LGBT; Bertabur “Hujatan Tak Bermoral”, dimana Negara?

Cahyono Ananta Toer
Karya Cahyono Ananta Toer Kategori Sejarah
dipublikasikan 02 Maret 2016
LGBT; Bertabur “Hujatan Tak Bermoral”, dimana Negara?

Belakangan ini, isu pelecehan terhadap anak hingga LGBT pun mencuat dalam tanda tudingan ?tak bermoral?. Lagi-lagi hukum sosial yang dianggap sebagai kebenaran mayoritas dalam lingkungan tertentu, menjadi sasaran alternatif untuk ?menghujat? kaum minoritas. Juga demikian, perbincangan LGBT perspektif komisi para anarkis Indonesia (KPAI) pun membenarkan bahwa itu perilaku ?kelainan jiwa? laiknya episode dunia lain ala mr. Tokol.

Saya sepakat, dalam hal ini bahwa bagi masyarakat awam hampir menganggap LGBT merupakan perilaku yang ?aneh? barangkali tidak seluruhnya. Namun, sedini mungkin sepertinya kita dituntut untuk menyampaikan bahwa perilaku itu tak ada unsur keanehan sedikitpun. Kita harus membedakannya dua sisi yang dikleim masuk dalam aturan hukum agama misalnya. Antara orientasi seksual dan orientasi pada sebuah ikatan pernikahan itu berbanding jauh. Ketika hal ini dipaksakan dalam satu kesatuan yang mengikat, secara definitif sangat sempit.

Sekali lagi, negara dalam penetapan hukum tentu dibutuhkan kejelian antara mana yang ranah hukum publik dan privat individual. Kita berkaca pada sejarah HAM, dimana LGBT memiliki perlindungan HAM universal. Organisasi kesehatan dunia (WHO) PBB pada 17 Mei 1990 sudah mengambil posisi bahwa, dengan dilandasi sejumlah pertimbangan penting yang diuraikan dalam sebuah kertas kerja Komisi HAM (HRC) PBB tanggal 24 September, Komisi HAM PBB ini akhirnya memutuskan untuk mendukung dan mengakui sepenuhnya HAM kaum LGBT sebagai bagian dari ?HAM universal?.

Pada dasarnya, perbincangan LGBT ini serasa tidak akan pernah habisnya. Maka yang harus dipahami bahwa LGBT berbahaya bukan karena bentuk dan efeknya, namun karena penyalahgunaannya. Suatu orientasi seks, baik yang hetero, bisek, trans dan sejenisnya. Artinya, jika dilakukan dengan sesuai kadar dan dosis yang tepat, LGBT tidak memberikan efek yang buruk.

  • view 255