Takdir Sampai Bahagia

Sarah Alifia
Karya Sarah Alifia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2017
Takdir Sampai Bahagia

            Kulangkahkan kaki menuju tempat meraih asa. Tak jauh, hanya dua kali naik angkutan umum. Kurang lebih hanya membutuhkan waktu 30 menit jika tidak terhambat macet, karna melewati alur kota. Tidak hanya sekali duakali, kemacetan hampir setiap hari adanya. Hingga membutuhkan duakali lipat waktu biasanya. Harus bagaimana lagi? Tak ada jalan lain. Huh aku pasrah, tapi aku tak boleh kalah dengan keluhan!

            “Pa, bu, ka.. sedikit ka buat makan, belum makan dari kemarin......” Dua orang pengemis hentikan lamunanku dengan lirih suara yang bergetar, badan yang kurus kerontang, serta rambut pirang kepanasan yang tak pernah disentuh sisir –sepertinya-. Kenakan pakaian yang sama sekali tak layak untuk dipakai. Malang sekali nasib mereka. Akhirnya kusisihkan uang jajanku agar mereka dapatkan makan walau sesuap nasi. Tak lama pemngemis itu pergi dan kualihkan pandangankun keluar kaca. Baru kusadar, bukan satu dua orang bahkan banyak sekali, bukan sekali duakali bahkan setiap waktu mereka seperti ini. Tak layak seorang anak yang seharusnya mengayom pendidikan cukup, mereka mencari sepeser uang demi dirinya dan keluarganya. Berbeda dengan orang-orang diluar sana banyak membuang nasi juga makanan lainnya bahkan mengahmbur-hamburkan uang demi untuk kesenangan nafsu belaka. Jangankan sekolah, isi perut hari ini pun mereka tak tahu. Karena butuh pengorbanan yang amat susah untuk mendapatkan itu.

 

            Sesampaiku dibangku sekolah. Aku lupa, hari ini ada rapat panitia pentas seni hari jadi sekolah. Karna hari ini hari sabtu, tanpa pikir panjang aku langsung bergegas ke ruang rapat.

            “Assalamu’alaikum.... Maaf saya telat, barusan macet di..”.  Belum ku akhiri penjelasan, mereka menyuruhku duduk. Aku tak sadar ini pukul 09:00, aku telat sekali. Ini berada dipertengahan rapat. Huh, semoga mereka maafkan salahku. Aku menggerutu dalam hati.

            “Pentas seni berlangsung satu minggu lagi, semua biaya akan cair lusa dari sekolah. Panitia silahkan jalankan tugas-tugasnya semaksimal mungkin, kordinir peserta-peserta yang akan tampil. Ini hajat kita, mari sukseskan bersama. Apakah ada masukan, kritik/saran?”. Tutur pembina osis yang ramahnya lelehkan semua siswa.

            Hatiku tergerak, ingat kejadian tadi pagi dijalan. Tentang si pengemis malang cari uang demi kenyangnya perut yang menjalang. Aku tak mampu jika harus membantu seorang diri. Aku ingin ajukan saran untuk ini, tapi aku ragu takut mereka tak hiraukan aku. Tapi ini demi mereka, aku harus maju. Aku acungkan tangan

            “Ya silahkan maryam”. Aku dipersilahkan bicara, dengan senang hati, aku tuturkan. “Begini ibu, bapa dan teman sekalian. Saya prihatin sekali kepada pengemis-pengemis jalan yang tak pernah berhenti mengemis juga pemulung. Jangan tanyakan pendidikan, makan pun tidak tahu. Di usianya yang sama sekali belum besar, mereka lakukan apapun demi untuk sesuap nasi. Betapa senang anak-anak malang itu jika kita bantu, walau sedikit setidaknya mereka bahagia.”

            “Bagus tuh, Maryam. Ide yang bagus, tapi bagaimana caranya?” Tanya dewi, teman baikku.

            “Caraya dengan mengadakan stand bakti sosial bertema “Kita senang peduli sesama”. Saat pentas seni nanti orang-orang yang mengadiri acara ini, bisa menyisihkan sedikit atupun banyak dari sebagian uang, barang, atau makana mereka. Yakin deh, mereka tertarik dengan ini, dan akan mendapat banyak sumbangan.” Jelasku.

