Perasaan, Badai, Harapan

Sara Loko
Karya Sara Loko Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Agustus 2017
Perasaan, Badai, Harapan

Jadi, kurasa aku telah menemukan seseorang yang baik menurut versiku. Setidaknya lebih baik dari versi-versi yang kukira sebelumnya. Walaupun tetap saja aku tidak tau apakah itu juga baik menurut Allah. Dia adalah teman lama, walaupun kita tak pernah benar-benar ketemu sebelumnya. Tapi dia selalu membuatku merasa lebih baik. Entah saat aku sedang galau dengan pikiranku ataupun hatiku. Entahlah.. aku tidak tahu apakah ini ephemera atau lainnya.

Kita pernah lost contact untuk waktu yang lumayan lama sebelum nyambung lagi. Dan kita masih tetap berteman baik ternyata. Setiap jengkal obrolan yang kita lakukan berdua selalu saja bermakna. Selalu menyenangkan. Itu bukanlah sejenis percakapan yang membahas tentang aku dan dia. tapi sejenis percakapan yang membuat segala hal menjadi lebih bermakna. Seperti pembicaraan tentang ikan hiu di laut mungkin. Atau tentang bunga dandelion yang tertiup angin, tentang kepak sayap burung yang kebetulan lewat, tentang angin yang semilir membelai kulit, tantang barisan semut yang mengular rapi, tentang awan, langit biru, pepohanan, atau film-film petualang, tentang bumi datar, tentang sistem pendidikan, bahkan tentang iblis yang menggugat Tuhan, sampai makhluk alien di sisi lain galaxi yang bahkan diluar imajinasi kita., dan dari semua bahan pembicaraan itu kau tau, dia selalu bisa menuntunku untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja sudut pandang  yang lebih baik.

Sudah beberapa hari ini, kami mengobrol secara langsung. Maksudku via telp. Dan aku menyukai cara dia mengucapkan setiap katanya dengan suara seraknya yang lembut. Aku suka cara dia tertawa yang menyejukkan hati. Aku suka dengan logatnya yang terdengan pas ditelingaku. Ah. Kurasa aku telah kehilangan akal sehatku.

Tidak tidak. Sebenarnya kau tau apa yang lebih tidak masuk akal lagi? Kurasa aku jatuh cinta dengannya. Bukan karna fisiknya ataupun gelarnya, tapi aku jatuh cinta dengan cara dia melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya yang menjadikan apa-apa menjadi lebih bermakna, aku jatuh cinta dengan cara dia berbicara padaku saat membicarakan banyak hal, aku jatuh cinta dengan caranya mengajariku memaknai sesuatu yang membuatku menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Aku jatuh cinta dengan caranya peduli terhadap sesama, dan bagaimana ia melakukan apapun yang dia sukai. Aku jatuh cinta dengan sesuatu yang ada pada diri dia yang lebih dari sekedar fisik. Ya. Aku jatuh cinta pada pemikirannya, pada hatinya, pada jiwanya, pada ruhnya. Ah sudah kubilangkan, ini terdengar sangat tidak masuk akal sama sekali.

Sejujurnya aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya memenangkan hatinya. Atau setidaknya menarik dia agar menoleh padaku. Maksudku supaya dia mau memandangku dari sekedar teman bicara. Kalo sudah begini bagaimanalah.. aku selalu menemukan hal yang menjadikan aku dan dia tidak sepadan. Seperti dia yang dari keluarga berada, sedangkan aku tidak. Atau dia yang telah mendapat gelar magister dan sedang akan melanjutkan studinya untuk meraih gelar doktor, sedangkan aku sarjanapun masih jauh misalnya. Walaupun dulu dia pernah bilang kalau dia tidak memandang strata sosial dan sejenisnya, tetap saja setiap orang tua selalu ingin anaknya mendapatkan pendamping yang baik. Dan, sayangnya, aku lagi-lagi bukanlah yang terbaik dari yang terbaik. Aku bukan sesosok wanita yang pandangannya meneduhkan, atau senyumannya yang menyejukkan, atau kata-katanya yang mendamaikan, atau sejenis kriteria menantu idaman. Apalagi aku bahkan bukan dari keluarga santri yang memiliki pengtahuan yang dalam seperti halnya dia yang dari kecil sampai dia sedewasa sekarang berkecipung di dunia yang penuh dengan ilmu agama. Haha, bukankah aku begitu naif sekali jika aku sungguh tak tau diri meminta dia untuk menjadi pemimpinku? Konyol. Kali ini sungguh konyol sekali. Bayangkan, calonku, atau lebih tepatnya mantan calonku dulu yang tidak sealim itu saja ibukknya tidak setuju dia menikah denganku dikarenakan oleh suatu musabab yang aku tidak tau pasti (tapi kupikir tidak jauh-jauh dari masalah strata sosial, dan attitude atau lebih gampangnya sebut saja dengan bibit bebet bobot), dan sekarang aku dengan sangat tidak tahu diri meminta dia yang dari keluarga dengan tingkat strata sosial jauh diatasku untuk menjadi pendampingku? Entahlah.. keberanian macam apa yang tengah merasuki alam pikiranku dan perlahan menguasai diriku.

Tapi aku mencintainya. Itu nyata. Senyata kulit yang menyelubungi tubuhku hingga saat ini. Bukan karna strata sosialnya. Bukan pula karna gelarnya. Tapi karna aku jatuh cinta dengan cara dia memandang segala hal dari sudut pandang yang berbeda yang selalu bisa mendekatkan diriku dengan Tuhan. Dan aku, demi hal yang sebaik itu ingin suatu hari anakku tumbuh berkembang bersama seorang ayah yang mampu mengajarinya dan supaya dia bisa lebih bijak dalam menyikapi apa-apa, just the way he is. Salah kah? Entah.

