Cerita Hujan

Sara Loko
Karya Sara Loko Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 Mei 2016
Cerita Hujan

Musim berganti. Inilah  saatnya aku melakukan tugasku. Kupandang sejenak jalan yang akan ku lewati. Jalan yang telah ditentukan Tuhan untuk ku lalui. Aku berharap tak akan ada yang mengutukku  dan merasa dirugikan lagi karena pekerjaanku. Karena bagaimanapun, Ini adalah tugas mutlak yang harus kukerjakan tanpa bisa dibantah. Lagi pula siapa aku? Aku hanyalah makhluk-Nya yang tak akan pernah pantas membantah sekalipun atas apa yang telah diperintahkan kepada-Nya. Aku tak berhak mengubah apa yang telah digariskan oleh-Nya. Lagipula apa sih susahnya melaksanakan apa saja yang telah direncanakan tanpa ikut pusing menjadwalnya?

Aku memberi tanda kepada orang-orang akan kedatanganku. Ku harap mereka sudah membuat  rencana untuk menyambut ku. Agar tak terdengar gerutu dari mulut hati yang kecewa. Ku hembuskan nafasku yang dingin. Cukup untuk menggoyangkan dahan-dahan pohon di tepi-tepi jalan. Butuh berbulan bulan mengembara untuk menyelesaikan tugasku agar bisa selesai sampai waktu yang telah ditentukan. Selesai? Sebenarnya tugasku tak pernah bisa dibilang benar-benar selesai. Karna kerjaku adalah mengembara dari satu tempat ketempat lain. Begitu seterusnya dan tak akan pernah berhenti.. Sering kali aku merasa sedih karna meskipun ada beberapa orang yang mengharapkan  kedatangan ku tetapi lebih banyak yang benci bahkan mengutukku. Hemm.. memang tak pernah ada yang benar-benar mengerti aku. Hanya Tuhan yang mengerti karna memang Dialah yang menciptakanku. Tapi tak apalah, Suka ataupun tidak aku akan tetap datang kepada mereka.

Perlahan aku mulai melangkah diiringi dengan jatuhnya butiran permata yang langsung pecah begitu menyentuh tanah. Begitu seterusnya semakin cepat aku melangkah semakin banyak butiran permata yang jatuh berguguran dan tercecer ditanah. Dan seperti biasanya, pemandangan yang tak pernah lepas dan selalu seperti itu setiap kali aku melewati orang-orang. Bahwa mereka akan segera menyingkir, menepi. Beberapa diantaranya malah ada yang menatapku sinis, atau mendengus kesal. Ku hela nafas dalam-dalam. Mau tak mau aku memang harus menerima resikonya. Memasang muka tak peduli terhadap apapun tanggapan mereka. Meskipun sebenarnya aku tak tega. Karena kedatanganku menggagalkan rencana beberapa orang dari mereka. Tapi toh hidup ini kan tidak hanya untuk mereka saja bukan? Masih ada makhluk lain yang tak pernah berkomentar apapun tentang aku. Sering kali mereka malah menyambutku dengan senyuman tulusnya disertai tarian yagn indah. Ah, Betapa Indahnya.

  • view 274