            “Saya setuju Maryam. Mereka pasti sisihkan uang, berapa pun itu. Apalagi jika semua orang turut membantu, insyaallah berkahnya menyebar” Ucap Kepala Sekolah merespon saranku baik. “Amin” lirih peserta rapat.

            Rapat pun selesai tanpa halangan. Begitu juga hatiku, kejanggalan yang sudah terhapuskan. Aku senang sekali, tak sabar melihat senyum cerah mereka, anak-anak malang.

“Maryaaaammmmmmm, kamu memang cerdassss. Dari kapan kamu punya ide kaya gini?” Tanya dewi temuiku di gerbang sekolah. “Biasa saja, entahlah. Aku tersentuh tadi pagi melihat mereka. Yaaaaaa apa salahnya kan kita bantu mereka” kataku riang. “Iya,iyaa. Pokonya kita sukseskan ini. TOP BGT deh Maryam”

Tawa riang aku dan Dewi hiasi siang ini, juga kebahagiaan atas diterimanya usulku. Indah dunia jika dilatari tolong menolong. Pikirku.

Satu minggu kemudian.

Pentas seni berlangsung ramai lancar, penampilan-penampilan luar biasa ditampilkan siswa-siswi berbakat. Tamu undangan, guru-guru, keluarga, kerabat, serta anak-anak berlalu lalang penuhi seluruh halaman SMA 500 Bandung. Stand-stand siswa-siswi laris hingga habis tak tersisa, semuanya untung banyak. Begitupun kita, tim bakti sosia yang mengumpulkan dana dan sumbangan menapat respon baik dari semua orang.

“Akhirnya perayaan hari jadi sekoalh kita beres juga. Sukses! Semua berjalan lancar.Terimakasih seluruh panitia juga sisw-siswi yang telh berpartisipasi, semoga segala kebaikan dibalas oleh Sang Maha Kuasa, amin” Kata Pembina Osis.

Semua orang bahagia atas kelancaran acara. Kita tim bakti sosial merasakan bahagia lebih, karena sumbangan yang tak sedikit akan segera diberikan pada mereka yang membutuhkan. “Pokonya seneng bangeeet, kita harus cepet-cepet ngasih kebahagiaan ini pada mereka teman. Takdir siapa tau kan.” Ungkapku. “Iya Maryam. sabar dulu lah, kita kan baru saja beres. Istirahat dulu lah sebentar yaa.” Keluh Anwar yang terlihat sangat lelah sekali. “Tapi aku udah ga sabar, ketemu mereka, iya kan Dew?” “Iya bener Maryam, gimana kalo besok kita beli makanan banyak buat mereka, jadiin bingkisan gitu. Eh nasinya jangan lupa pesenin buat sorenya kita makan bareng disana, setuju ga?” Ungkap Dewi arahkan. “Iya setuju” Kompak tim baksos.Bahagia ini hapuskan segala lelah di hari ini, aku tak sabar melihat senyum bahkan tawa riang mereka. Ya Allah semoga ini menjadi tabunganku kelak. Do’aku dalam hati.

Tepat 21:00, setelah semuanya rapih dan bersih seperti semula. Akhirnya aku bisa pulang, aku bersyukur angkutan umum masih tersisa satu setelah tak lama menunggu. Tubuhku yang baik-baik saja tiba-tiba remuk, kepalaku berat seperti tertimpa batu, penglihatanpun mejadi remang, dunia terasa sempit. Sakit ini terasa dibawah ubun-ubunku, ternyata saat ku cari dimana pusat sakit ini, kutemukan benjolan yang saat ditekan sakitnya tak tertandingi. Benjolan ini kembali sakit, tapi kali ini sakitnya luar biasa. Tak seperti biasanya. Ya Allah ada apa ini? Aku tak tau, aku tak berhenti mengucapkan takbir. Allahuakbar allahuakbar allahuakbar. Aku turun dari angkot, tepat didepan rumah. Lunglai aku gontai, kaki bergetar hebat, tumpuan ini lemah tak kuat menahan. Menapak pun aku tak merasa, tak satupun suara terdengar, hingga penglihatanku gelap. Sesak. Aku tak kuat menahan runtuhan. Maryam tak sadarkan diri.