Aku tidak tahu apakah dia orangnya. Aku juga tidak tau apakah dia merasakan hal yang sama (yang kurasa tidak mungkin). Yang aku tahu adalah aku merasa seperti bersama seseorang yang bersamanya aku menjadi diriku yang lebih baik. Itu saja. Aku juga sama sekali tidak bisa menerka-nerka apakah Tuhan akan mengabulkan permintaanku untuk disandingkan dengannya atau tidak. Aku hanya.. ingin.. menceritakan tentang dia dihadapan Dia yang Maha Agung, Tuhan Raja di raja. Bahwa kurasa aku telah menemukan dia yang kelembutannya mampu menarikku dari lubang ketidaktahuanku. Yang kebaikan hatinya mampu menuntunku untuk lebih dekat dengan Tuhanku. walaupun tentu saja, apakah dia baik atau buruk untukku tetap saja itu mutlak keputusan Tuhan. But.. i just want to talk to Allah about him aniway..

Jadi, pertanyaannya adalah, apakah aku siap patah hati lagi? Iya, patah. Bukankah harapan selalu beriringan dengan kekecewaan? Bukankah selalu begitu? Apalagi situasi ini jauh lebih beresiko daripada harapanku yang terakhir lalu. Berkali-kali lipat lebih beresiko karna jarak yang membentang dan segala tetek bengek perbedaan yang terhampar diantara kita juga berkali-kali lipat lebih luas sejauh mata memandang. Kita jelas 2 orang dengan 2 latar belakang yang berbeda, bahasa berbeda, budaya berbeda, strata sosial berbeda, suku yang berbeda, dan masih banyak hal lain yang membedakan kita berdua. Tapi aku cinta. Aku tetap cinta. Cinta dengan jiwanya. Cinta dengan ruhnya. Apakah itu salah? Entah.

Atau sebenarnya rasa cinta itu hanyalah buah dari akal-akalanku saja? Karna nyatanya Tidak ada debar yang membuatku sesak nafas, tidak ada semacam desiran yang menggelitik, tidak ada semacam kehangatan yang mengalir, dan perasaaan berbunga-bunga setiap kali kita menjalin komunikasi atau sejenisnya. Yang ada hanyalah aku merasa menjadi versi diriku yang lebih baik setiap aku berbincang dengannya. lalu bagaimana jika seandainya dia tidak memandang segala sesuatu dengan cara seperti yang ku sukai saat ini, bagaimana jka seandainya dia tidak bisa menuntunku untuk bisa memandang dengan sudut pandang yang baru seperti yang ku kagumi saat ini, apakah aku tetap cinta? Entah juga. .lagi pula  Memangnya cinta itu seperti apa? Tidak tau. lalu bagaimana mungkin aku dengan pedenya bilang bahwa aku cinta? Nah, itu masalahnya. Aku sebenarnya juga tidak terlalu tau nama dari yang mewakili apa yang kurasakan kepadanya saat ini. Dan, untuk lebih memudahkannya aku comot saja dengan sebutan cinta. Tapi apa kah dengan kesembronoanku main comot tersebut menjadikan perasaan itu menjadi benar-benar cinta atau setidaknya menjadi sesuatu berdefinisi cinta? Jawabannya lagi-lagi tidak tau. jika cinta artinya kau mengagumi  jiwa seseorang dan bukan fisiknya berarti apa yang kurasakan memang cinta. Jika cinta artinya kau rela dengan senang hati begadang sampai malam menunggu dia menelponmu hanya untuk sepatah dua patah yang keluar kikuk dari mulut kalian berdua, atau kesunyian canggung setelah sapa basa-basi diantara kalian berarti apa yang kurasa itu juga cinta.  Pembahasan ini, pembahasan tentang cinta dan sejenisnya ini, bagiku, semakin diselami semakin blur. Grey. Tidak jelas makna yang sesungguhnya karna nyatanya dia memiliki ranah pemahaman yang lebih luas dan lebih dalam dari sebatas memberi dan menerima. Lebih luas dari padang pasir sahara ataupun gurun kutub antartika, lebih luas dari samudra pasifik, lebih dalam dari palung marina di dasar barat laut samudra pasifik, dan tentu saja, lebih dalam dari letak jiwamu yang tersembunyi jauh dilubuk bening matamu.

Jadi, begitulah.. aku lagi-lagi masih tidak tau akan berending seperti apa perasaanku kali ini. Apakah akan kembali jatuh berserakan, berhamburan seperti butiran pasir yang tertiup angin, seperti jejak kaki yang tersapu ombak. Atau malah akan seperti karang yang tak terhempas oleh ombak, seperti rumput yang tak kan tumbang oleh topan.

Aku menyadari bahwa sampai sekarangpun aku tetaplah badai yang bagaimanapun orang-orang tak akan pernah bisa berdekatan tanpa membuatnya terluka. Pertanyaannya sekarang adalah, adakah sesuatu yang bisa bersahabat dengan badai? Menenangkan kekacauannya, Berdekatan dengannya, atau hanya sekedar berada disekitarnya tanpa terluka? Lagi-lagi aku masih tidak tau jawabannya.

 

Selasa, 15 agustus 2017

2.47 pm

Semesta imajiku.

  • view 64