak ada keburukan didalamnya.Tradisi lokal juga ada yang baik ada juga yang buruk. Tradisi yang baik kita pelihara sehingga menjadi warisan budaya nasional, dan tradisi yang buruk kita buang agar tidak ditiru oleh generasi berikutnya. Karena seni yang baik mengandung keindahaan.

          Memang setiap orang atau kelompok berbeda presepsi, pola pikir, dan cara pandang, tetapi perbedaan adalah sunatullah. Oleh karna itu dengan Bhineka Tunggal Ika, kita sebagai warga NU yang baik tidak boleh mencaci maki siapapun yang berbeda. Tidak boleh mencaci perbedaan budaya, tradisi, bahasa bahkan tidak boleh mencaci perbedaan agama. Dan perlu kita ketahui seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan islam banyak memiliki manfaat terhadap penyebaran agama islam. Kita sebagai generasi islam harus mampu mengapresiasikandiri terhadap tradisi dan budaya tersebut dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati dan menghargai hasil karya para pendahulu.[]

 

Sarah Alifia

PK Al-Ittihad Cianjur

  • view 47