            Keesokan harinya, kegiatan baksos ditunda. Maryam masuk rumah yang didalamnya orang-orang sakit, ya! Rumah Sakit.

            “Dok, anak saya kenapa dok? Dokter bisa menolongnya?” Isak ibu Maryam.”Maaf ibu, bapa. Kami sudah semaksimal mungkin menyelamatkan putri bapa, tapi Allah yang berkehendak lain, Maryam tak terselamatkan. Selama 24 Jam ia tak sadar bukann waktu yang sebentar. Anak ibu mengidap penyakit kelenjar getah bening di bawah ubun-ubunnya, penyakit ini sudah menjalar dan membesar, apakah sebelumnya sudah pernah chek-up?”

Ibu Maryam kaget bukan main, isaknya semakin keras. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, Apa dok? Kelenjar getah bening? Dari kapan ia mengidap penyakit itu? Saya tak penah tau Maryam mengidap penyakit ini, ia tidak pernah cerita sama sekali”

            “Ya Allah, kemarin kau ambil Ali kakanya Maryam, dan kali ini kau ambil Maryam, satu-satunya anak kami. Ini kehendakMu ya Allah, kita semua tak bisa menolak, semoga mereka tenang dialam sana.” Lirih ayah Maryam meneteskan air matanya sembari menutup wajah Maryam tersenyum. Ayah Maryam sangat tegar, ia menguatkan ibunya yang beum bisa menerima kepergiannya.

            Berita kepergian Maryam tersebar luas. Semua orang tak menyangka Maryam pergi secepat ini. Keluar masuk orang berdatangan melayad Maryam. Sosok seseorang yang sangat baik, ramah, peduli juga penyayang tak mungkin tak terkenang. Dewi, teman dekat Maryam pun tak tahu atas penyakit yang selama ini diidapnya, ia merasa sangat kehilangan sosok seorang Maryam.

            “Pokonya, bakti sosial sumbangan peduli sesama harus terlaksana! Ini permintaan terakhir Maryam. Maryam bahagia melihat mereka bahagia. Bukan hanya itu, ini emang bermanfaat sekali untuk kita semua, semoga Allah mebalas lebih ini semua. Amin. Jangan ditunda-tunda, ayo!!!” Tegas Dewi terharu

            “Iya dew, benar kata Maryam waktu itu “takdir tidak ada yang tau”. Dia pergi di usia muda, mendahului kita, semoga ia tenang dialam sana” Tutur Anwar dan teman-temannya tak kalah sedih

            “Takdir, bicara takdir takan ada habisnya. Takdir telah ditentukan oleh Allah SWT, takkan ada yang bisa merubahnya. Segala ketentuan sudah tertulis dilauhul mahfudz. Tak ada yang tau. Bisa jadi, jika takdir hari ini aku mati, aku tak bisa ingkari” Tutur Dewi

            “Emang iya seperti itu, tapi berhusnudzonlah kita kepada Sang Maha Tinggi” Jawab Anwar

    Keesokan harinya, mereka pergi ke tempat dimana anak-anak malang itu menjadi senang atas kedatangan mereka. Ya, mereka tim baksos sekolah Maryam. Mereka menyampaikan kebahagiaan. Mereka ceritakan Maryam hingga anak-anak terharu mendengarnya. Makanan, uang, permainan, dan pelajaran yang disatukan menjadi kebahagiaan timbaksos dan relawan sampaikan dengan hati yang tulus. Tak sering mereka seperti ini, bahkan baru kali ini. Mereka berhasil membuat anak-anak bahagia. Seperti yang disampaikan oleh Maryam, anak-anak bahagia tak terhingga. Seorang Maryam yang tiggalkan jejak indah dihati semua orang. Kegiatan bakti sosial ini menjadi kegiatan rutina setiap 3 bulan sekali di sekolahnya, bukankah mulia? Hanya satu, yang mengganjal. Tanpa Maryam. Tapi manusia mana yang bisa memaksakan takdir? Jika Allah sudah berkehendak, siapa yang mau menolak?  Mari kita sama-sama berbuat kebaikan, jangan ditunda-tunda. Mari bagikan kebahagiaan pada yang membutuhkan.